Uni Roehana

Repost from Jejak Islam untuk Bangsa 02 Des 2015


JALAN JIHAD UNI ROEHANNA

Oleh : Tristia Riskawati

Alumni Fakultas Komuniskasi Universitas Padjadjaran

 “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan memiliki ilmu pengetahuan”

– Rohana Koeddoes ; Jurnalis muslimah pertama di tanah air.
Perempuan melakoni pekerjaan sebagai jurnalis sudah bukan hal yang tabu. Namun secara persentase jumlah jurnalis perempuan masih sedikit ketimbang jurnalis pria. Dari semua jumlah jurnalis yang ada di Indonesia, hanya tercatat 17 persen saja jurnalis perempuannya. Di Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara “liberal” saja, hanya 36 persen dari keseluruhan pekerja media yang berjenis kelamin perempuan.

Kuantitas pekerja media berjenis kelamin perempuan bukanlah sesuatu yang esensial. Perlu diperhatikan pula, apakah perempuan yang membanjiri ladang pekerjaan kewartawanan kian bermanfaat bagi masyarakat?

Dengan jumlah sedikit pun, sejarah mencatat beberapa jurnalis perempuan yang membawa perubahan bagi masyarakat. Sebut saja Veronica Guerin. Guerin merupakan jurnalis Irlandia yang memiliki kepedulian untuk meliput skandal narkotika di Irlandia pada tahun 1900-an. Tragisnya, nyawa Guerin akhirnya raib akibat ditembak oleh mafia narkotika Irlandia yang tak suka dengan ulahnya. Namun, semenjak peristiwa tersebut, pemerintah dan masyarakat Irlandia pun mulai secara serius memberantas kasus narkotika.[1]
Beralih ke wilayah Timur Tengah, dunia mencatat nama Tawakkol Karman. Muslimah asal Yaman ini ditetapkan Komite Nobel meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2011.

Tawakkol mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan. Ia juga berjuang memberantas buta huruf di kalangan perempuan.

Tawakkol juga merupakan jurnalis yang kritis. Ibu dari tiga orang anak itu pada 2005 mendirikan Perhimpunan Wanita Jurnalis Tanpa Belenggu.[2] Ditanya mengenai apakah jilbab yang dikenakannya mengekang aktivitas jurnalistiknya, Tawakkol tak setuju bukan main. Baginya, praktik mengenakan jilbab dalam Islam merupakan perlambang peradaban yang tinggi, “Manusia di masa lalu hampir telanjang. Kemudian, kecerdasan manusia berkembang manusia mulai mengenakan pakaian. Apa yang saya hari ini dan apa yang saya kenakan merupakan tingkat tertinggi pemikiran dan peradaban yang manusia telah capai,bukan sebuah pengekangan. Jika manusia sekarang perlahan mengurangi bahan pakaian pada tubuhnya, ia kembali ke zaman purba dahulu!”[3]

Indonesia pun memiliki jurnalis perempuan penabuh genderang perubahan bagi masyarakat. Ia hidup di era dan lingkungan di mana perempuan tak terbiasa mengecap pendidikan baik formal maupun informal.

Keresahan serta asanya terhadap nasib perempuan yang dimarjinalkan acapkali ia abadikan dalam pelbagai tulisan. Dialah Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes lahir di Kotogadang, Minangkabau, 20 Desember 1884. Muslimah dengan nama asli Siti Roehana adalah putri pertama dari perkawinan Moehamad Rasjad Maharadja Soetan dengan Kiam.

Ia adalah saudara sebapak dengan Sutan Sjahrir. Beruntunglah ia. Sejak kecil, Roehana mendapatkan perhatian dan dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan layak. Ayahnya memiliki beragam buku, majalah, dan surat kabar. Roehana pun, dengan restu sang ayah, melahap bacaan-bacaan ayahnya tersebut.[4] 

Tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak membedabedakan pendidikan untuk anak lelaki dan perempuan membuat Roehana tumbuh sebagai pribadi terpelajar.

Kendati demikian, karena kaum perempuan di tanah kelahirannya tak akrab dengan pendidikan[5], Roehana pun dianggap aneh dengan segala pengetahuan yang ia miliki. Sejak kecil ia memang pandai, dan rajin mebaca surat kabar secara lantang dengan bahasa arab dan melayu. Ia pun akhirnya menjadi guru mengaji cilik bagi teman-teman sebaya, bahkan bagi para remaja. [6]

Namun, berkat kegigihan Roehana dalam mengubah keadaan perempuan Minangkabau—situasi pun

perlahan terbalik. Dengan meyakinkan masyarakat setempat melalui proses yang berliku, didirikanlah

Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang mengajarkan keterampilan tangan serta pendidikan dasar seperti menulis, membaca, berhitung, agama dan akhlak[7].

Amai setia juga mengajarkan bahasa arab dan latin bagi kaum wanita.[8]

Di KAS ia dipercaya oleh lebih dari 60 perempuan dalam musyawarah, yang mendaulat dirinya menjadi pemimpin KAS. Ia kembali menjadi pengajar untuk sekolah di perkumpulan tersebut. KAS menjadi perkumpulan yang amat berkembang sehingga menjadi unit usaha perempuan pertama di minangkabau. Termasuk di dalamnya usaha simpan pinjam. Bahkan tahun 1916 ia pun pernah mendirikan Rohanna School di Bukittinggi.[9]

Kiprah Roehana memang diawali dari dunia pendidikan. Namun ternyata ia tak terhenti hingga di situ. Roehana gemar menulis. Berbagai buah pemikirannya serta saripati dari hasil bacaannya sering ia tuliskan. Jenis tulisannya beragam, mulai dari artikel, surat, serta puisi yang berisi keinginan untuk memajukan kaum perempuan. Roehana ingin agar buah pemikirannya dapat menjangkau luas tak terbatas pada muridnya saja.

