Anak-anak ADHD dan Ayah-Ayah Mereka

Boys With ADHD and Their Dads

By Anita M. Schimizzi, Ph.D. On December 14, 2011 ·

A couple of months ago, I wrote about a study that looked at moms and children with ADHD.  Some readers responded with wanting more information on the role of dads in their child’s ADHD.  Well, I found an article in the Journal of Abnormal Child Psychology that studied dads and looked at the impact that their early relationships with their children have on later ADHD symptoms.  And, yes, the study suggests that the early father-child relationship does indeed seem to be related to middle-childhood ADHD symptoms.  (The study looked at the maternal role also, but I am going to focus on the paternal role here.  The citation is below if you’d like to read the whole study.)

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang sebuah penelitian mengenai ibu dan anak-anak mereka yang mengalami gangguan ADHD. Sejumlah pembaca merespon dengan meminta informasi lebih tentang peran ayah terhadap anak-anak mereka yang mengalami ADHD. Baik, saya menemukan sebuah artikel dalam Jurnal Psikologi Abnormal Anak yang mempelajari tentang ayah dan pengaruh hubungan awal mereka dengan anak-anak yang menunjukkan gejala ADHD. Dan, benarlah, penelitian ini menyatakan bahwa hubungan awal ayah dan anak tampak benar-benar berhubungan dengan gejala ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak. (Penelitian juga memperhatikan peran ibu, namun saya hanya fokus pada peran ayah yang ada dalam artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui seluruh isi penelitian, silahkan membaca kutipan penelitian berikut).

The study took place in New Zealand and included 93 preschool boys that were placed in a “hyperactive” group, control group, or in another comparison group where symptoms were present but less severe and, thus, gave the researcher the ability to look at a wide range of ADHD symptoms.  According to the author, only boys were included both because of logistics and because they tend to have more observable behaviors linked to ADHD than girls.  Eighty-nine fathers participated.  Data was collected using parent observations, interviews, and questionnaires, as well as teacher questionnaires.  The study spanned three years, starting when the boys were an average of four years-old.   A second round of data was collected two and a half years later when the boys were an average age of seven.

Penelitian tersebut dilaksanakan di New Zealand dan melibatkan 93 bocah laki-laki pra sekolah yang dikelompokkan dalam kelompok ‘hiperaktif’, kelompok kontrol, atau dalam kelompok pembanding lain dimana mereka menunjukkan gejala ADHD yang tergolong rendah dan, jadi, memberi peneliti kesanggupan untuk melihat rentang yang luas dari gejala ADHD. Berdasarkan penjelasan penulis, hanya anak laki-laki yang dilibatkan dalam kedua kelompok tersebut karena alasan logistik dan karena mereka cenderung lebih mudah diobservasi berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Delapan puluh satu ayah terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi orang tua, wawancara, dan kuisioner,  seperti kuisioner yang diberikan guru. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 3 tahun, dimulai saat anak-anak tersebut berusia sekitar 4 tahun. Pengambilan data kedua dilakukan sekitar dua setengah tahun kemudian saat anak-anak tersebut berusia sekitar 7 tahun.

The author, Louise Keown, looked at three areas of paternal responsiveness (sensitivity (e.g., being tuned into the son’s needs), intrusiveness (e.g., controlling son’s play), and positive regard (e.g., warmth and affection toward son)) and the presence of later ADHD symptoms.  The results took into account early ADHD and behavior problems.  In other words, the results looked at how fathers’ parenting impacted middle childhood ADHD above and beyond preschool problems in this area.

Penulis, Louise Keown, menekankan pada tiga area kemampuan reaksi dari ayah ‘paternal responsiveness’ (sensitivitas (seperti menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak laki-lakinya), intrusiveness (seperti mengontrol permainan anak), dan penghargaan yang positif (seperti, kehangatan dan perasaan pada anak laki-lakinya)) dan gejala ADHD yang muncul kemudian. Hasil dimasukkan dalam laporan ADHD awal dan gangguan perilaku. Dengan kata lain, hasilnya menunjukkan bagaimana pengasuhan ayah mempengaruhi ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak setelah dan sebelum pra sekolah di daerah ini.

Here’s what the study found.  Fathers that were characterized as more sensitive and less intrusive with their preschool sons had sons that were later found to be less hyperactive and impulsive at school, according to teachers, and more attentive at home, according to fathers.   Further, higher levels of paternal positive regard in early childhood were related to their sons showing lower levels of inattention at both home and school in middle childhood, according to teacher and maternal reports.

Berikut ini adalah penjabaran hasil penelitian. Ayah dengan karakteristik lebih sensitif dan kurang intrusive (mengganggu) anak-anak laki-laki mereka yang berusia pra sekolah memiliki anak laki-laki yang kemudian diketahui kurang hiperaktif  dan impulsif di sekolah, menurut guru, dan lebih hiperaktif di rumah, menurut ayah. Selanjutnya, tingkat perhargaan positif yang tinggi dari ayah pada masa awal anak-anak berkaitan dengan anak mereka dengan menunjukkan tingkat tingkat ketidak perhatian ‘inattention’ yang rendah baik dirumah dan di sekolah pada masa awal anak-anak, menurut laporan  guru dan ibu.

In her discussion of the findings, Keown discusses the importance of fathers learning how to sync up with their sons to give them what they need in any given moment.  For example, a son that gets frustrated and angry with trying to build a block tower that keeps tumbling down will likely have a different response to a father that reprimands him for the outburst as opposed to validating the son’s emotions (e.g., “Wow!  It’s so frustrating when you try to build a tower that keeps falling down.”).  Another example could be a preschooler that starts running around like a maniac at a birthday party because he is over-stimulated and rather than giving him some time and space away from the chaos to get settled again, his father tells him to slow down.  While the cues may be subtle, it is important to learn how to read them.

Dalam pembahasanya mengenai hasil penelitian, Keown menjelaskan pentingnya ayah belajar tentang bagaimana mereka selaras dengan anak laki-laki mereka dalam memberikan mereka apa yang mereka inginkan di setiap kesempatan. Contohnya, seorang anak yang menjadi frustasi dan marah saat membangun menara balok yang tetap runtuh akan memiliki kemungkinan besar memiliki suatu respon yang berbeda pada seorang ayah yang menegur dirinya terhadap ledakan sebagai pertentangan untuk membenarkan emosi anaknya (seperti, “Wow! Sungguh menyebalkan saat kamu berusaha membangun menara yang tetap runtuh.”). Contoh lain, seorang anak prasekolah yang mulai berlarian kesana-kemari seperti seorang maniak saat pesta ulang tahun karena ia terlalu terstimulir dan dibanding memberi mereka waktu dan ruang bagi anak dari kekacauan yang sedang dibuat untuk memulihkan diri, ayahnya malah menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun isyarat yang diberikan tidak begitu jelas, ini merupakan hal yang penting untuk mempelajari gejala-gejala tersebut.

Keown also discusses the finding of paternal intrusiveness and hyperactivity-impulsivity at school.  She argues that fathers that disrupt their son’s activities and limit the amount of control that sons have over play may also be limiting their opportunity to learn how to self-regulate their behaviors.  In other words, sons that are controlled by an outside force may not learn to control themselves from within.

