Anak-anak ADHD dan Ayah-Ayah Mereka

Boys With ADHD and Their Dads

By Anita M. Schimizzi, Ph.D. On December 14, 2011 ·

A couple of months ago, I wrote about a study that looked at moms and children with ADHD.  Some readers responded with wanting more information on the role of dads in their child’s ADHD.  Well, I found an article in the Journal of Abnormal Child Psychology that studied dads and looked at the impact that their early relationships with their children have on later ADHD symptoms.  And, yes, the study suggests that the early father-child relationship does indeed seem to be related to middle-childhood ADHD symptoms.  (The study looked at the maternal role also, but I am going to focus on the paternal role here.  The citation is below if you’d like to read the whole study.)

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang sebuah penelitian mengenai ibu dan anak-anak mereka yang mengalami gangguan ADHD. Sejumlah pembaca merespon dengan meminta informasi lebih tentang peran ayah terhadap anak-anak mereka yang mengalami ADHD. Baik, saya menemukan sebuah artikel dalam Jurnal Psikologi Abnormal Anak yang mempelajari tentang ayah dan pengaruh hubungan awal mereka dengan anak-anak yang menunjukkan gejala ADHD. Dan, benarlah, penelitian ini menyatakan bahwa hubungan awal ayah dan anak tampak benar-benar berhubungan dengan gejala ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak. (Penelitian juga memperhatikan peran ibu, namun saya hanya fokus pada peran ayah yang ada dalam artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui seluruh isi penelitian, silahkan membaca kutipan penelitian berikut).

The study took place in New Zealand and included 93 preschool boys that were placed in a “hyperactive” group, control group, or in another comparison group where symptoms were present but less severe and, thus, gave the researcher the ability to look at a wide range of ADHD symptoms.  According to the author, only boys were included both because of logistics and because they tend to have more observable behaviors linked to ADHD than girls.  Eighty-nine fathers participated.  Data was collected using parent observations, interviews, and questionnaires, as well as teacher questionnaires.  The study spanned three years, starting when the boys were an average of four years-old.   A second round of data was collected two and a half years later when the boys were an average age of seven.

Penelitian tersebut dilaksanakan di New Zealand dan melibatkan 93 bocah laki-laki pra sekolah yang dikelompokkan dalam kelompok ‘hiperaktif’, kelompok kontrol, atau dalam kelompok pembanding lain dimana mereka menunjukkan gejala ADHD yang tergolong rendah dan, jadi, memberi peneliti kesanggupan untuk melihat rentang yang luas dari gejala ADHD. Berdasarkan penjelasan penulis, hanya anak laki-laki yang dilibatkan dalam kedua kelompok tersebut karena alasan logistik dan karena mereka cenderung lebih mudah diobservasi berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Delapan puluh satu ayah terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi orang tua, wawancara, dan kuisioner,  seperti kuisioner yang diberikan guru. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 3 tahun, dimulai saat anak-anak tersebut berusia sekitar 4 tahun. Pengambilan data kedua dilakukan sekitar dua setengah tahun kemudian saat anak-anak tersebut berusia sekitar 7 tahun.

The author, Louise Keown, looked at three areas of paternal responsiveness (sensitivity (e.g., being tuned into the son’s needs), intrusiveness (e.g., controlling son’s play), and positive regard (e.g., warmth and affection toward son)) and the presence of later ADHD symptoms.  The results took into account early ADHD and behavior problems.  In other words, the results looked at how fathers’ parenting impacted middle childhood ADHD above and beyond preschool problems in this area.

Penulis, Louise Keown, menekankan pada tiga area kemampuan reaksi dari ayah ‘paternal responsiveness’ (sensitivitas (seperti menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak laki-lakinya), intrusiveness (seperti mengontrol permainan anak), dan penghargaan yang positif (seperti, kehangatan dan perasaan pada anak laki-lakinya)) dan gejala ADHD yang muncul kemudian. Hasil dimasukkan dalam laporan ADHD awal dan gangguan perilaku. Dengan kata lain, hasilnya menunjukkan bagaimana pengasuhan ayah mempengaruhi ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak setelah dan sebelum pra sekolah di daerah ini.

Here’s what the study found.  Fathers that were characterized as more sensitive and less intrusive with their preschool sons had sons that were later found to be less hyperactive and impulsive at school, according to teachers, and more attentive at home, according to fathers.   Further, higher levels of paternal positive regard in early childhood were related to their sons showing lower levels of inattention at both home and school in middle childhood, according to teacher and maternal reports.