Akhirnya, tercetuslah ide dalam benak Roehana untuk merintis surat kabar.

Upaya yang ia lakukan selanjutnya ialah menghubungi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Oetoesan Melajoe, Datuk Soetan Maharadja. Datuk Soetan Maharadja dikenal sebagai salah satu tokoh pers di minangkabau.

Sebelumnya ia pernah mendirikan Pelita Ketjil, sebagai surat kabar pertama berbahasa melayu dan didirikan oleh orang melayu minangkabau. Sumatera Barat, khususnya padang, menjadi salah satu kota pelopor serta penggerak dunia pers di Indonesia. Berbagai media massa dapat ditemukan dengan beragam latar, mulai dari agama (Al Moenir, Al Itqan, Al bayan) adat (Berito Minangkabau, Berito adat, Oetoesan Minangkabau), sastra (Surya) bahkan untuk anak-anak (Pelipoer Hati).

[10]

Melalui surat kepada Datuk Soetan Maharadja, Rohanna Koeddoes mengungkapkan nasib perempuan di Kotogadang. Ia menyampaikan, tujuannya menulis adalah semata-mata agar perempuan bisa mendapat pendidikan yang layak. Suratnya yang panjang dan menyentuh itu akhirnya menggugah Soetan untuk menawarkan bantuan.

Soetan pun akhirnya meminta anaknya Zubaedah Ratna Juwita bersama Roehana merintis dan mengelola surat kabar yang khusus mewartakan tentang perempuan. Pada 10 Juli 1912, terbitlah surat kabar yang Roehana idam-idamkan selama ini dengan nama Soenting Melajoe. Soenting Melajoe sendiri bermakna “Perempuan Melayu”.[11]
Pada 10 Juli 1912, terbitlah surat kabar yang Roehana idam-idamkan selama ini dengan nama Soenting Melajoe. Soenting Melajoe sendiri bermakna “Perempuan Melayu”
Ragam tulisan di Soenting Melajoe adalah artikel, syair yang berisikan imbauan kepada perempuan di mana saja berada. Terdapat pula sejarah, biografi dan berita dari luar negeri yang disadur Roehana dari mediamedia berbahasa Belanda. Selama menulis di Soenting Melajoe, Roehana tetap tinggal di Kotogadang dan mengirimkan dua artikel per minggu kepada Ratna Juwita di Padang.

Ada dua tujuan yang hendak dicapai oleh Roehana dalam keterlibatannya di bidang jurnalistik. Pertama, Roehana memiliki keinginan yang kuat untuk mengomunikasikan kepada khalayak tentang pembebasan perempuan dari keterbelakangan, terutama akses terhadap pendidikan. Di sini Roehana

ingin mengubah image masyarakat tentang perempuan, dimana perempuan itu tidak sebagai kaum yang terjajah tetapi harus dimerdekakan. Kedua, terlihat adanya “proyek” besar dari Roehana untuk mengeluarkan perempuan dari keterbelakangan ilmu pengetahuan, keterpinggiran yang dikontruksi oleh budaya, dan keterjajahan perempuan dari berbagai ketidakadilan, termasuk dalam bidang pendidikan.[12]

Ragam tema tulisan Roehana ihwal perempuan beragam. Umumnya, tulisan Roehana lebih banyak

menyoroti kehidupan perempuan dari lapisan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Ia merasakan bagaimana penderitaan perempuan dari kalangan menengah ke bawah karena ia sendiri merasakan hidupnya yang penuh perjuangan.

Roehana juga menyinggung sistem matriarchaat di Minangkabau, di mana warisan pusaka dan keluarga jatuh pada garis keturunan anak perempuan. Melalui pembahasan sistem ini, tampak pula pembelaan Roehana terhadap kaum lelaki. Dengan adanya matriarchaat, seorang nenek lebih banyak memberikan kasih sayang pada cucu dari anak perempuannya.

Sedangkan kasih sayang untuk cucu dari anak lelaki sangat kurang. Bagi Roehana, cucu dari anak jenis kelamin apapun patut mendapat kasih sayang yang layak.

Nasib perempuan-perempuan Jawa pun ia bahas.

Ia menyimpan keprihatinan terhadap perempuanperempuan yang mau dijadikan istri simpanan secara tidak sah oleh petinggi Belanda. Bahkan, ada pula yang ditelantarkan setelah lahir anak dari hubungan mereka. 

Ada pula yang anaknya diambil dan dikirim di Belanda, dan ibunya tak pernah diberi kabar nasib anaknya hingga akhir hayat.

Bahkan Soenting Melajoe yang digawangi Rohanna pernah memuat berita penindasan terhadap perempuan di perkebunan karet di Deli Serdang. Soenting Melayoe mengkritik keras pemerintah colonial yang membiarkan perempuan bekerja berat dengan upah yang sangat rendah. Situasi ini menyebabkan maraknya pelacuran di Deli Serdang. Berita ini dimuat oleh Soenting Melayoe, No. 22, 14 Juni 1915.[13]

Roehana tumbuh dan berkembang dengan adat istiadat serta pengajaran Islam. Biasanya anak perempuan hanya belajar agama tentang shalat dan menghafal Al Quran, namun mereka tidak bisa baca tulis huruf arab.