Keown juga membahas hasil penelitian mengenai paternal intrusiveness dan perilaku hiperaktif kompulsif di sekolah. Dia sangat menganjurkan bahwa ayah yang mengganggu aktifitas anak mereka dan membatasi anak-anak mereka dalam bermain juga akan membatasi kesempatan anak mereka untuk belajar melakukan self-regulasi terhadap perilaku mereka. Dengan kata lain, anak-anak yang dikontrol oleh tekanan dari luar diri mereka tidak akan bisa belajar untuk mengontrol perilaku mereka sendiri.

Last month, I posted on mindful parenting.  The results of the current study can also be applied to this concept.  When dads can step away from their agenda and allow a child’s activity to unfold, supporting them as necessary, it sends the message that the child’s desires are important and that there is a safety net in place when they need it.  Also, nothing can replace the important father-child interaction in a given activity.  The kind where you work together in a rhythm that feels good to both parties. Not only can this be a rewarding way to spend time with your child, but it can also be an opportunity for learning more about your child’s cues and how to meet him where he is.

Bulan lalu, saya menerbitkan di mindful parenting. Hasil dari penelitian tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konsep ini. Saat ayah dapat mengesampingkan agenda mereka dan beraktifitas dengan anak, mendukung mereka sebagaimana seharusnya, ini memberikan pesan bahwa keinginan anak-anak adalah suatu yang penting dan ada tempat yang aman saat mereka membutuhkannya. Dan juga, tidak ada yang dapat menggantikan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam aktifitas beri memberi. Semacam bekerja sama dalam satu keselarasan sehingga merasa senang untuk kedua belah pihak. Tidak hanya dapat ini menjadi cara untuk menghargai anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, namun ini juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang isyarat anak ADHD dan bagaimana menemukan mereka dimana mereka berada.

This post is certainly not meant to criticize fathers.  On the contrary, I hope that fathers will recognize the importance of their relationship with their sons (and daughters!) and find the information to be useful.  Additionally, it is hoped that parenting partners and professionals can support fathers in their relationships with their kids in a way that reduces the chances of heightened ADHD symptoms in middle childhood and beyond.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi para ayah. Namun sebaliknya, saya berharap para akan mengenali pentingnya hubungan mereka dengan anak-anaknya dan mencari informasi yang bermanfaat. Apalagi, pengasuh dan ahli profesional diharapkan dapat mendukung para ayah dalam hubungan mereka dengan anak-anaknya sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk memuncaknya gejala ADHD di pertengahan masa kanak-kanak dan sebelumnya.

Thanks for reading!  -Anita

Source: Keown LJ (2011). Predictors of Boys’ ADHD Symptoms from Early to Middle Childhood: The Role of Father-Child and Mother-Child Interactions. Journal of abnormal child psychology PMID: 22038253

Pasted from <http://www.child-psych.org/2011/12/boys-with-adhd-and-their-dads.html>

Advertisements

Some boys with autism have larger brains: study

Penelitian : Sejumlah anak laki-laki autis memiliki ukuran otak yang lebih besar

Abnormal brain growth starting at four months of age occurs in a type of autism in which toddlers lose language and social skills they once had, according to a US study published Monday.

Pertumbuhan otak yang abnormal yang dimulai pada usia empat bulan muncul pada beberapa tipe autis dengan karakter balita kehilangan kemampuan berbahasa dan sosial yang pernah mereka miliki, berdasarkan US study published Monday.

The brains of boys with regressive autism grew six percent larger than typically developing counterparts and toddlers who showed signs of autism early in life, a form called early onset autism.

Otak anak laki-laki yang mengalami autis regresif berkembang enam persen lebih besar dibandingkan dengan anak dengan perkembangan khusu yang telah menunjukkan gejala autis pada usia awal, suatu bentuk yang disebut early onset autism.

The research, involving 180 subjects and described as the “largest study of brain development in preschoolers with autism to date,” also found no evidence of a brain growth spurt in girls with autism.

“This adds to the growing evidence that there are multiple biological subtypes of autism, with different neurobiological underpinnings,” said co-author David Amaral, research director of the MIND Institute at University of California, Davis.

Suatu penelitian, yang melibatkan 180 sampel dan mengangkat tema ‘penelitian terbesar mengenai perkembangan otak pada anak pra sekolah yang mengalami autis,’ juga menemukan bahwa tidak ada bukti pertambahan pertumbuhan otak pada anak perempuan yang mengalami autis.

“Informasi ini menambahkan perkembangan bukti bahwa terdapat banyak subtipe biologis dari autis, dengan perbedaan neurobiologis sebagai penyokongnya,’ kata co-author David Amaral, direktur peneliti dari MIND Institute di Universitas California, Davis.

Autism includes a wide spectrum of developmental differences and may range from mild social awkwardness to complete inability to communicate, repetitive movements, sensitivity to certain lights and sounds, and behavioral problems.

Autis meliputi suatu spectrum yang luas dari perbedaan perkembangan dan dapat direntang dari kekakuan sosial ringan hingga tidak adanya kemampuan untuk berkomunikasi, mengulangi gerakan, sensitifitas pada cahaya dan suara, dan masalah perilaku.

As many as one in 110 children is diagnosed with autism, though its cause remains a mystery. The disorder is more common in boys than girls by a factor of four to one.

Sebanyak 1 dari 110 anak didiagnosa mengalami autis, meskipun ini masih menyisakan misteri. Gangguan lebih umum ditampakkan anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan karena satu faktor dari empat hingga satu.

Previous studies have suggested that clinical signs of autism tend to coincide with a period of abnormal brain and head growth that becomes apparent between the ninth and 18th month of life.

Penelitian sebelumnya telah mengusulkan bahwa gejala klinis dari autis cenderung bersamaan dengan suatu periode abnormal pada perkembangan otak dan kepala yang tampak jelas antara usia 9 dan 18 bulan.

However this study, published in the Proceedings of the National Academy of Sciences issue of November 29, is the first to show a difference in brain size between toddler boys with regressive versus early onset autism.

Walaupun penelitian ini, yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences tanggal 29 November, ini merupakan yang pertama menunjukkan perbedaan ukuran otak antara anak laki-laki yang mengalami autis regresif  dibandingkan early onset autism.

“The finding that boys with regressive autism show a different form of neuropathology than boys with early onset autism is novel,” said lead author Christine Wu Nordahl, a researcher at the MIND Institute.

“Penemuan bahwa anak laki-laki dengan autis regresif menunjukkan suatu perbedaan bentuk neuropatologi dibandingkan dengan anak laki-laki dengan early onset autism adalah novel,” kata pimpinan penulis Christine Wu Nordahl, seorang peneliti di MIND Institute.

“Moreover, when we evaluated girls with autism separately from boys, we found that no girls — regardless of whether they had early onset or regressive autism — had abnormal brain growth.”