Berikut ini adalah penjabaran hasil penelitian. Ayah dengan karakteristik lebih sensitif dan kurang intrusive (mengganggu) anak-anak laki-laki mereka yang berusia pra sekolah memiliki anak laki-laki yang kemudian diketahui kurang hiperaktif  dan impulsif di sekolah, menurut guru, dan lebih hiperaktif di rumah, menurut ayah. Selanjutnya, tingkat perhargaan positif yang tinggi dari ayah pada masa awal anak-anak berkaitan dengan anak mereka dengan menunjukkan tingkat tingkat ketidak perhatian ‘inattention’ yang rendah baik dirumah dan di sekolah pada masa awal anak-anak, menurut laporan  guru dan ibu.

In her discussion of the findings, Keown discusses the importance of fathers learning how to sync up with their sons to give them what they need in any given moment.  For example, a son that gets frustrated and angry with trying to build a block tower that keeps tumbling down will likely have a different response to a father that reprimands him for the outburst as opposed to validating the son’s emotions (e.g., “Wow!  It’s so frustrating when you try to build a tower that keeps falling down.”).  Another example could be a preschooler that starts running around like a maniac at a birthday party because he is over-stimulated and rather than giving him some time and space away from the chaos to get settled again, his father tells him to slow down.  While the cues may be subtle, it is important to learn how to read them.

Dalam pembahasanya mengenai hasil penelitian, Keown menjelaskan pentingnya ayah belajar tentang bagaimana mereka selaras dengan anak laki-laki mereka dalam memberikan mereka apa yang mereka inginkan di setiap kesempatan. Contohnya, seorang anak yang menjadi frustasi dan marah saat membangun menara balok yang tetap runtuh akan memiliki kemungkinan besar memiliki suatu respon yang berbeda pada seorang ayah yang menegur dirinya terhadap ledakan sebagai pertentangan untuk membenarkan emosi anaknya (seperti, “Wow! Sungguh menyebalkan saat kamu berusaha membangun menara yang tetap runtuh.”). Contoh lain, seorang anak prasekolah yang mulai berlarian kesana-kemari seperti seorang maniak saat pesta ulang tahun karena ia terlalu terstimulir dan dibanding memberi mereka waktu dan ruang bagi anak dari kekacauan yang sedang dibuat untuk memulihkan diri, ayahnya malah menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun isyarat yang diberikan tidak begitu jelas, ini merupakan hal yang penting untuk mempelajari gejala-gejala tersebut.

Keown also discusses the finding of paternal intrusiveness and hyperactivity-impulsivity at school.  She argues that fathers that disrupt their son’s activities and limit the amount of control that sons have over play may also be limiting their opportunity to learn how to self-regulate their behaviors.  In other words, sons that are controlled by an outside force may not learn to control themselves from within.

Keown juga membahas hasil penelitian mengenai paternal intrusiveness dan perilaku hiperaktif kompulsif di sekolah. Dia sangat menganjurkan bahwa ayah yang mengganggu aktifitas anak mereka dan membatasi anak-anak mereka dalam bermain juga akan membatasi kesempatan anak mereka untuk belajar melakukan self-regulasi terhadap perilaku mereka. Dengan kata lain, anak-anak yang dikontrol oleh tekanan dari luar diri mereka tidak akan bisa belajar untuk mengontrol perilaku mereka sendiri.

Last month, I posted on mindful parenting.  The results of the current study can also be applied to this concept.  When dads can step away from their agenda and allow a child’s activity to unfold, supporting them as necessary, it sends the message that the child’s desires are important and that there is a safety net in place when they need it.  Also, nothing can replace the important father-child interaction in a given activity.  The kind where you work together in a rhythm that feels good to both parties. Not only can this be a rewarding way to spend time with your child, but it can also be an opportunity for learning more about your child’s cues and how to meet him where he is.

Bulan lalu, saya menerbitkan di mindful parenting. Hasil dari penelitian tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konsep ini. Saat ayah dapat mengesampingkan agenda mereka dan beraktifitas dengan anak, mendukung mereka sebagaimana seharusnya, ini memberikan pesan bahwa keinginan anak-anak adalah suatu yang penting dan ada tempat yang aman saat mereka membutuhkannya. Dan juga, tidak ada yang dapat menggantikan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam aktifitas beri memberi. Semacam bekerja sama dalam satu keselarasan sehingga merasa senang untuk kedua belah pihak. Tidak hanya dapat ini menjadi cara untuk menghargai anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, namun ini juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang isyarat anak ADHD dan bagaimana menemukan mereka dimana mereka berada.