Roehana tidak mau hanya sekadar menghafal saja. Ia ingin belajar baca tulis Al Quran, dan tahu pula tafsirnya. [14] Ketika telah mempelajarinya, kemudian ia mengajari nilai-nilai Al Quran pada muridnya. Ia menekankan bahwa agama adalah tiang dari segala ilmu.[15]

Memang, nilai-nilai keislaman pada saat itu terkontaminasi ajaran adat istiadat Minangkabau yang

bertentangan dengan Islam. Hal ini dapat dilacak dari distorsi ajaran Islam oleh Kerajaan Pagaruyung di Batusangkar, Tanah Datar. Batusangkar merupakan asal keberadaaan nenek moyang masyarakat Minangkabau.

Setelah nilai-nilai Islam diterapkan secara baik oleh Kerajaan Pagaruyung, kerajaan tersebut diperintah oleh raja yang menafsirkan kaidah Islam seenaknya.

Sang raja tak segan-segan untuk berpoligami sebanyakbanyaknya, berjudi, sabung ayam, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.[16]

Kembali pada kisah Roehana, semangat memajukan nasib kaum perempuan pun berkobar tak hanya di kalangan perempuan saja. Pria pun turut menyatakan dukungannya kepada Roehana. Pada awalnya, penulis Soenting Melajoe adalah perempuan. Namun, pada perkembangannya laki-laki pun turut menyumbangkan tulisan untuk menyokong kemajuan perempuan.[17]

Rupanya, upaya perjuangan Roehana untuk memajukan kaum perempuan memunculkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Beberapa ketakutan karena Roehana dianggap akan menyuruh istri untuk tak patuh pada suami, tidak mau ke dapur, dan tidak memiliki anak.

Merupakan sesuatu yang tak layak jika perempuan terlibat aktif dalam pergerakan-pergerakan politik.[18]

Roehana menepis anggapan tersebut. Istri dari Abdoel Koeddoes ini dengan tegas berpendapat, berputarnya zaman tidak akan pernah mengubah perempuan untuk menyamai laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Hal yang harus berubah adalah pendidikan dan perlakuan yang layak bagi perempuan.[19] Berikut pernyataannya:

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah

perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan

harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan memiliki ilmu pengetahuan”[20]

‘Emansipasi’ yang Roehana maksudkan tidaklah menuntut persamaan hak antara kaum perempuan dengan laki-laki. Namun, ia ingin mengukuhkan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodrati. Roehana berpandangan, untuk dapat menjadi perempuan sejati tentulah membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Maka, ia pikir sangatlah diperlukan pendidikan untuk perempuan.[21]

Soenting Melajoe bahkan seringkali bersiteru dengan surat kabar perempuan lain, yaitu Soeara Perempoean (1917 – 1919). Soeara Perempoean yang berhaluan liberal, dengan tidak mengikat dirinya pada adat, menyuarakan kebebasan perempuan yang setara dengan perempuan Eropa. Salah satu polemiknya adalah memuat kritik terhadap perempuan yang kebablasan dalam kebebasan, yang dimuat dalam Soenting Melajoe (Jumat, 23 April 1920),

“Sebaliknja kalau ditilik poela kepada kemadjoean bangsakoe perempoean di Alam minangkabau ini, adoehai hantjoer loeloeh hatikoe, karena meingat kemadjoean mereka itoe tidaklah tambah mengharoemkan namanja Alam Minangkabau ini, hanjalah seolah-olah sebagai menanam ratjoen boeat menghinakan perempoean2 Melajoe di Alam Minangkabau ini di mata bangsa lain., kemadjoean mereka itoe soedahlah melebihi watasnja lagi memakaikan sebagaimana hak perempoean.” [22]

Roehana pun dikenal sebagai pribadi yang seimbang dalam menjalankan tugas-tugas dan tugas rumah, serta antara waktu bekerja dan beristirahat. Barangkali inilah yang membuat suaminya segenap hati mendukung Roehana, di samping karakter Abdul yang pada dasarnya berwawasan luas.

Semenjak Soenting Melajoe, Roehana tiada pernah berhenti berkiprah di dunia jurnalistik. Ia senantiasa berjuang melalui dunia ini. Misalnya ketika dia hijrah ke Medan, Roehana menjadi redaksi pada surat Kabar Perempuan Bergerak yang diterbitkan di Medan. Pada tahun 1924 Rohana kembali pulang ke kampung halaman. Meski demikian, eksistensinya sebagai “orang pers” mendapat sambutan yang luas. Roehana pun dibidik oleh surat kabar Radio yang diterbitkan oleh Cina Melayu Padang untuk menjadi redakturnya.

Selain itu, buah pikiran Rohana tersebar hingga lintas pulau melalui tulisan. Tidak hanya pada media massa terbitan lokal, tapi sudah merambah ke media yang terbit di pulau Jawa. Berkat dedikasinya di dunia pers, Roehana dinobatkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya. Pemerintah Sumatera Barat menobatkan Rohana sebagai wartawati pertama di Minangkabau, dengan diberikannya penghargaan kepada Roehana Koeddoes pada tanggal 17 Agustus 1974. Penghargaan ini diterima setelah dua tahun Roehana meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972.[23]

Selain itu, buah pikiran Rohana tersebar hingga lintas pulau melalui tulisan.

Tidak hanya pada media massa terbitan lokal, tapi sudah merambah ke media yang terbit di pulau Jawa. Berkat dedikasinya di dunia pers, Roehana dinobatkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya

Jurnalisme Berpihak

Sudah lebih dari setengah abad kemerdekaan Indonesia berumur. Keleluasaan perempuan dalam berkiprah telah jauh lebih baik dibandingkan dengan pada masa Uni Rohana. Secara umum tiada halangan berarti bagi perempuan untuk bekerja sebagai jurnalis.