“Selain itu, saat kami memeriksan anak perempuan dengan autis yang berbeda dengan anak laki-laki, kami menemukan bahwa tidak ada anak perempuan -tanpa memperhatikan mereka mengalami autis early onset atau regresif- yang mengalami pertumbuhan otak abnormal.

The findings showed that boys with regressive autism had a “pronounced increase” in head circumference beginning as early as four months of age and lasting through 19 months.

Penemuan penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki dengan autis regresif memiliki suatu ‘pronounced increase’ dalam lingkaran kepala awal mulai dari usia 4 bulan hingga usia 19 bulan.

The data was based on head circumference measurements taken from pediatric well-baby visits from birth through 18 months, and magnetic resonance imaging (MRI) scans done on all 180 participants at age three.

Data pengukuran lingkaran kepala diambil dari kunjungan kesejahteraan pediatrik bayi dari lahir hingga usia 18 bulan, dan hasil scan ‘magnetic resonance imaging’ (MRI) yang dilakukan pada 180 sampel pada usia 3 tahun.

The authors noted that the study was limited because it relied upon parental reports of when the children’s autism began to appear.

Penulis mencatat bahwa penelitian tersebut terbatas karena data yang diperoleh hanya berdasarkan laporan orang tua saat anak autis mulai menunjukkan gejala.

Previous research has “pointed out significant complexities in defining and measuring the onset of autism symptoms,” with as many as 45 percent of kids in one study showing signs of autism on video that were not reported by parents.

Penelitian sebelumnya yang ‘menunjukkan kompleksitas yang signifikan dalam mendefinisikan dan mengukur permulaan gangguan autis,’ dengan sekitar 45% anak-anak dalam satu penelitian menunjukkan gejala autis dalam rekaman video yang tidak dilaporkan orang tua.

“The major finding of this study is that a subset of boys with regressive autism have normal head circumference at birth, which diverges from normality around four to six months of age, well before any loss of skills were documented,” said the study, calling for more research.

“Penemuan terbesar dari penelitian ini adalah bahwa sejumlah anak yang mengalami autis regresif memiliki lingkaran kepala yang normal saat lahir, yang mana penyimpangan dari kondisi normal sekitar empat hingga 6 bulan, sebelum sejumlah kemampuan yang hilang direkam,” berdasarkan penelitian tersebut, yang memerlukan pendapar sejumlah peneliti lagi.

“Thus, rapid head growth beginning around four-six months of age may be a risk factor for future loss of skills.”

“Jadi, pertumbuhan kepala awal yang cepat pada usia 4-6 bulan dapat menjadi faktor resiko terhadap kehilangan kemampuan dimasa depan.”

Pasted from <http://news.yahoo.com/boys-autism-larger-brains-study-203743747.html>

Fatherhood Helps Men Break Bad Habits (Peran Ayah Membantu Merubah Perilaku Buruk Laki-laki)

Becoming a father can help men break some nasty habits.

Menjadi seorang ayah dapat membantu laki-laki mnghilangkan sejumlah perilaku buruk.

A new long-term study in the Journal of Marriage and Family found significant decreases in crime, tobacco and alcohol use after men became fathers for the first time.

Sebuah penelitian jangka panjang dalam ‘Journal of Marriage and Family menemukan penurunan signifikan tingkat kriminal, penggunaan rokok dan alkohol setelah seorang laki-laki menjadi seorang ayah untuk pertama kali.

The 19-year study involved more than 200 males, between the ages of 12 to 31, who lived  in neighborhoods with higher-than-average rates of juvenile delinquency.

Penelitian selama 19 tahun tersebut dilakukan pada 200 laki-laki, yang berusia mulai dari 12 hingga 31 tahun, mereka tinggal di lingkungan dengan rata-rata tingkat kekerasan yang tinggi.

Researchers wanted to see how the subjects’ criminal behavior changed as they moved through adolescence into adulthood. The study also assessed how the men’s tobacco, alcohol and marijuana use evolved over that same period.

Para peneliti ingin melihat bagaimana perilaku pelaku kriminal berubah seiring mereka beranjak dari masa remaja ke masa dewasa. Penelitian juga meneliti bagaimana laki-laki pecandu rokok, aklohol dan ganja berkembang pada periode tersebut.

“These decreases were in addition to the general tendency of boys to engage less in these types of behaviors as they approach and enter adulthood,” says study lead author David Kerr, an assistant professor of psychology at Oregon State University.

“Penurunan ini merupakan tambahan terhadap kecenderungan umum remaja laki-laki berhubungan dengan tipe-tipe perilaku tersebut seiiring mereka memasuki masa dewasa,” kata pimpinan penelitian David Kerr, seorang asisten profesor Jurusan Psikologi Universitas Negeri Oregon.

Looking at the influences of peer pressure on anti-social behavior and substance abuse, Kerr says men tend to spend less time with their childless peers once they become fathers.

Melihat pengaruh dari tekanan kelompok terhadap perilaku anti sosial dan kekerasan, Kerr mengatakan bahwa laki-laki berusaha untuk menghabiskan sedikit waktu dengan kelompok yang tidak memiliki keturunan saat mereka menjadi seorang ayah.

They also devote more time to their immediate and extended families, possibly in church and community service, settings that are somewhat incompatible with behaviors like substance abuse and criminal behavior.

Mereka juga menyediakan waktu yang lebih banyak untuk pasangan dan keluarga besar, ikut kegiatan keagamaan dan komunitas sosial, lingkungan yang bertolak belakang dengan perilaku seperti tindak kekerasan dan perilaku kriminal.

However, not all first-time fathers are pushed into making a change. Instead, they want to change or are drawn into taking positive steps to become a better person.

Walaupun, tidak semua ayah yang akan menjadi ayah untuk pertama kalinya terdorong untuk melakukan perubahan. Malahan, mereka ingin untuk berubah atau begitu tertarik untuk melakukan langkah yang positif untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

For example, Kerr says many men may be drawn to fatherhood as a demonstration of masculinity, which shows they can protect and provide for their families.

Contohnya, Kerr mengatakan laki-laki mungkin benar-benar memainkan peran sebagi seorang ayah untuk menunjukkan sifat maskulinnya, yang menunjukkan mereka dapat melindungi dan ada untuk keluarganya.

Men who were in their late 20s and early 30s when they became fathers showed greater decreases in crime and alcohol use as compared to those who had their first child much earlier, like in their teens or early 20s.

Laki-laki menjelang usia 20 atau baru memasuki usia 30 tahun ketika mereka menjadi seorang ayah menunjukkan penurunan yang besar dalam hal tindakan kriminal dan penggunaan alkohol dibandingkan dengan mereka yang menjadi seorang ayah pada usia yang lebih muda, seperti remaja atau laki-laki yang baru memasuki usia 20 tahun.

Kerr says that could be because men who had children later might have been more able or willing to embrace fatherhood and shed negative lifestyle choices.

Kerr mengatakan hal itu dapat disebabkan karena laki-laki yang memperolah anak pada usia yang lebih tua lebih mampu atau mau untuk melakukan peran seorang ayah dan menahan pilihan hidup yang negatif.