This post is certainly not meant to criticize fathers.  On the contrary, I hope that fathers will recognize the importance of their relationship with their sons (and daughters!) and find the information to be useful.  Additionally, it is hoped that parenting partners and professionals can support fathers in their relationships with their kids in a way that reduces the chances of heightened ADHD symptoms in middle childhood and beyond.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi para ayah. Namun sebaliknya, saya berharap para akan mengenali pentingnya hubungan mereka dengan anak-anaknya dan mencari informasi yang bermanfaat. Apalagi, pengasuh dan ahli profesional diharapkan dapat mendukung para ayah dalam hubungan mereka dengan anak-anaknya sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk memuncaknya gejala ADHD di pertengahan masa kanak-kanak dan sebelumnya.

Thanks for reading!  -Anita

Source: Keown LJ (2011). Predictors of Boys’ ADHD Symptoms from Early to Middle Childhood: The Role of Father-Child and Mother-Child Interactions. Journal of abnormal child psychology PMID: 22038253

Pasted from <http://www.child-psych.org/2011/12/boys-with-adhd-and-their-dads.html>

Kiseki (I Wish)

Year: 2011

Director: Koreeda Hirokazu

Screenplay: Koreeda Hirokazu

Cinematography: Yutaka Yamazaki

Cast:  Maedi Koki, Maeda Oshiro, Odagiri Joe, Otsuka Nene, Hashizume Isao, Kiki Kirin

Runtime: 128 mins

Trailer: at nipponcinema (not subtitled)

Film’s official website: 奇跡 (in Japanese)

Seen at a screening at Vue West as part of the 2011 BFI Film Festival.

Kiseki (literally “Miracle”, but titled “I Wish” in English) is a film that belongs to the ‘slice of life’ genre. There is, however, a plot line: it revolves around two boys, Koichi and Ryu (wonderfully played by real life brothers Maeda Koki and Maeda Ohshiro), who have been living in different parts of Japan since their parents’ divorce six months prior. The older boy, Koichi, lives with his mother (Otsuka Nene) and grandparents (Hashizume Isao and Kiki Kirin) and particularly struggles to accept the separation. Ryu, meanwhile, is the eternal optimist. He is forever trying to put a positive spin on things and makes the best of the situation, something that includes parenting his indie rock-musician father (Odagiri Joe). The film, which provides only some detail on the children’s life before the divorce, hints at this being one of the reasons for the boys’ separation.

 Kiseki  (berarti ‘Keajaiban’, dalam bahasa Inggris disebut ‘I Wish’) adalah sebuah film dengan genre kisah kehidupan. Plot ceritanya berkisah tentang 2 anak alaki-laki, Koichi dan Ryu (Luar biasanya diperankan oleh 2 kakak adik sesungguhanya, Maeda Koki dan Maeda Ohshiro), yang hidup terpisah di Jepang sejak kedua orang tuanya bercerai 6 bulan yang lalu. Sang kakak, Koichi, tinggal bersama ibunya (Otsuka Nene) dan kakek-neneknya (Hashizume Isao dan Kiki Kirin) dan berusaha (sulit) untuk menerima perpisahan ini. Lain halnya dengan ryu yang optimis. Ia selalu berusaha berpikir positif terhadap semua yang terjadi dan mencari solusi yang terbaik untuk itu, seperti menjaga ayahnya yang seorang musisi rock Indie (Odagiri Joe).  Film ini, hanya mencceritakan beberapa detail tentang kehidupan anak-anak tersebut sebelum orang tuanya bercerai, petunjuk yang menyatakan kenapa anak-anak itu hidup terpisah.

 Koichi overhears that when the superfast shinkansen trains on the newly built track between Kagoshima and Fukuoka (where the boys live) pass each other for the first time, wishes will come true for anyone witnessing the event, and thus concocts a plan to meet his brother in that very spot. This is the story that drives Kiseki, yet at the heart of the film are the snippets of people’s everyday lives:  Running to school with hair still wet. Watching fava beans grow. Checking for volcanic ash in the air. Eating crumbs from the bottom of a crisp bag. Boycrushing on the kind librarian. Haggling for a discount on octopus puffs (or uttering lighthearted threats otherwise).