Namun industri media yang kini cenderung berpihak ada kepentingan politik dan kapitalis membuat kiprah jurnalis—baik lelaki maupun perempuan—kian memudarkan mata hati masyarakat untuk tertuntun cahaya fitrah Islam.

Jurnalisme yang dilakoni Roehana adalah jurnalisme yang memihak. Secara teoritis, jurnalis dituntut untuk bersikap netral. Namun pada kenyataannya, media tentu memiliki kepentingan masing-masing baik secara terselubung ataupun secara jelas dinyatakan. Seperti itulah yang dijalankan oleh Rohanna Koeddoes yang memilih untuk memihak pada nasib perempuan, namun berada dalam naungan agama.

Roehana Koeddoes, di satu sisi tak pernah bercita-cita menjadi jurnalis. Tujuan utamanya semata-mata adalah sebuah jihad dalam menyampaikan ilmu yang ia miliki.

Menjadi jurnalis adalah media untuk menyampaikan ilmu. Berbeda dengan kecenderungan masyarakat sekarang yang lebih mengejar titel, tanpa menetapkan dengan pasti tujuan hidup mereka.

Roehana mengajarkan kita untuk menetapkan tujuan mulia di segala mula tindakan kita. Tak hanya itu, dara Minangkabau ini sangat percaya akan kekuatan mimpinya. Jika percaya serta konsisten dalam mewujudkan mimpi mulia kita, maka Allah akan mencarikan jalan agar kita menggapainya.

Tantangan antara zaman Roehana dan zaman kita tentu berbeda. Dulu, perempuan begitu dikekang atas nama tradisi. Roehana memperbaiki keadaan tersebut dengan kembali menegaskan posisi perempuan yang sesungguhnya dalam Islam. Kini, perempuan begitu liar tak terkendali atas nama modernitas. Menjadi sebuah tantangan bagi pejuang Islam kini, termasuk jurnalis, untuk kembali menegaskan jati diri perempuan sesuai dengan nur Islam.
Sumber:

[1] http://biography.yourdictionary.com/veronica-guerin

[2] http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1796326/Tawakkul-Karman

[3] http://dailymuslims.com/2012/04/28/hijab-is-a-symbol-of-the-highest-level-of-civilization-says-nobleprize-

winner/

[4] Fitriyanti, Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat, Yayasan Jurnal Perempuan : Jakarta, 2001,

hlm. 17-19

[5] Fitriyanti, Ibid, hlm. 11

[6] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil

Djambek. Hlm 5

[7] Fitriyanti Ibid, hlm. 57-58

[8] Sunarti, Sastri. Kelisanan dan Keberakasaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-

1940an), Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta, 2013.

[9] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan

Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil Djambek. Hlm 6-7

[10] Sunarti, Sastri.

[11] Fitriyanti, Ibid, hlm. 69-71

[12] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil Djambek.

Hlm 9

[13] Sunarti, Sastri. Hal 184.

[14] Fitriyanti, Ibid, hlm. 24

[15] Fitriyanti, Ibid, hlm. 35

[16] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[17] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[18] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[19] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[20] Sunarti, Linda. 2013. Islamic Women’s Movement in Indonesia in The Beginning of The 20th Century.

Universitas Indonesia. Hlm. 393-394

[21] Sunarti, Linda. 2013. Ibid, hlm 394

[22] Sunarti, Sastri.

[23] Hanani, Silfia. ibid

Advertisements

Membuat Hari Paling Bahagia

‘Jika ini adalah hari terakhirku …

Maka hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku..

Sebentar lagi akan bertemu dengannya..

Kembali pada Yang Maha Awal ^_^’

….

Saat kita memiliki yang dicintai dan mencintai,

lalu membuat janji untuk bertemu…

hari demi hari yang terlewati akan membuat kita semakin bahagia

karena akan semakin dekat saat untuk bertemu dengannya …

Menjelang hari itu datang kita berusaha mempersiapkan diri

agar tampil baik saat bertemu dengannya nanti,

Mempercantik riasan wajah,

Menjaga makanan sehingga tubuh sehat dan bagus,

Memilih pakaian yang terbaik,

Memilih sepatu atau sendal terbaik,

Berlatih berbicara sebaik dan senyaman mungkin untuk didengarnya,

Mengumpulkan berbagai informasi tentang hal-hal yang disukainya,

dan mempersiapkan berbagai kejutan untuk menyenangkannya,

Hingga besok adalah hari bertemu dengannya …

hati ini semakin dag dig gug …

semua persiapan telah dipersiapkan jauh-jauh hari terasa masih banyak yang kurang …

grogi …

bahagia …

waaah … semuanya ber-mix dalam hati dan pikiran

Namun satu yang paling mudah tersirat diwajah adalah senyum …

baik ada yang menggoda atau tidak …

ada saja hal yang membuat tersenyum bahagia …

karena besok akan bertemu dengannya

….

Ya Allah …

Buat lah hati seperti itu setiap hari ..

Merasakan seolah-olah esok adalah saat bertemu dengan-Mu

Hingga aku bisa selalu tersenyum bahagia

Memberikan senyum bahagia yang membahagiakan orang yang melihatnya

Hingga menjadi sedekah untukku dan mereka

Aamiin …

Suka yang Mana?

This slideshow requires JavaScript.

Pilih yang mana? Apakah dua-duanya bagus?

Yup … dua-duanya bagus bagiku karena aku yang kreasikan (hehe … ).

Ingat saat baru memiliki Laptop tahun 2009, setiap 3 bulan berikutnya dari bulan pembelian minimal Si Putih Hitam Byon pergi Install Ulang Program ke toko komputer.