“This research suggests that fatherhood can be a transformative experience, even for men engaging in high risk behavior,”  Kerr says, adding that new fathers might be especially willing and ready to hear a more positive message and make behavioral changes.

Penelitian ini menyarankan bahwa peran seorang ayah dapat menjadi pengalaman trnformatif (perubahan), juga bagi laki-laki dengan perilaku yang sangat buruk sekalipun,” Kerr mengatakan , ia menambhkan bahwa seseorang yang baru menjadi ayah barangkali memiliki keinginan istimewa dan siap untuk mendengarkan masukan positif dan melakukan perubahan perilaku.

Pasted from <http://blogs.voanews.com/science-world/2011/11/18/fatherhood-helps-men-break-bad-habits/>

Austim Bisa jadi adalah Kelebihan, Bukan Gangguan

Lara Salahi

Nov 2, 2011 3:25pm

For Some, Autism Considered Strength, Not Disorder

Of all the famed names in autism, Temple Grandin is perhaps one of the quickest to come to mind.

Grandin, who was diagnosed with autism in 1950, didn’t speak until she was about 4 years old. At the time, the definition of autism seemed clearer cut than it is today. Looking back, many experts would say she exhibited classic signs of the disorder. But the spectrum of the disorder has grown wider since then. Grandin has arguably landed so far on one end of the spectrum that it could be hard to see what the other side of autism looks like.

Dari semua nama yang terkenal dalam ‘Autisme’, Temple Grandin adalah salah satu yang paling cepat diingat. Grandin, adalah seseorang didiagnosa mengalami autisme pada tahun 1950, tidak pernah berbicara sampai ia berusia 4 tahun. Pada saat itu, pengertian autisme tampak belum sejelas sekarang. Jika melihat ke belakang, banyak para ahli berkata bahwa Grandin menunjukkan tanda klasik dari gangguan tersebut. Namun spektrum gangguan telah berkembang lebih luas lagi. Grandin berada pada akhir spektrum yang mudah dibantahkan untuk dikatakan gangguan autisme seperti apa dia.

About 1 in 110 children are diagnosed with autism spectrum disorder, characterized by problems in social interaction and communication, and delayed and repetitive behavior. Unlike Grandin, many will not be able to develop the necessary skills to speak, or hold a stable job. Many remain dependent on caregivers for the rest of their lives.

Sekitar 1 dari 110 anak yang didiagnosa mengalami gangguan spektrum autisme, ditandai dengan permasalahan dalam interaksi sosial dan komunikasi, dan adanya keterlambatan dan pengulangan perilaku. Tidak seperti Grandin, banyak anak mungkin tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk berbicara, atau melakukan pekerjaan dengan baik. Banyak anak tetap tergantung dengan perawat sepanjang hidupnya.

These stark differences have prompted many researchers to suggest that autism should not be grouped under one diagnosis, but in fact, should be labeled as different conditions.

Perbedaan ini telah mendorong banyan peneliti untuk menyarankan bahwa autisme seharusnya tidak dikelompokkan hanya pada satu diagnosis, karena pada kenyataannya, dapat berada pada kondisi yang berbeda.

“Research is starting to show us that there is not just one pathway that makes it necessary for the condition to be called autism,” said Dr. Lori Warner, director for the HOPE Center for Autism at Beaumont Children’s Hospital in Royal Oak, Mich.

“Penelitian mulai menunjukkan kepada kita bahwa tidak hanya satu jalan untuk menyatakan suatu kondisi disebut sebagai autisme,” kata Dr. Lori Warner, direktur HOPE Center bagian Autisme di Rumah Sakit Beaumont Children di Royal Oak, Mich.

“The core features are still there. How it’s manifested is different,” said Warner.

“Intinya masih disana. Bagaimana itu ditunjukkan akan berbeda satu dengan yang lainnya,” kata Warner.

And because of this, Warner said the seemingly different way the condition is displayed is better off staying grouped as ‘autism.’

Dan karena ini, Warner berkata cara yang tampak berbeda bahwa kondisinya lebih baik dalam grup sebagai ‘autisme’.

In fact, the DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) seems to be moving away from differentiating autism any further. Some experts say that for those who function well, autism should not be considered a disability or a disorder.

Pada kenyataannya, DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) tampak menjauh dari  pembedaan autisme selanjutnya. Beberapa ahli mengatakan bahwa untuk mereka yang masih bisa melakukan beberapa kegiatan dengan baik, autisme tidak dapat dikatakan sebagai cacat atau gangguan.

Instead, in some cases, the condition could serve as an advantage. Grandin went on to earn a doctoral degree and her redesign of livestock handling equipment became the standard for many cattle plants across the U.S. and Canada. Grandin then became a best-selling author and speaker.

Malah, dalam sejumlah kasus, kondisi anak dapat dikatakan sebagai suatu kelebihan. Grandin bisa menyelesaikan tingkat doktoral dan merancang ulang peralatan kebutuhan hidupnya menjadi standar untuk sejumlah pangan ternak di Amerika dan Kanada. Grandin kemudian menjadi pembicara dan penulis terkenal.

In fact, Laurent Mottron, who holds the Marcel and Rolande Research Chair in Cognitive Neuroscience of Autism at the University of Montreal, directs eight members of his lab who are considered autistic.

“In certain settings, autistic individuals can fare extremely well,” wrote Mottron. “One such setting is scientific research.”

Pada kanyataannya, Laurent Mottron, Kepala Penelitian Marcel dan Rolande Bidang Cognitive Neuroscience of Autism di Universitas Montreal, menunjukkan langsung 8 anggota dari laboratoriumnya yang tertarik pada autistik. “Pada kondisi tertentu, individu autis dapat berbuat sangat baik,” tulis Mottron. “Salah satu kondisi itu adalah penelitian ilmiah.

Mottron doesn’t consider his lab members to be extraordinary workers, or savants, he wrote in an editorial published November in the journal Nature. But their strength in research has been a huge asset to his lab, he said.

Mottron tidak menganggap anggota laboratoriumny adalah pekerja luar biasa, atau orang yang terpelajar, ia menulis dalam sebuah editorial yang diterbitkan Bulan November di Jurnal ‘Nature.  Namun kekuatan mereka dalam penelitian merupakan aset yang besar untuk laboratoriumnya, tulisnya.

“Without question, autistic brains operate differently,” Mottron wrote in his editorial. He added that most autistics are better at detecting changing sounds, detecting visual structures, and manipulating 3D shapes. But, Warner cautioned against minimizing the limitations of their conditions.

“Tanpa bertanya, otak autis berkerja dengan cara berbeda,” Mottron menulis dalam editorialnya. Ia menambahkan bahwa sejumlah autistik memiliki kemampuan lebih dalam mendeteksi perubahan suara, mendeteksi struktur visual, dan memanipulasi bentuk 3D. Namun, Warner mengingatkan akan peminiman pembatasan kondisi mereka.

“If you put anyone in an environment where they can display their strengths, then of course they’ll thrive,” said Warner, who called for a “bigger picture” look at strengthening other life situations beyond the work environment.