 Koichi mendengar bahwa saat kereta Shinkansen supercepat pada jalur yang baru dibuat antara Kagoshima dan Fukuoka (tempat tinggal mereka) bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya, permohonan yang disampaikan setiap orang akan menjadi kenyataan pada saat itu, dan kemudian ia membuat rencana untuk bertemu dengan adiknya di sebuah daerah terdekat dengan tempat pertemuan kereta itu. Ini merupakan cerita memperjuangkan mimpi, sekalipun begitu inti cerita menampakkan potongan kehidupan sehari-hari setiap orang; berlari kesekolah dengan rambut yang masih basah. Melihat Kacang fava tumbuh. Memeriksa abu vulkanik di udara. Makan remah snack yang tertinggal. Kenakalan anak-anak dengan petugas pustaka. Tawar manawar diskon untuk membeli bola-bola gurita.

 

The film initially is a little slow, although it is difficult to pinpoint where exactly the excess lies because overall Kiseki feels just right. We learn about the various characters, each with his or her own quirks in personality and unique dreams. Other than Koichi, Ryu and immediate family members, there are also boys’  friends that join them on their journey of wishes, as well as few other, more minor characters (various teachers, grandpa’s sock-fiddling pals, an old couple that has long lost contact with their daughter) that add their bit to Kiseki.

 Film ini pada awalnya sedikit lambat, namun sulit untuk menentukan bagian terpenting film karena secara keseluruhan Kiseki berjalan apa adanya. Kita belajar tentang bermacam karakter, masing-masing dengan karakteristik kepribadian dan impiannya yang unik. Berbeda dengan Koichi, Ryu dan teman-temannya, dan juga teman-teman Koichi yang bergabung dalam perjalanan impian, mereka menikmati perjalanan tersebut, dan berbagai karakter kecil lainnya (beragam guru, teman-teman kakek koichi, pasangan kakek nenek yang telah lama kehilangan kontak dengan anak perempuannya) yang memberikan tambahan untuk Kiseki.

The film’s highlight is the trip to the shinkansen meeting point, not because it is the climax that Kiseki has been aiming for, but rather because it’s such a delight to see that group of seven children make their essentially crazy plan (it is a two-day trip, ingeniously afforded by selling action figures and scouring for dropped coins under vending machines, but with no overnight accommodation prearranged) happen. Even the few adults that discover what the children have set out to do, wisely let them be without interfering: it’s the children’s own, secret adventure, possible and promising miracles for them only because they are still – for a little while longer at least – children.

Bagian terpenting dari Film adalah perjalanan menuju titik pertemuan kereta shinkansen, bukan karena ini adalah klimaks dari Kiseki yang dituju, melainkan karena ini adalah bagian yang menyenangkan untuk melihat 7 anak membuat rencana gila yang mereka nilai penting (ini merupakan perjalanan 2 hari, dengan mahir menjual barang-barang mereka dan mengumpulkan uang dari mesin penjual otomatis untuk mengumpulkan uang perjalanan, namun tanpa merencanakan penginapan mereka pada malam hari) terlaksana. Walaupun sejumlah orang dewasa berusaha untuk membantu anak-anak tersebut dalam rencana mereka, mereka dengan bijak tetap membiarkan anak-anak tersebut melakukan rencana mereka tanpa ikut serta: karena itu adalah keinginan anak-anak tersebut, petualangan rahasia, keajaiban yang mungkin terjadi dan diharapkan oleh mereka hanya karena mereka masih anak-anak-untuk dipercayai beberapa lama.

Do miracles happen? The film doesn’t really answer this question. Some of the children’s wishes do not – cannot – come true as they themselves know, but others might very well: perhaps through the miraculous power of two shinkansen trains passing each other or by the effort individuals exert in order to make their dreams come true, or, a little bit of both.

Apakah keajaiban akan terjadi? Film ini tidak benar-benar memberi jawaban dari pertanyaan ini. Beberapa harapan anak-anak tersebut tidak dapat -tidak akan- menjadi kenyataan seperti yang mereka sendiri tau, walaupun untuk beberapa diantara mereka mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan; mungkin dengan keajaiban kekuatan dari pertemuan kereta Shinkansen atau dengan usaha mereka sendiri dalam memperjuangkan impian mereka menjadi kenyataan, atau, barangkali keduanya.