Hingga akhirnya abang yang jaga laptop bilang, ‘Install sendiri aja gi’.

Maka berbekal anjuran dokter komputer itu, sedikit demi sedikit mulai belajar menjadi dokter Si ‘Byon’ dan kini bisa mempermak Si ‘Byon’ cayangku tuk punya penampilan seperti diatas. Alhamdulillah 🙂

Seperti kata Chef Gusteau ‘Ratatouille’ ‘Everyone can cook’, so tuk install ulang komputer/laptop ‘Everyone can do it’, yang penting keinginan tuk mau belajar dan tuk menjaga yang dimiliki.

Komputer adalah suatu sistem yang teratur dan statis, namun bisa bekerja dinamis. Ikuti aturan/langkah-langkahnya, InsyaAllah semua berjalan dengan baik dan saat berhasil melakukannya sendiri (hmmm … sungguh luar biasa).

Trus gimana cara installnya? Just udek-udek Om Google (mis; cara install laptop/ cara software mempercantik tampilan laptop/software meningkatkan kerja laptop), ia akan memberikanmu banyak jawaban dan bahkan memberikan banyak tambahan modifikasi lain yang semakin mempercantik tampilan komputer/laptop tersayang, n tentux bekerja dengan baik dan gesit. N tuk software silahkan download dulu, kalo koneksi internet GMB (gerakan menengah bawah) mari cari teman yang punya simpanan filex, salah satunya teman yang kuliah di bidang komputer 🙂 .

Selamat berkreasi 🙂

That Sky

“Cho-chan, do you arrive?”

“Hmm…just a moment ago”

“What is it look?”

“Hold on”

(Send a pic …)

“Subhanallah, look this one”

(receive a pic)

“It’s you …”

“Haha…arigatou”

“Cho-chan, they was blaa…blaa…bla….”

Then he start to marathon with his mouth about his day a week ago, look like that just happen yesterday.

***

Memulai dengan langit, ini suatu yang menyenangkan, tau kenapa? Karena ternyata langit memang berbeda di setiap tempat namun selau sama. langit itu akan selalu berbeda diwaktu dan tempat yang berbeda saat engkau melihatnya. Sering ia tampak gagah dengan warna kebangsaannya ‘biru’, namun ia juga sering berwarna kelabu saat musim hujan, atau yang setiap hari berwarna orange yang semangat di pagi hari dan berwana merah temaram di sore hari dengan bentuk yang selalu berbeda dan selalu berbeda.

Langit itu tetap sama, sama luasnya saat kau menatapnya di alam terbuka, sama lega nuansa yang dirasakan, sama indahnya (terkecuali saat awan gembul melayang rendah), dan sama inspiratifnya bagi yang sedang mencari ide.

Seperti kata-kata berikut

Panakiak pisau sirawik, batungkek batang lintabuang, salodang ambiak kanyiru.

Satitiak jadikan lawik, sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadikan guru.

Ya, langit akan mengajari kita banyak hal saat kita ingin menemukan sesuatu saat melihatnya bahkan saat hanya sekedar melihatnya. Langit akan mengajarkan kita tentang kelapangan, keceriaan, kebesaran, kewibawaan, kreatif, berani dan dinamis.

Langit itu luas, lebih luas dari loteng rumah kita, lebih luas dari bumi kita. Langit luas itu kadang tampak biru cerah, kadang tampak mendung kelabu nan muram, kadang tampak oranye pagi nan ceria, kadang tampak mesem merah di kala senja. Jika itu hati kita kita bisa bilang kalo langit biru ia sedang ceria, atau kalau itu pikiran kita berarti sedang segar untuk memunculkan ide-ide cemerlang, dan memang benar kita sering mengibaratkan hati dan pikiran kita seperti dengan kata2 langit (mengkambing hitamkan langit), contoh paling sering adalah langit mendung berarti hati kita juga lagi mendung. Satu pelajaran dari semua itu adalah bahwa semua itu terjadi di berbeda tempat di langit, saat ia tampak biru, mungkin itu ada di belahan bumi utara pada siang hari, lalu mendung ada pada belahan bumi selatan karena lagi musim hujan, sedangkan dibelahan bumi timur ia tampak orange karena mentari pagi baru muncul atau dibelahan bumi barat ia tampak merah temaran karena sang mentari baru meninggalkan belahan bumi ini dalam rotasinya. Semua dalam satu langit. Dan pelajarannya untuk hati dan pikiran kita, saat banyak rasa dalam hati, ada rasa senang, rasa lega, rasa galau, rasa sedih, rasa bangga, rasa semangat, simpati, hati dan pikiran itu juga luar biasa indahnya, seperti langit yang punya banyak warna dan itu juga tanda luasnya hati dan pikiran kita. Begitulah hati dan pikiran kita, punya banyak rasa (hmm … ini kayak kalimat iklan ya 🙂 ).

Bagaimana dengan pelajaran lainnya, keceriaan, kebesaran, kewibawaan, kreatif, berani dan dinamis? Keceriaan itu dapat kita temukan setiap pagi saat mahatari terbit, kebesaran itu kita temukan pada besarnya langit dibandingkan kita, kewibawaan kita temukan pada tingginya langit di atas kita, kreatifitas dan dinamis kita temukan pada warna dan bentuk langit yang selalu berubah, yang juga menunjukkan keberanian tampil apa adanya.

Ya, itulah ciptaan Allah Yang Maha Sempurna Ciptaannya yang memberi pelajaran untuk yang ingin memperoleh pembelajaran.