“Jika anda meletakkan seseorang dalam lingkungan dimana mereka dapat menunjukkan kelebihannya, tentu mereka akan berkembang dengan pesat, ” kata Warner, seseorang yang dikenal dengan ‘bigger picture’ dalam melihat peguatan situasi hidup yang lain dalam dunia kerja.

“Just because they do well in one environment doesn’t mean their condition is not necessarily a disorder,” she said.

“Hanya karena mereka bekerja dengan baik dalam satu lingkungan bukan berarti kondisi mereka tidak sepenting orang yang mengalami gangguan,” katanya.

While autism, by definition, is marked by impaired communication, social and physical behavior, Mottron said research so far is hyper focused on the deficits of a person with autism, and how to treat them. Instead, the focus should be on developing their strengths and abilities, he said.

Walaupun autisme, berdasarkan definisi, dikenal dengan adanya kelemahan perilaku dalam komunikasi, sosial dan fisik,Mottron berkata bahwa penelitian terbaru terlalu berfokus pada kelemahan seseorang yang mengalami autisme, dan bagaimana cara menyembuhkan mereka. Seharusnya, fokus penelitian lebih ditekankan pada kelebihan dan kemampuan mereka, katanya.

“Too often, employers don’t realize what autistics are capable of, and assign them repetitive, almost menial tasks,” said Mottron. “But I believe that most are willing and capable of making sophisticated contributions to society, if they have the right environment.”

“Terlalu sering, para petugas tidak sadar tentang kemampuan orang yang autis, dan bertahan pada perilaku berulang mereka, hampir seperti tugas kasar,” kata Mottron. “Tetapi, saya percaya bahwa sejumlah besar mau dan mampu untuk membuat kontribusi yang terkemuka dalam masyarakat, jika mereka berada pada lingkungan yang tepat.

Pasted from <http://abcnews.go.com/blogs/health/2011/11/02/for-some-autism-considered-strength-not-disorder/>

‘Um’s’ dan ‘Uh’s’ Orang Tua Membantu Anak Mempelajari Kata-Kata Baru, Temuan Peneliti Kognitif

Parents’ ‘Um’s’ and ‘Uh’s’ Help Toddlers Learn New Words, Cognitive Scientists Find

ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — Sebuah tim peneliti kognitif memperoleh berita baik untuk orang tua yang mengkhawatirkan bahwa mereka  memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka saat berkata “um” and “uh.” Sebuah penelitian yang dilaksanakan di University of Rochester’s Baby Lab menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya menggunakan gumaman dan keraguan orang tua mereka (secara teknikal seperti ketidak lancaran berbicara) untuk membantu mereka mempelajari bahasa dengan lebih efisien.


ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — A team of cognitive scientists has good news for parents who are worried that they are setting a bad example for their children when they say “um” and “uh.” A study conducted at the University of Rochester’s Baby Lab shows that toddlers actually use their parents’ stumbles and hesitations (technically referred to as disfluencies) to help them learn language more efficiently.


Contohnya, saat anda berjalan di kebun binatang dengan anakmu yang berusia dua tahun dan anda berusaha mengajarinya nama-nama binatang. Anda menunjuk pada badak dan berkata, ‘”Lihat itu, uh, uh, Badak.” Ini selain anda meraba-raba kata yang benar, anda juga menunjukkan kepada anak anda bahwa anda mengajarkannya suatu hal baru, berdasarkan peneliti (??).

For instance, say you’re walking through the zoo with your two-year-old and you are trying to teach him animal names. You point to the rhinoceros and say, “Look at the, uh, uh, rhinoceros.” It turns out that as you are fumbling for the correct word, you are also sending your child a signal that you are about to teach him something new, so he should pay attention, according to the researchers.

Anak-anak mendapatkan banyak informasi untuk diproses saat mereka mendengar orang dewasa berbicara, termasuk banyak kata-kata yang telah mereka belum pernah peroleh sebelumnya. Jika otak seorang anak menunggu sampai sebuah kata baru diucapkan dan kemudian berusaha untuk membayangkan apakah artinya, ini menjadi sebuah tugas yang lebih sulit dan anak mudah salah untuk memahami kata selanjutnya, kata Richard Aslin, seorang profesor ilmu otak dan kognitif di University of Rochester dan seorang penulis.

Young kids have a lot of information to process while they listen to an adult speak, including many words that they have never heard before. If a child’s brain waits until a new word is spoken and then tries to figure out what it means after the fact, it becomes a much more difficult task and the child is apt to miss what comes next, says Richard Aslin, a professor of brain and cognitive sciences at the University of Rochester and one of the study’s authors.

“Semakin banyak prediksi yang dapat dibuat seorang pendengar tentang sesuatu yang akan dikomunikasikan, semakin efisien seorang pendengar untuk mengerti hal tersebut,” ujar Aslin.

“The more predictions a listener can make about what is being communicated, the more efficiently the listener can understand it,” Aslin said.

Penelitian, yang dilakukan oleh Celeste Kidd, seorang tamatan University Rochester, dan Katherine White, tamatan postdoctoral Rochester yang sekarang bekerja di University Waterloo, dan Aslin telah menerbitkan secara pada tanggal 14 April di the journal Developmental Science.

The study, which was conducted by Celeste Kidd, a graduate student at the University of Rochester, Katherine White, a former postdoctoral fellow at Rochester who is now at the University of Waterloo, and Aslin was published online April 14 in the journal Developmental Science.

Para peneliti mempelajari 3 kelompok anak yang berusia antara 18 dan 30 bulan. Setiap anak duduk di pangkuan orang tua mereka berhadapan dengan sebuah monitor dengan alat pelacak gerakan mata. Dua gambar muncul di layar: satu gambar benda yang biasa dijumpai (seperti sebuah bola atau sebuah buku) dan sebuah gambar baru dengan nama tertentu (seperti “dax” or  “gorp”). Sebuah suara rekaman disampaikan dengan bahasa yang sederhana tentang objek tersebut. Saat suara gumaman dan berkata “Lihat itu, uh…” anak secara instingtif melihat gambar baru tersebut lebih sering dibandingkan dengan objek yang biasa ia lihat (hampir mencapai 70 persen ).

The researchers studied three groups of children between the ages of 18 and 30 months. Each child sat on his or her parent’s lap in front of a monitor with an eye-tracking device. Two images appeared on the screen: one image of a familiar item (like a ball or a book) and one made-up image with a made-up name (like a “dax” or a “gorp”). A recorded voice talked about the objects with simple sentences. When the voice stumbled and said “Look at the, uh…” the child instinctively looked at the made-up image much more often than the familiar image (almost 70 percent of the time).

“Kami tidak menyarankan orang tua menambah kegagapan dalam berbicara mereka, tapi saya berpikir baik bila mereka tahu bahwa menggunakan selaan verbal ini baik —  “uh’s” dan “um’s” adalah suatu yang informatif,” ujar Kidd, pimpinan penelitian.

“We’re not advocating that parents add disfluencies to their speech, but I think it’s nice for them to know that using these verbal pauses is OK — the “uh’s” and “um’s” are informative,” said Kidd, the study’s lead author.