Pasted from <http://alualuna.wordpress.com/2011/10/18/kiseki/#comment-105>

Yuk…nonton film ini, karena menurut ledi ini adalah film motivasi, yang mengajarkan kita bagaimana mempercayai mimpi, memperjuangkannya dan mengukuhkannya dalam diri kita, hingga mendarah daging dalam tindakan dan pikirn kita dan sehingga setiap perjuangan bisa kita nikmati.

Austim Bisa jadi adalah Kelebihan, Bukan Gangguan

Lara Salahi

Nov 2, 2011 3:25pm

For Some, Autism Considered Strength, Not Disorder

Of all the famed names in autism, Temple Grandin is perhaps one of the quickest to come to mind.

Grandin, who was diagnosed with autism in 1950, didn’t speak until she was about 4 years old. At the time, the definition of autism seemed clearer cut than it is today. Looking back, many experts would say she exhibited classic signs of the disorder. But the spectrum of the disorder has grown wider since then. Grandin has arguably landed so far on one end of the spectrum that it could be hard to see what the other side of autism looks like.

Dari semua nama yang terkenal dalam ‘Autisme’, Temple Grandin adalah salah satu yang paling cepat diingat. Grandin, adalah seseorang didiagnosa mengalami autisme pada tahun 1950, tidak pernah berbicara sampai ia berusia 4 tahun. Pada saat itu, pengertian autisme tampak belum sejelas sekarang. Jika melihat ke belakang, banyak para ahli berkata bahwa Grandin menunjukkan tanda klasik dari gangguan tersebut. Namun spektrum gangguan telah berkembang lebih luas lagi. Grandin berada pada akhir spektrum yang mudah dibantahkan untuk dikatakan gangguan autisme seperti apa dia.

About 1 in 110 children are diagnosed with autism spectrum disorder, characterized by problems in social interaction and communication, and delayed and repetitive behavior. Unlike Grandin, many will not be able to develop the necessary skills to speak, or hold a stable job. Many remain dependent on caregivers for the rest of their lives.

Sekitar 1 dari 110 anak yang didiagnosa mengalami gangguan spektrum autisme, ditandai dengan permasalahan dalam interaksi sosial dan komunikasi, dan adanya keterlambatan dan pengulangan perilaku. Tidak seperti Grandin, banyak anak mungkin tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk berbicara, atau melakukan pekerjaan dengan baik. Banyak anak tetap tergantung dengan perawat sepanjang hidupnya.

These stark differences have prompted many researchers to suggest that autism should not be grouped under one diagnosis, but in fact, should be labeled as different conditions.

Perbedaan ini telah mendorong banyan peneliti untuk menyarankan bahwa autisme seharusnya tidak dikelompokkan hanya pada satu diagnosis, karena pada kenyataannya, dapat berada pada kondisi yang berbeda.

“Research is starting to show us that there is not just one pathway that makes it necessary for the condition to be called autism,” said Dr. Lori Warner, director for the HOPE Center for Autism at Beaumont Children’s Hospital in Royal Oak, Mich.

“Penelitian mulai menunjukkan kepada kita bahwa tidak hanya satu jalan untuk menyatakan suatu kondisi disebut sebagai autisme,” kata Dr. Lori Warner, direktur HOPE Center bagian Autisme di Rumah Sakit Beaumont Children di Royal Oak, Mich.

“The core features are still there. How it’s manifested is different,” said Warner.

“Intinya masih disana. Bagaimana itu ditunjukkan akan berbeda satu dengan yang lainnya,” kata Warner.

And because of this, Warner said the seemingly different way the condition is displayed is better off staying grouped as ‘autism.’

Dan karena ini, Warner berkata cara yang tampak berbeda bahwa kondisinya lebih baik dalam grup sebagai ‘autisme’.

In fact, the DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) seems to be moving away from differentiating autism any further. Some experts say that for those who function well, autism should not be considered a disability or a disorder.

Pada kenyataannya, DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) tampak menjauh dari  pembedaan autisme selanjutnya. Beberapa ahli mengatakan bahwa untuk mereka yang masih bisa melakukan beberapa kegiatan dengan baik, autisme tidak dapat dikatakan sebagai cacat atau gangguan.

Instead, in some cases, the condition could serve as an advantage. Grandin went on to earn a doctoral degree and her redesign of livestock handling equipment became the standard for many cattle plants across the U.S. and Canada. Grandin then became a best-selling author and speaker.