If you miss that, you just walk outside and look up to the sky. 🙂

Copy paste from ‘Qi’

Like this on Facebook

Add this anywhere

Everyday is different

This slideshow requires JavaScript.

Everyday always different….setiap hari langit di seputar simpang Muaro Penjalinan, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Indonesia selalu memberikan nuansa yang berbeda.

Beranjak dari pepatah Minang ‘Alam Takambang jadi Guru’ … Earth is the best teacher, frame alam diatas mengajari kita untuk hidup secara dinamis dan selalu bergerak seperti frame langit di simpang yang selalu berubah setiap hari. Suatu hari langit tampak cantik dengan warna merahnya, suatu hari langit tampak menawan dengan warna ungu apalagi ditemani bulan kesiangan, suatu hari langit tampak begitu romantis dengan nuansa orange sinar matahari pagi yang semangat dan suatu hari langit tampak begitu sendu. (hmm….seperti suasana hati kita yang sesaat ceria, sesaat tenang, dan kadang kala sedih)

Dibawah lukisan indah itu, berlangsung berbagai aktivitas manusia menyongsong semangat matahari pagi, mulai dari nelayan yang berangkat menuju laut dengan bagan yang besar, anak-anak yang berangkat ke sekolah, bapak-ibu yang jalan pagi dan marathon sepanjang jalan ke pantai dan sesaat ketika sampai di Ujung Batu mereka relaksasi menikmati pemandangan pantai yang selalu romantis dengan belaian ombak, dan ada juga yang menggoes sepeda di sepanjang jalan ke Ujung Batu.

Hmmm…..semua beraktivitas seiiring dengan sang pemberani muncul dibalik pegunungan Bukit Barisan dengan sinarnya yang semangat. Begitu juga dengan burung laut yang tampak juga menjadikan sinar pagi sebagai pertanda untuk pergi bekerja.

Yuk…sahabat! Terus bergerak maju setiap hari.. 🙂

Ups tunggu… masih ada yang diceritakan

Like this on Facebook

Add this anywhere

Jangkrik juga ingin mendengarnya

There were the chipmunks  climbing of the tree

I stop to look at him

He stop to look at me

I said hello

He didn’t understand and he went run away

I recited from Qur’an dan he decided to stay

Animal love to hear Qur’an and try out some day

He Stop to listen carefully every word you say

…..

and…

I found it last night

After Isya pray…

Standing to my bed, I  hold Qur’an..

Then … I hear ‘Jangkrik’ song

Enough loud,

Then I decide to start reading Qur’an

……..

Than song lost in silent

Until I finish

 

Subhanallah … begitu luar biasa ciptaan Allah ini,

Apakah kita seperti mereka dalam mendengarkan Kalam Suci?

Hmmm….let’s be better 🙂

Pasie Jambak Beach, West Sumatera, Indonesia

Subhanallah…baru ku  jelajahi tadi, ternyata di dekatku ada situs senyaman ini. Maka benar lah, saat Sang Pencipta bilang ‘berjalanlah dimuka bumi dengan rendah hati’ karena begitu banyak hikmah luar biasa yang bertebaran disana. Salah satunya ini, pinggiran jalan yang mengobati hati dan fisikmu. Datanglah kesana dan temukan nuansamu sendiri teman.

This slideshow requires JavaScript.

Potongan Kata …

Sendiri …

bingung…

Akhirnya ‘Temano’ membuatku memilih jalan kanan

berteman matahari sinar matahari pagi

Tapak hitam ‘Temano’ mengelus butiran pasie Jambak

ciiiiiiit…ku dan ‘Temano’ berhenti

bingung

kiri atau kanan?

‘tap shot’

ku dan ‘Temano’ pilih kanan lagi

wooow ….

seperti jalan setapak di Eropa

kiri kanan ada pohon berujung runcing dengan daunnya yang hijau

jalan tanah yang tampak sudah biasa dengan tapak hitam motor, sepeda dan sesekali mobil

dan lebih ke dalam …. hup

ada  perkebunan naga….haha buah naga (yummy)

pusing kanan lagi…

waaaaaaaaaaa…..

ada bibir pantai yang selalu romantis dengan kecupan lembut ombak yang buai alunan angin pantai dibawah lapangnya cakrawala

lega……….

bahagia ……..

hmmm…..’Temano’ sugoi…honto arigatou

ahaaa….ada track di bibir pantai

bersama ‘Temano’

ku ikut menjejal track-ku sendiri

hingga sekumtum bunga kuning

dikeliling pohon runcing yang hijau

hmmm….

saat menemukan jalan pulang

HOME….:)

Terima kasih ya Allah…n special to ‘Temano’ n ‘Tab’ yang setia menemaniku, mari kita temukan hikmah luar biasa lainnya 🙂

Kiseki (I Wish)

Year: 2011

Director: Koreeda Hirokazu

Screenplay: Koreeda Hirokazu

Cinematography: Yutaka Yamazaki

Cast:  Maedi Koki, Maeda Oshiro, Odagiri Joe, Otsuka Nene, Hashizume Isao, Kiki Kirin

Runtime: 128 mins

Trailer: at nipponcinema (not subtitled)

Film’s official website: 奇跡 (in Japanese)

Seen at a screening at Vue West as part of the 2011 BFI Film Festival.

Kiseki (literally “Miracle”, but titled “I Wish” in English) is a film that belongs to the ‘slice of life’ genre. There is, however, a plot line: it revolves around two boys, Koichi and Ryu (wonderfully played by real life brothers Maeda Koki and Maeda Ohshiro), who have been living in different parts of Japan since their parents’ divorce six months prior. The older boy, Koichi, lives with his mother (Otsuka Nene) and grandparents (Hashizume Isao and Kiki Kirin) and particularly struggles to accept the separation. Ryu, meanwhile, is the eternal optimist. He is forever trying to put a positive spin on things and makes the best of the situation, something that includes parenting his indie rock-musician father (Odagiri Joe). The film, which provides only some detail on the children’s life before the divorce, hints at this being one of the reasons for the boys’ separation.