Dalam penelitian, efeknya hanya terlihat jelas pada anak-anak yang berusia diatas 2 tahun. Anak-anak yang berusia dibawah 2 tahun, peneliti beralasan, belum mempelajari tentang kegagapan memberi pengaruh  terhadap kata-kata baru atau yang tidak diketahui.

In the study, the effect was only significant in children older than two years. The younger children, the researchers reasoned, had not yet learned the fact that disfluencies tend to precede novel or unknown words.

Saat anak-anak usia antara 2 atau 3 tahun, mereka biasanya berada pada tahap perkembangan dimana mereka dapat menyusun kalimat yang belum sempurna yang terdiri dari 2 sampai 4 kata. Dan mereka biasanya telah memiliki beberapa ratus kata.

When kids are between the ages of two and three, they usually are at a developmental stage where they can construct rudimentary sentences of about two to four words in length. And they typically have a vocabulary of a few hundred words.

Penelitian sebelumnya oleh Jennifer Arnold, seorang ilmuwan di University North Carolina dan tamatan postdoctoral Rochester, menemukan bahwa orang dewasa juga dapat menggunakan “um’s” and “uh’s” untuk membantu mereka dalam memahami bahasa. Apalagi, penelitian Anne Fernald di Stanford University menunjukkan bahwa bukanlah kualitas melainkan kuantitas berbicara yang diarahkan pada anak-anak yang terpenting dalam pembelajaran.

The study builds on earlier research by Jennifer Arnold, a scientist at the University of North Carolina and a former postdoctoral fellow at Rochester, which found that adults also can use “um’s” and “uh’s” to their advantage in understanding language. Additionally, work by Anne Fernald at Stanford University has shown that it’s not the quality but the quantity of speech that a child is exposed to that is most important for learning.

Journal Reference:

  1. Celeste Kidd, Katherine S. White, Richard N. Aslin. Toddlers use speech disfluencies to predict speakers’ referential intentions. Developmental Science, 2011; DOI: 10.1111/j.1467-7687.2011.01049.x

The Eyes (Body Language 3)

Mata disebut sebagai ‘jendela jiwa’ karena mata dapat menggambarkan banyak hal mengenao sesuatu yang dipikir dan dirasakan oleh seseorang.

The eyes are sometimes called the “windows to the soul” because they can reveal so much about what a person is thinking or feeling.

Photo by Helmut Gevert

Mata sering kali disebut sebagai ‘jendela jiwa’ karena mata dapat menunjukkan apakah yang dirasakan atau dipikirkan seseorang. Seraya kamu melakukan percakapan dengan orang lain,  memperhatikan gerakan adalah suatu yang alami dan penting dapat proses komunikasi. Beberapa hal umum yang dapat kamu perhatikan adalah apakah seseorang melakukan kontak mata langsung atau mengalihkan pandangannya, berapa banyak mereka berkedip atau apakah pupils mata mereka membesar.

The eyes are frequently referred to as the “windows to the soul” since they are capable of revealing a great deal about what a person if feeling or thinking. As you engage in conversation with another person, taking note of eye movements is a natural and important part of the communication process. Some common things you may note is whether people are making direct eye contact or averting their gaze, how much they are blinking or if their pupils are dilated.

When evaluating body language, pay attention to the follow eye signals:

Saat menilai bahasa tubuh, perhatikan isyarat mata sebagai berikut:

  • Eye gaze (Tatapan Mata)
    Saat seseorang menatap matamu secara langsung dalam melakukan percakapan, ini menunjukkan bahwa mereka tertarik dan memperhatikan. Akan tetapi, kontak mata yang terlalu lama dapat menimbulkan perasaan terancam. Di sisi lain, menghentikan kontak mata dan sering mengalihkan padangan mengindikasikan seseorang terganggu, tidak nyaman atau berusaha untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya.

When a person looks directly into your eyes when having a conversion, it indicates that they are interested and paying attention. However, prolonged eye contact can feel threatening. On the other hand, breaking eye contact and frequently looking away may indicate that the person is distracted, uncomfortable or trying to conceal their real feelings.

  • Blinking (Kedipan)
    Kedipan adalah hal yang alami, tetapi kamu juga harus memperhatikan apakah seseorang berkedip terlalu banyak atau sedikit sekali. Seseorang sering berkedip dengan cepat saat mereka merasa tertekan atau tidak nyaman. Kedipan yang tidak terlalu sering dapat mengindikasikan bahwa seseorangn dengan sengaja berusaha untuk mengontrol pergerakan matanya. Contohnya, seorang pemain poker melakukan sedikit kedipan karena ia memiliki tujuan menampakkan reaksi biasa terhadap kesepakatan tertentu.

Blinking is natural, but you should also pay attention to whether a person is blinking too much or too little. People often blink more rapidly when they are feeling distressed or uncomfortable. Infrequent blinking may indicate that a person is intentionally trying to control their eye movements. For example, a poker player might blink less frequently because he is purposely trying to appear unexcited about the hand he was dealt.

  • Pupil size (Ukuran Pupil)
    Satu isyarat yang hampir tidak kentara adalah ukuran pupil mata. Walaupun tingkat cahaya di lingkungan sekitar mengontrol pembesaran ukuran pupil, kadang-kadang emosi juga dapat menyebabkan perubahan ukuran pupil mata. Contohnya, kamu pernah mendengar ungkapan ‘bedroom eyes’ yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang berikan saat mereka tertarik pada orang lain.

One of the most subtle cues that eyes provide is through the size of the pupils. While light levels in the environment control pupil dilation, sometimes emotions can also cause small changes in pupil size. For example, you may have heard the phase “bedroom eyes” used to describe the look someone gives when they are attracted to another person.

 

Pasted from <http://psychology.about.com/od/nonverbalcommunication/ss/understanding-body-language_3.htm>

Body Language Page 2

Mari pikirkan sebentar, berapa banyak seseorang bisa menyampaikan sesuatu hanya dengan menggunakan ekspresi wajah. Sebuah senyuman dapat mengindikasikan suka atau bahagia, sedangkan kerutan dahi dapat mengisyaratkan pencelaan atau sedih. Dalam sejumlah kasus, ekspresi wajah kita dapat menyatakan perasaan kita yang sebenarnya tentang situasi tertentu. Saat kamu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, barangkali wajahmu menyatakan hal yang sebaliknya.

Think for a moment about how much a person is able to convey with just a facial expression. A smile can indicate approval or happiness, while a frown can signal disapproval or unhappiness. In some cases, our facial expressions may reveal our true feelings about a particular situation. While you may say that you are feeling fine, the look on your face may tell people otherwise.