Malah, dalam sejumlah kasus, kondisi anak dapat dikatakan sebagai suatu kelebihan. Grandin bisa menyelesaikan tingkat doktoral dan merancang ulang peralatan kebutuhan hidupnya menjadi standar untuk sejumlah pangan ternak di Amerika dan Kanada. Grandin kemudian menjadi pembicara dan penulis terkenal.

In fact, Laurent Mottron, who holds the Marcel and Rolande Research Chair in Cognitive Neuroscience of Autism at the University of Montreal, directs eight members of his lab who are considered autistic.

“In certain settings, autistic individuals can fare extremely well,” wrote Mottron. “One such setting is scientific research.”

Pada kanyataannya, Laurent Mottron, Kepala Penelitian Marcel dan Rolande Bidang Cognitive Neuroscience of Autism di Universitas Montreal, menunjukkan langsung 8 anggota dari laboratoriumnya yang tertarik pada autistik. “Pada kondisi tertentu, individu autis dapat berbuat sangat baik,” tulis Mottron. “Salah satu kondisi itu adalah penelitian ilmiah.

Mottron doesn’t consider his lab members to be extraordinary workers, or savants, he wrote in an editorial published November in the journal Nature. But their strength in research has been a huge asset to his lab, he said.

Mottron tidak menganggap anggota laboratoriumny adalah pekerja luar biasa, atau orang yang terpelajar, ia menulis dalam sebuah editorial yang diterbitkan Bulan November di Jurnal ‘Nature.  Namun kekuatan mereka dalam penelitian merupakan aset yang besar untuk laboratoriumnya, tulisnya.

“Without question, autistic brains operate differently,” Mottron wrote in his editorial. He added that most autistics are better at detecting changing sounds, detecting visual structures, and manipulating 3D shapes. But, Warner cautioned against minimizing the limitations of their conditions.

“Tanpa bertanya, otak autis berkerja dengan cara berbeda,” Mottron menulis dalam editorialnya. Ia menambahkan bahwa sejumlah autistik memiliki kemampuan lebih dalam mendeteksi perubahan suara, mendeteksi struktur visual, dan memanipulasi bentuk 3D. Namun, Warner mengingatkan akan peminiman pembatasan kondisi mereka.

“If you put anyone in an environment where they can display their strengths, then of course they’ll thrive,” said Warner, who called for a “bigger picture” look at strengthening other life situations beyond the work environment.

“Jika anda meletakkan seseorang dalam lingkungan dimana mereka dapat menunjukkan kelebihannya, tentu mereka akan berkembang dengan pesat, ” kata Warner, seseorang yang dikenal dengan ‘bigger picture’ dalam melihat peguatan situasi hidup yang lain dalam dunia kerja.

“Just because they do well in one environment doesn’t mean their condition is not necessarily a disorder,” she said.

“Hanya karena mereka bekerja dengan baik dalam satu lingkungan bukan berarti kondisi mereka tidak sepenting orang yang mengalami gangguan,” katanya.

While autism, by definition, is marked by impaired communication, social and physical behavior, Mottron said research so far is hyper focused on the deficits of a person with autism, and how to treat them. Instead, the focus should be on developing their strengths and abilities, he said.

Walaupun autisme, berdasarkan definisi, dikenal dengan adanya kelemahan perilaku dalam komunikasi, sosial dan fisik,Mottron berkata bahwa penelitian terbaru terlalu berfokus pada kelemahan seseorang yang mengalami autisme, dan bagaimana cara menyembuhkan mereka. Seharusnya, fokus penelitian lebih ditekankan pada kelebihan dan kemampuan mereka, katanya.

“Too often, employers don’t realize what autistics are capable of, and assign them repetitive, almost menial tasks,” said Mottron. “But I believe that most are willing and capable of making sophisticated contributions to society, if they have the right environment.”

“Terlalu sering, para petugas tidak sadar tentang kemampuan orang yang autis, dan bertahan pada perilaku berulang mereka, hampir seperti tugas kasar,” kata Mottron. “Tetapi, saya percaya bahwa sejumlah besar mau dan mampu untuk membuat kontribusi yang terkemuka dalam masyarakat, jika mereka berada pada lingkungan yang tepat.