 Kiseki  (berarti ‘Keajaiban’, dalam bahasa Inggris disebut ‘I Wish’) adalah sebuah film dengan genre kisah kehidupan. Plot ceritanya berkisah tentang 2 anak alaki-laki, Koichi dan Ryu (Luar biasanya diperankan oleh 2 kakak adik sesungguhanya, Maeda Koki dan Maeda Ohshiro), yang hidup terpisah di Jepang sejak kedua orang tuanya bercerai 6 bulan yang lalu. Sang kakak, Koichi, tinggal bersama ibunya (Otsuka Nene) dan kakek-neneknya (Hashizume Isao dan Kiki Kirin) dan berusaha (sulit) untuk menerima perpisahan ini. Lain halnya dengan ryu yang optimis. Ia selalu berusaha berpikir positif terhadap semua yang terjadi dan mencari solusi yang terbaik untuk itu, seperti menjaga ayahnya yang seorang musisi rock Indie (Odagiri Joe).  Film ini, hanya mencceritakan beberapa detail tentang kehidupan anak-anak tersebut sebelum orang tuanya bercerai, petunjuk yang menyatakan kenapa anak-anak itu hidup terpisah.

 Koichi overhears that when the superfast shinkansen trains on the newly built track between Kagoshima and Fukuoka (where the boys live) pass each other for the first time, wishes will come true for anyone witnessing the event, and thus concocts a plan to meet his brother in that very spot. This is the story that drives Kiseki, yet at the heart of the film are the snippets of people’s everyday lives:  Running to school with hair still wet. Watching fava beans grow. Checking for volcanic ash in the air. Eating crumbs from the bottom of a crisp bag. Boycrushing on the kind librarian. Haggling for a discount on octopus puffs (or uttering lighthearted threats otherwise).

 Koichi mendengar bahwa saat kereta Shinkansen supercepat pada jalur yang baru dibuat antara Kagoshima dan Fukuoka (tempat tinggal mereka) bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya, permohonan yang disampaikan setiap orang akan menjadi kenyataan pada saat itu, dan kemudian ia membuat rencana untuk bertemu dengan adiknya di sebuah daerah terdekat dengan tempat pertemuan kereta itu. Ini merupakan cerita memperjuangkan mimpi, sekalipun begitu inti cerita menampakkan potongan kehidupan sehari-hari setiap orang; berlari kesekolah dengan rambut yang masih basah. Melihat Kacang fava tumbuh. Memeriksa abu vulkanik di udara. Makan remah snack yang tertinggal. Kenakalan anak-anak dengan petugas pustaka. Tawar manawar diskon untuk membeli bola-bola gurita.

 

The film initially is a little slow, although it is difficult to pinpoint where exactly the excess lies because overall Kiseki feels just right. We learn about the various characters, each with his or her own quirks in personality and unique dreams. Other than Koichi, Ryu and immediate family members, there are also boys’  friends that join them on their journey of wishes, as well as few other, more minor characters (various teachers, grandpa’s sock-fiddling pals, an old couple that has long lost contact with their daughter) that add their bit to Kiseki.

 Film ini pada awalnya sedikit lambat, namun sulit untuk menentukan bagian terpenting film karena secara keseluruhan Kiseki berjalan apa adanya. Kita belajar tentang bermacam karakter, masing-masing dengan karakteristik kepribadian dan impiannya yang unik. Berbeda dengan Koichi, Ryu dan teman-temannya, dan juga teman-teman Koichi yang bergabung dalam perjalanan impian, mereka menikmati perjalanan tersebut, dan berbagai karakter kecil lainnya (beragam guru, teman-teman kakek koichi, pasangan kakek nenek yang telah lama kehilangan kontak dengan anak perempuannya) yang memberikan tambahan untuk Kiseki.

The film’s highlight is the trip to the shinkansen meeting point, not because it is the climax that Kiseki has been aiming for, but rather because it’s such a delight to see that group of seven children make their essentially crazy plan (it is a two-day trip, ingeniously afforded by selling action figures and scouring for dropped coins under vending machines, but with no overnight accommodation prearranged) happen. Even the few adults that discover what the children have set out to do, wisely let them be without interfering: it’s the children’s own, secret adventure, possible and promising miracles for them only because they are still – for a little while longer at least – children.

Bagian terpenting dari Film adalah perjalanan menuju titik pertemuan kereta shinkansen, bukan karena ini adalah klimaks dari Kiseki yang dituju, melainkan karena ini adalah bagian yang menyenangkan untuk melihat 7 anak membuat rencana gila yang mereka nilai penting (ini merupakan perjalanan 2 hari, dengan mahir menjual barang-barang mereka dan mengumpulkan uang dari mesin penjual otomatis untuk mengumpulkan uang perjalanan, namun tanpa merencanakan penginapan mereka pada malam hari) terlaksana. Walaupun sejumlah orang dewasa berusaha untuk membantu anak-anak tersebut dalam rencana mereka, mereka dengan bijak tetap membiarkan anak-anak tersebut melakukan rencana mereka tanpa ikut serta: karena itu adalah keinginan anak-anak tersebut, petualangan rahasia, keajaiban yang mungkin terjadi dan diharapkan oleh mereka hanya karena mereka masih anak-anak-untuk dipercayai beberapa lama.