 

Emotions Expressed Through Facial Expressions

Ekspresi disampaikan melalui ekspresi wajah

Berikut beberapa contoh emosi yang dapat diekspresikan melalui ekspresi wajah;

Just a few examples of emotions that can be expressed via facial expressions include:

  • Bahagia/Happiness
  • Sedih/Sadness
  • Marah/Anger
  • Terkejut/Surprise
  • Jijik/Disgust
  • Takut/Fear
  • Ragu atau bimbang/Confusion
  • Kegembiraan/Excitement
  • Hasrat/Desire
  • Penentangan/Contempt

 

Universal Facial Expressions

Ekspresi wajah merupakan bentuk yang paling universal dalam bahasa tubuh. Ekspresi wajah digunakan untuk menyampaikan ketakutan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan dalam bentuk yang hampir sama di dunia. Peneliti Paul Ekman menemukan dukungan dari ke-univresalan variasi ekspresi wajah berkaitan dengan sejumlah emosi seperti kebahagiaan, marah, takut, terkejut dan sedih.

Facial expressions are also among the most universal forms of body language. The expressions used to convey fear, anger, sadness and happiness are similar throughout the world. Researcher Paul Ekman has found support for the universality of a variety of facial expressions tied to particular emotions including joy, anger, fear, surprise and sadness.

 

Pasted from <http://psychology.about.com/od/nonverbalcommunication/ss/understanding-body-language_2.htm>

Memahami Bahasa Tubuh

By Kendra Cherry, About.com Guide

Bahasa Tubuh berkaitan dengan isyarat nonverbal yang kita gunakan untuk berkomunikasi. Menurut para ahli, isyarat nonverbal ini membentuk sebagian besar komunikasi sehari-hari kita. Mulai dari ekspresi wajah sampai gerakan tubuh kita, suatu hal yang tidak bisa kita katakan masih bisa kita sampaikan.

Body language refers to the nonverbal signals that we use to communicate. According to experts, these nonverbal signals make up a huge part of daily communication. From our facial expressions to our body movements, the things we don’t say can still convey volumes of information.

Berdasarkan sejumlah peneliti, bahasa tubuh adalah gagasan yang mencapai 50-70 persen dari seluruh komunikasi. Memahami bahasa tubuh itu penting, namun penting diingat untuk mencatat isyarat lain seperti konteks suasana dan untuk memperhatikan sinyal/isyarat sebagai sebuah grup daripada hanya berfokus pada aksi tunggal. Pelajari lebih banyak tentang sesuatu yang dicari saat kamu berusaha untuk menginterpretasikan bahasa tubuh.

According to various researchers, body language is thought to account for between 50 to 70 percent of all communication. Understanding body language is important, but it is also essential to remember to note other cues such as context and to look at signals as a group rather than focusing on a single action. Learn more about some of the things to look for when you are trying to interpret body language.

Pasted from <http://psychology.about.com/od/nonverbalcommunication/ss/understanding-body-language.htm?nl=1>

Theories of Intelligence

By Kendra Cherry, About.com Guide

Walaupun kecerdasan adalah salah satu bahan yang banyak paling banyak dibicarakan dalam psikologi, belum ada pengertian standar tentang apa yang dimaksud  dengan ‘kecerdasan’. Sejumlah peneliti telah mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan suatu hal yang tunggal, kemampuan umum, sementara yang lain percaya bahwa kecerdasan gabungan dari bakat, kemampuan dan bakat.

While intelligence is one of the most talked about subjects within psychology, there is no standard definition of what exactly constitutes ‘intelligence.’ Some researchers have suggested that intelligence is a single, general ability, while other believe that intelligence encompasses a range of aptitudes, skills and talents.

 

Berikut sejumlah teori besar mengenai kecerdasan yang telah muncul selama 100 tahun terakhir.

The following are some of the major theories of intelligence that have emerged during the last 100 years.

 

Charles Spearman – General Intelligence:

Psikolog Inggris Charles Spearman (1863-1945) menjelaskan sebuah konsep yang kenalkannya sebagai kecerdasan umum, atau G faktor. Setelah menggunakan sebuah teknik yang dikenal sebagai analisis faktor untuk menentukan beberapa tes bakat, Spearman menyimpulkan bahwa skor pada tes tersebut hampir sama. Seseorang yang memperoleh hasil baik pada satu tes kognitif cenderung menunjukkan hasil yang baik pada tes yang lain, sementara seseorang yang memiliki skor yang rendah pada salah satu tes cenderung menunjukkan skor yang rendah juga pada tes yang lain. Ia menyimpulkan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan kognitif umum yang dapat diukur dan ditunjukkan dengan angka (Spearman, 1904).

British psychologist Charles Spearman (1863-1945) described a concept he referred to as general intelligence, or the g factor. After using a technique known as factor analysis to to examine a number of mental aptitude tests, Spearman concluded that scores on these tests were remarkably similar. People who performed well on one cognitive test tended to perform well on other tests, while those who scored badly on one test tended to score badly on other. He concluded that intelligence is general cognitive ability that could be measured and numerically expressed (Spearman, 1904).

 

Louis L. Thurstone – Primary Mental Abilities:

Psikolog Louis L. Thurstone (1887-1955) menyajikan pengertian berbeda tentang teori kecerdasan. Dibandingkan pandangan tentang kecerdasan sebagai suatu yang tunggal, kemampuan umum, teori Thurstone berfokus pada tujuh ‘kemampuan mental dasar’ yang berbeda (Thurstone, 1938). Kemampuan tersebut diantaranya:

Psychologist Louis L. Thurstone (1887-1955) offered a differing theory of intelligence. Instead of viewing intelligence as a single, general ability, Thurstone’s theory focused on seven different “primary mental abilities” (Thurstone, 1938). The abilities that he described were:

  • Pemahaman Verbal (Verbal comprehension )
  • Memberi alasan (Reasoning)
  • Kecepatan Persepsi (Perceptual speed )
  • Kemampuan Numerikal (Numerical ability)
  • Kelancaran Kata (Word fluency)
  • Ingatan Assosiatif (Associative memory)
  • Gambaran Spatial (Spatial visualization)

 

Howard Gardner – Multiple Intelligences:

Salah satu ide terbaru yang muncul adalah Teori Kecerdasan Ganda Howard Gardner. Daripada berfokus pada analisis skor tes, Gardner mengemukakan bahwa gambaran numerikal dari kecerdasan manusia bukanlah gambaran yang sepenuhnya akurat mengenai kemampuan seseorang. Teori nya menjelaskan delapan kecerdasan berbeda berdasarkan kemampuan dan keterampilan pada budaya yang berbeda.

One of the more recent ideas to emerge is Howard Gardner’s theory of multiple intelligences. Instead of focusing on the analysis of test scores, Gardner proposed that numerical expressions of human intelligence are not a full and accurate depiction of people’s abilities. His theory describes eight distinct intelligences that are based on skills and abilities that are valued within different cultures.