Pasted from <http://abcnews.go.com/blogs/health/2011/11/02/for-some-autism-considered-strength-not-disorder/>

‘Um’s’ dan ‘Uh’s’ Orang Tua Membantu Anak Mempelajari Kata-Kata Baru, Temuan Peneliti Kognitif

Parents’ ‘Um’s’ and ‘Uh’s’ Help Toddlers Learn New Words, Cognitive Scientists Find

ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — Sebuah tim peneliti kognitif memperoleh berita baik untuk orang tua yang mengkhawatirkan bahwa mereka  memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka saat berkata “um” and “uh.” Sebuah penelitian yang dilaksanakan di University of Rochester’s Baby Lab menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya menggunakan gumaman dan keraguan orang tua mereka (secara teknikal seperti ketidak lancaran berbicara) untuk membantu mereka mempelajari bahasa dengan lebih efisien.


ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — A team of cognitive scientists has good news for parents who are worried that they are setting a bad example for their children when they say “um” and “uh.” A study conducted at the University of Rochester’s Baby Lab shows that toddlers actually use their parents’ stumbles and hesitations (technically referred to as disfluencies) to help them learn language more efficiently.


Contohnya, saat anda berjalan di kebun binatang dengan anakmu yang berusia dua tahun dan anda berusaha mengajarinya nama-nama binatang. Anda menunjuk pada badak dan berkata, ‘”Lihat itu, uh, uh, Badak.” Ini selain anda meraba-raba kata yang benar, anda juga menunjukkan kepada anak anda bahwa anda mengajarkannya suatu hal baru, berdasarkan peneliti (??).

For instance, say you’re walking through the zoo with your two-year-old and you are trying to teach him animal names. You point to the rhinoceros and say, “Look at the, uh, uh, rhinoceros.” It turns out that as you are fumbling for the correct word, you are also sending your child a signal that you are about to teach him something new, so he should pay attention, according to the researchers.

Anak-anak mendapatkan banyak informasi untuk diproses saat mereka mendengar orang dewasa berbicara, termasuk banyak kata-kata yang telah mereka belum pernah peroleh sebelumnya. Jika otak seorang anak menunggu sampai sebuah kata baru diucapkan dan kemudian berusaha untuk membayangkan apakah artinya, ini menjadi sebuah tugas yang lebih sulit dan anak mudah salah untuk memahami kata selanjutnya, kata Richard Aslin, seorang profesor ilmu otak dan kognitif di University of Rochester dan seorang penulis.

Young kids have a lot of information to process while they listen to an adult speak, including many words that they have never heard before. If a child’s brain waits until a new word is spoken and then tries to figure out what it means after the fact, it becomes a much more difficult task and the child is apt to miss what comes next, says Richard Aslin, a professor of brain and cognitive sciences at the University of Rochester and one of the study’s authors.

“Semakin banyak prediksi yang dapat dibuat seorang pendengar tentang sesuatu yang akan dikomunikasikan, semakin efisien seorang pendengar untuk mengerti hal tersebut,” ujar Aslin.

“The more predictions a listener can make about what is being communicated, the more efficiently the listener can understand it,” Aslin said.

Penelitian, yang dilakukan oleh Celeste Kidd, seorang tamatan University Rochester, dan Katherine White, tamatan postdoctoral Rochester yang sekarang bekerja di University Waterloo, dan Aslin telah menerbitkan secara pada tanggal 14 April di the journal Developmental Science.

The study, which was conducted by Celeste Kidd, a graduate student at the University of Rochester, Katherine White, a former postdoctoral fellow at Rochester who is now at the University of Waterloo, and Aslin was published online April 14 in the journal Developmental Science.

Para peneliti mempelajari 3 kelompok anak yang berusia antara 18 dan 30 bulan. Setiap anak duduk di pangkuan orang tua mereka berhadapan dengan sebuah monitor dengan alat pelacak gerakan mata. Dua gambar muncul di layar: satu gambar benda yang biasa dijumpai (seperti sebuah bola atau sebuah buku) dan sebuah gambar baru dengan nama tertentu (seperti “dax” or  “gorp”). Sebuah suara rekaman disampaikan dengan bahasa yang sederhana tentang objek tersebut. Saat suara gumaman dan berkata “Lihat itu, uh…” anak secara instingtif melihat gambar baru tersebut lebih sering dibandingkan dengan objek yang biasa ia lihat (hampir mencapai 70 persen ).