Do miracles happen? The film doesn’t really answer this question. Some of the children’s wishes do not – cannot – come true as they themselves know, but others might very well: perhaps through the miraculous power of two shinkansen trains passing each other or by the effort individuals exert in order to make their dreams come true, or, a little bit of both.

Apakah keajaiban akan terjadi? Film ini tidak benar-benar memberi jawaban dari pertanyaan ini. Beberapa harapan anak-anak tersebut tidak dapat -tidak akan- menjadi kenyataan seperti yang mereka sendiri tau, walaupun untuk beberapa diantara mereka mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan; mungkin dengan keajaiban kekuatan dari pertemuan kereta Shinkansen atau dengan usaha mereka sendiri dalam memperjuangkan impian mereka menjadi kenyataan, atau, barangkali keduanya.

Pasted from <http://alualuna.wordpress.com/2011/10/18/kiseki/#comment-105>

Yuk…nonton film ini, karena menurut ledi ini adalah film motivasi, yang mengajarkan kita bagaimana mempercayai mimpi, memperjuangkannya dan mengukuhkannya dalam diri kita, hingga mendarah daging dalam tindakan dan pikirn kita dan sehingga setiap perjuangan bisa kita nikmati.

Irfan Makki n Maher Zain in ‘I Believe’

Like this….thanks to My Friend ‘Pembuat Awan’

I Believe (LYRICS)

 

When you’re searching for the light

And you see no hope in sight

Be sure and have no doubt

He’s always close to you

 

He’s the one who knows you best

He knows what’s in your heart

You’ll find your peace at last

If you just have faith in Him

 

You’re always in my heart and mind

Your name is mentioned every day

I’ll follow you no matter what

My biggest wish is to see you one day

 

Chorus:

I believe

I believe

Do you believe, oh do you believe?

 

Coz I believe

In a man who used to be

So full of love and harmony

He fought for peace and liberty

And never would he hurt anything

He was a mercy for mankind

A teacher till the end of time

No creature could be compared to him

So full of light and blessings

 

You’re always in my heart and mind

Your name is mentioned every day

I’ll follow you no matter what

If God wills we’ll meet one day

 

Chorus

 

If you lose your way

Believe in a better day

Trials will come

But surely they will fade away

If you just believe

What is plain to see

Just open your heart

And let His love flow through

 

I believe I believe, I believe I believe

And now I feel my heart is at peace

 

Chorus

 

I believe I believe, I believe I believe

 

 

Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki

Melody: Irfan Makki & Maher Zain

Arrangement: Maher Zain

Video Directed by: Lena Khan

 

Pasted from <http://www.youtube.com/watch?v=pRztmbnyV70>

 

7 Milyar orang di Dunia: Urutan ke Berapakah Anda?

7 Billion People: What Number Are You?

 

The 7 billionth person will be welcomed to the world on Monday, according to the United Nations, marking a significant moment for earth’s population, which continues to grow at an exponential pace.

In fact, it’s a pace so staggering, you may be surprised to plug in your birthday and find out what number you are.

Just 12 years ago, the earth was home to 6 billion people, according to the United Nations, and back in the 1960s, the earth’s population measured only half that number — 3 billion.

And in the time of our founding fathers, there were just 1 billion inhabitants on earth.

No one can say for certain who this 7 billionth baby will be or where they’ll be born, but scientists said they have a reasonable guess, and it all boils down to the math: India.

A baby is born in India nearly every second, making it the fastest growing country in the world. India’s population is expected to surpass that of China, currently the world’s most populous country, in only 14 years.

And in a mere decade, scientists said we’ll be preparing to welcome the 8 billionth person into the world.

Whether it’s Bismarck or Bangalore– we’ll never quite know for sure.

Pasted from <http://abcnews.go.com/blogs/headlines/2011/10/7-billion-people-what-number-are-you/>

 

7 Milyar orang: Urutan ke Berapakah Anda?

 

7 milyar orang akan disambut dunia pada hari senin, ini berdasarkan PBB,  ini menandakan besarnya populasi di bumi, yang akan terus bertambah dengan grafik yang meningkat.

Pada kenyataannya, ini merupakan peningkatan yang mengejutkan, anda akan terkejut saat memasukkan tanggal lahir anda dan mengetahui urutan ke berapakan anda (find out what number you are.)

12 tahun yang lalu, bumi hanya dihuni sekitar 6 milyar orang, berdasarkan data PBB, dan pada tahun 196an, populasi di bumi terhitung hanya setengah dari jumlah tersebut — 3 milyar orang.

Dan pada saat kakek buyut kita dulu, hanya terdapat sekitar 1 milyar penghuni di bumi.

Tidak ada yang dapat menebak dengan tepat siapakah bayi ke 7 milyar yang akan lahir atau dimana mereka akan lahir, tetapi para peneliti mengatakan bahwa mereka memiliki sebuah tebakan yang beralasan, dan berdasarkan perhitungan matematika bayi itu lahir di India.

Seorang bayi lahir di India hampir setiap detik, ini membuat India menjadi negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Populasi di India dimungkinkan  akan melebihi  jumlah populasi di China, yang saat ini merupakan negara dengan populasi terbanyak di dunia, hanya dalam 14 tahun.

Dan dalam satu dekade saja, para peneliti mengatakan kita akan bersiap untuk menyambut penghuni bumi yang ke 8 milyar di dunia.

Apakah itu Bismarck atau Bangalore– kita tidak akan pernah tahu pastinya.

Yang penulis tau….ini urutan penulis dalam penduduk dunia

Dan ini populasi di Indonesia

Dilihat dari jenis kelamin, ini tingkat perharapan hidupku