Delapan kecerdasan menurut Gardner adalah:

The eight intelligences Gardner described are:

  • Kecerdasan visual-spasial (Visual-spatial Intelligence)
  • Kecerdasan verbal-lingustik (Verbal-linguistic Intelligence)
  • Kecerdasan tubuh-kinestetik (Bodily-kinesthetic Intelligence)
  • Kecerdasan logika-matematika (Logical-mathematical Intelligence)
  • Kecerdasan interpersonal (Interpersonal Intelligence)
  • Kecerdasan musikal (Musical Intelligence)
  • Kecerdasan intra personal (Intra personal Intelligence)
  • Kecerdasan alami (Naturalistic Intelligence)

 

Robert Sternberg – Triarchic Theory of Intelligence:

Psikolog Robert Sternberg mengartikan kecerdasan sebagai ‘aktivitas mental langsung yang mengarah pada penyesuaian tertentu, pemilihan dan penajaman, lingkungan sesungguhnya yang relevan untuk kehidupan seseorang’ (Stenberg, 1985, p.45). Walaupun ia setuju dengan Garnerd bahwa kecerdasan lebih luas dari suatu yang tunggal, kemampuan umum, ia sesungguhnya menyatakan bahwa beberapa kecerdasan Gardner lebih baik dalam melihat bakat individu. Sternberg mengemukakan bahwa apa yang ia maksud dengan ‘kecerdasan yang berhasil’, terdiri atas tiga faktor berbeda:

Psychologist Robert Sternberg defined intelligence as “mental activity directed toward purposive adaptation to, selection and shaping of, real-world environments relevant to one’s life” (Sternberg, 1985, p. 45). While he agreed with Gardner that intelligence is much broader than a single, general ability, he instead suggested some of Gardner’s intelligences are better viewed as individual talents. Sternberg proposed what he refers to as ‘successful intelligence,’ which is comprised of three different factors:

  • Kecerdasan analitik: komponen ini merujuk pada kemampuan menyelesaikan masalah (Problem solving)

Analytical intelligence: This component refers to problem-solving abilities.

  • Kecerdasan kreatifitas: aspek kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk berhubungan dengan situasi baru dengan menggunakan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.

Creative intelligence: This aspect of intelligence involves the ability to deal with new situations using past experiences and current skills.

  • Kecerdasan praktis: elemen ini mengacu pada kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Practical intelligence: This element refers to the ability to adapt to a changing environment.

Walaupun diatas terdapat begitu banyak pendapat berbeda dalam menentukan kecerdasan yang sebenarnya, tidak ada definisi terkonsep yang muncul. Sekarang, psikolog sering mempertimbangkan berbagai teorikal berbeda saat berdiskusi mengenai kecerdasan dan sampai sekarang debat tersebut terus berlanjut.

While there has been considerable debate over the exact nature of intelligence, no definitive conceptualization has emerged. Today, psychologists often account for the many different theoretical viewpoints when discussing intelligence and acknowledge that this debate is ongoing.

 

References:

Gardner, H. (1983). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.

Spearman, C. (1904). “General intelligence,” objectively determined and measured. American Journal of Psychology 15, 201-293.

Sternberg, R. J. (1985). Beyond IQ: A Triarchic Theory of Intelligence. Cambridge: Cambridge University Press.

Thurstone, L.L. (1938). Primary mental abilities. Chicago: University of Chicago Press.

Pasted from <http://psychology.about.com/od/cognitivepsychology/p/intelligence.htm>

 

Akira Ikemi (Profesor of Psychology University Kansai, Japan)

Profile:  Akira Ikemi

I grew up in the port of Kobe, Japan, which used to be the largest trading port in all of Asia. I grew up in an international community with kids from India, Philippines, Hong Kong, Taiwan, Korea, Indonesia, Germany, France, Belgium, Italy, Switzerland, United States of America, United Kingdom, Australia and more.  As I was growing up, I always wondered about how language affects our thinking, feeling and sense of self.

Saya besar di pelabuhan Kobe, Jepang, pelabuhan perdagangan terbesar di seluruh Asia. Saya tumbuh dalam komunitas internasional bersama dengan anak-anak dari India, Filipina, Hongkong, Taiwan, Korea, Indonesia, Jerman, Francis, Belgia, Italia, Switzerland, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan lainnya. Seiiring pertambahan usia, saya selalu heran tentang bagaimana bahasa dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan dan penilaian kita pada diri.

This led me to double major in psychology and philosophy at Boston College and then to study with Professor Eugene Gendlin, a philosopher and psychotherapist, at the University of Chicago, graduate school.  I continued to study Focusing and Focusing-Oriented Therapy, developed by Dr.Gendlin, trying to use it in my work as a psychologist at the psychosomatic unit of KitaKyushu Municipal Hospital (Kokura).  I went on and got a doctorate in medical sciences at the University of Occupational and Environmental Health, Japan (UOEH) where I was engaged in mind-body research, studying the physiology of meditative states, using Autogenic Training.

Ini mendorong saya pada dua ilmu dalam psikologi dan filosofi di Kampus Boston dan selanjutnya belajar bersama dengan profesor Eugene Gendlin, seorang filosofis dan psikoterapis, di Universitas Chicago, pascasarjana. Saya melanjutkan pendidikan mengenai Terapi Focusing dan Focusing Oriented, yang dikembangkan oleh Dr. Gendlin, berusaha menggunakan terapi ini dalam pekerjaan saya sebagai psikolog di Unit Psikosomatik Rumah Sakit Kitakyushu Municipal (Kokura). Saya melanjutkan pendidikan dan memperoleh gelar doktoral di Ilmu Kedokteran Universitas Kesehatan Lingkungan dan Pekerjaan, Jepang (University of Occupational and Enviromental Health) dimana saya melakukan penelitian mengenai pikiran-tubuh, mempelajari fisiologi dalam kondisi meditasi, menggunakan Autogenic Taining.

At UOEH I got involved in corporate mental health, a field that I continue to work in.  I got into full time teaching at UOEH, then at Okayama University, School of Education and then Kobe College.   During a decade at Kobe College, I met a lot of interesting colleagues and students, and served as  the Chair of the Psychology Department, and the Dean of Academic Affairs. During this time, I helped set up the Japan Focusing Association, and served as the Executive Director and later, President. In 2006 I moved to Kansai University in Osaka where I teach in the Graduate School of Professional Clinical Psychology.

I teach as adjunct faculty at Kobe College and Hyogo University of  Teacher Education.  I am a board member of the Japanese Association of Humanistic Psychology and the Japanese Society of Autogenic Training as well as members of several other professional organizations.  I also practice as a Focusing-Oriented Therapist privately and at an automobile corporation.

Di UOEH, saya bergabung di bagian kesehatan mental, dimana selanjutnya saya bekerja. Saya mengajar penuh di UOEH, setelah itu juga mengajar di Universitas Okayama, Sekolah Keguruan dan Akademi Kobe. Selama satu dekade di Akademi Kobe, saya bertemu banyak kolega dan mahasiswa yang menarik, dan menjabat sebagai Ketua jurusan Psikologi, da Dekan Bidang Pendidikan. Sekarang, saya membantu di  Japan Focusing Association dan menjabat sebagai Eksekutif Direktur, dan selanjutnya sebagai President. Pada tahun 2006, saya pindah ke Universitas Kansai d Osaka dimana saya mengajar di pascasarjana Profesi Psikologi Klinis. Saya mengajar sebagai asisten fakultas di Akademi Kobe dan Pendidikan Guru Universitas Hyogo. Saya anggota dari  Japanese Association of Humanistic Psychology dan the Japanese Society of Autogenic Training. Saya juga membuka praktek Focusing-Oriented Therapist sendiri dan bersama lembaga.