The researchers studied three groups of children between the ages of 18 and 30 months. Each child sat on his or her parent’s lap in front of a monitor with an eye-tracking device. Two images appeared on the screen: one image of a familiar item (like a ball or a book) and one made-up image with a made-up name (like a “dax” or a “gorp”). A recorded voice talked about the objects with simple sentences. When the voice stumbled and said “Look at the, uh…” the child instinctively looked at the made-up image much more often than the familiar image (almost 70 percent of the time).

“Kami tidak menyarankan orang tua menambah kegagapan dalam berbicara mereka, tapi saya berpikir baik bila mereka tahu bahwa menggunakan selaan verbal ini baik —  “uh’s” dan “um’s” adalah suatu yang informatif,” ujar Kidd, pimpinan penelitian.

“We’re not advocating that parents add disfluencies to their speech, but I think it’s nice for them to know that using these verbal pauses is OK — the “uh’s” and “um’s” are informative,” said Kidd, the study’s lead author.

Dalam penelitian, efeknya hanya terlihat jelas pada anak-anak yang berusia diatas 2 tahun. Anak-anak yang berusia dibawah 2 tahun, peneliti beralasan, belum mempelajari tentang kegagapan memberi pengaruh  terhadap kata-kata baru atau yang tidak diketahui.

In the study, the effect was only significant in children older than two years. The younger children, the researchers reasoned, had not yet learned the fact that disfluencies tend to precede novel or unknown words.

Saat anak-anak usia antara 2 atau 3 tahun, mereka biasanya berada pada tahap perkembangan dimana mereka dapat menyusun kalimat yang belum sempurna yang terdiri dari 2 sampai 4 kata. Dan mereka biasanya telah memiliki beberapa ratus kata.

When kids are between the ages of two and three, they usually are at a developmental stage where they can construct rudimentary sentences of about two to four words in length. And they typically have a vocabulary of a few hundred words.

Penelitian sebelumnya oleh Jennifer Arnold, seorang ilmuwan di University North Carolina dan tamatan postdoctoral Rochester, menemukan bahwa orang dewasa juga dapat menggunakan “um’s” and “uh’s” untuk membantu mereka dalam memahami bahasa. Apalagi, penelitian Anne Fernald di Stanford University menunjukkan bahwa bukanlah kualitas melainkan kuantitas berbicara yang diarahkan pada anak-anak yang terpenting dalam pembelajaran.

The study builds on earlier research by Jennifer Arnold, a scientist at the University of North Carolina and a former postdoctoral fellow at Rochester, which found that adults also can use “um’s” and “uh’s” to their advantage in understanding language. Additionally, work by Anne Fernald at Stanford University has shown that it’s not the quality but the quantity of speech that a child is exposed to that is most important for learning.

Journal Reference:

  1. Celeste Kidd, Katherine S. White, Richard N. Aslin. Toddlers use speech disfluencies to predict speakers’ referential intentions. Developmental Science, 2011; DOI: 10.1111/j.1467-7687.2011.01049.x

Dinding-Dinding Kaca

Ringkasan Buku Dinding-Dinding Kaca : Memahami Orang-Orang Autistik

Kuayun-ayunkan badan ketika dia mengayun-ayunkan badan, kukepak-kepakkan tangan ketika dia mengepak-ngepak, berteriak dan bersenandung. Kami menjulingkan mata kami pada saat yang sama, menabrakkan tubuh kami ke dinding bersama, menggigit tangan sendiri bersama-sama, membenturkan kepala kami secara serempak. Aku menjadi cerminnya.

Tak ada yang mengira, Howard Buten sang artis pantomim, penulis sejumlah novel, yang juga psikolog ini, berhasil seperti apa menjadi autistik. Dalam perjalanan panjangnya, Buten menemukan bahwa dengan meniru semirip mungkin semua gerak tubuh pasien autistik, dia bisa menarik perhatian mereka dan –yang lebih penting–mampu berempati kepada mereka. Rasa memahami ini juga menjadi jalan untuk menembus ”dinding kaca” yang mengisolasi para penyandang autisme.

Dinding-dinding Kaca adalah curahan hati Buten yang selama tiga dasawarsa bekerja dengan anak-anak autistik. Selama itu, Buten merasakan bahwa definisi dan deskripsi mengenai autisme — seperti apa dan dari mana asalnya—hanya membuat frustrasi. buten pun berusaha menemukan caranya sendiri– membuat para penyandang autisme itu menjadi hidup; membuat mereka lebih memesona dan lebih mempesona dan lebih baik.