Akira Ikemi (Profesor of Psychology University Kansai, Japan)

Profile:  Akira Ikemi

I grew up in the port of Kobe, Japan, which used to be the largest trading port in all of Asia. I grew up in an international community with kids from India, Philippines, Hong Kong, Taiwan, Korea, Indonesia, Germany, France, Belgium, Italy, Switzerland, United States of America, United Kingdom, Australia and more.  As I was growing up, I always wondered about how language affects our thinking, feeling and sense of self.

Saya besar di pelabuhan Kobe, Jepang, pelabuhan perdagangan terbesar di seluruh Asia. Saya tumbuh dalam komunitas internasional bersama dengan anak-anak dari India, Filipina, Hongkong, Taiwan, Korea, Indonesia, Jerman, Francis, Belgia, Italia, Switzerland, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan lainnya. Seiiring pertambahan usia, saya selalu heran tentang bagaimana bahasa dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan dan penilaian kita pada diri.

This led me to double major in psychology and philosophy at Boston College and then to study with Professor Eugene Gendlin, a philosopher and psychotherapist, at the University of Chicago, graduate school.  I continued to study Focusing and Focusing-Oriented Therapy, developed by Dr.Gendlin, trying to use it in my work as a psychologist at the psychosomatic unit of KitaKyushu Municipal Hospital (Kokura).  I went on and got a doctorate in medical sciences at the University of Occupational and Environmental Health, Japan (UOEH) where I was engaged in mind-body research, studying the physiology of meditative states, using Autogenic Training.

Ini mendorong saya pada dua ilmu dalam psikologi dan filosofi di Kampus Boston dan selanjutnya belajar bersama dengan profesor Eugene Gendlin, seorang filosofis dan psikoterapis, di Universitas Chicago, pascasarjana. Saya melanjutkan pendidikan mengenai Terapi Focusing dan Focusing Oriented, yang dikembangkan oleh Dr. Gendlin, berusaha menggunakan terapi ini dalam pekerjaan saya sebagai psikolog di Unit Psikosomatik Rumah Sakit Kitakyushu Municipal (Kokura). Saya melanjutkan pendidikan dan memperoleh gelar doktoral di Ilmu Kedokteran Universitas Kesehatan Lingkungan dan Pekerjaan, Jepang (University of Occupational and Enviromental Health) dimana saya melakukan penelitian mengenai pikiran-tubuh, mempelajari fisiologi dalam kondisi meditasi, menggunakan Autogenic Taining.

At UOEH I got involved in corporate mental health, a field that I continue to work in.  I got into full time teaching at UOEH, then at Okayama University, School of Education and then Kobe College.   During a decade at Kobe College, I met a lot of interesting colleagues and students, and served as  the Chair of the Psychology Department, and the Dean of Academic Affairs. During this time, I helped set up the Japan Focusing Association, and served as the Executive Director and later, President. In 2006 I moved to Kansai University in Osaka where I teach in the Graduate School of Professional Clinical Psychology.

I teach as adjunct faculty at Kobe College and Hyogo University of  Teacher Education.  I am a board member of the Japanese Association of Humanistic Psychology and the Japanese Society of Autogenic Training as well as members of several other professional organizations.  I also practice as a Focusing-Oriented Therapist privately and at an automobile corporation.

Di UOEH, saya bergabung di bagian kesehatan mental, dimana selanjutnya saya bekerja. Saya mengajar penuh di UOEH, setelah itu juga mengajar di Universitas Okayama, Sekolah Keguruan dan Akademi Kobe. Selama satu dekade di Akademi Kobe, saya bertemu banyak kolega dan mahasiswa yang menarik, dan menjabat sebagai Ketua jurusan Psikologi, da Dekan Bidang Pendidikan. Sekarang, saya membantu di  Japan Focusing Association dan menjabat sebagai Eksekutif Direktur, dan selanjutnya sebagai President. Pada tahun 2006, saya pindah ke Universitas Kansai d Osaka dimana saya mengajar di pascasarjana Profesi Psikologi Klinis. Saya mengajar sebagai asisten fakultas di Akademi Kobe dan Pendidikan Guru Universitas Hyogo. Saya anggota dari  Japanese Association of Humanistic Psychology dan the Japanese Society of Autogenic Training. Saya juga membuka praktek Focusing-Oriented Therapist sendiri dan bersama lembaga.

Lacak Siswa Bolos dengan GPS

Lacak Siswa Bolos, SMP Gunakan GPS

Cara ini berhasil meningkatkan kehadiran murid di sekolah menjadi 95 persen.
Selasa, 22 Februari 2011, 16:16 WIB

Indra Darmawan

 

GPS berhasil mengurangi tingkat bolos anak sekolah (Corbis)
VIVAnews – Sebuah sekolah menengah di California Amerika Serikat menggunakan perangkat navigasi berbasis satelit, Global Positioning Satellite (GPS) untuk melacak keberadaan siswanya yang raib dari kelas.

Seperti dikutip dari media Orange County Register, Anaheim Union High School District awalnya cukup kerepotan dengan siswa-siswanya yang punya kebiasaan bolos dari sekolah. Akhirnya mereka menerapkan sebuah program pilot yang memanfaatkan GPS untuk mengurangi angka bolos sekolah yang cukup tinggi.

Sekolah Anaheim High School District adalah sekolah menengah itu merupakan sekolah pertama di California yang mengikuti program yang akan berlangsung selama enam bulan itu.

“Ide dari program ini adalah agar murid tidak merasa bahwa ini merupakan sebuah hukuman, melainkan merupakan intervensi untuk menolong mereka untuk memiliki kebiasaan yang lebih baik untuk masuk sekolah,” kata Miller Sylvan, Regional Director for AIM Truancy Solutions.

Siswa dan orang tua murid harus terlebih dahulu menandatangani surat perjanjian untuk mengikuti program secara sukarela. Setiap murid Kelas 7 dan 8 (setingkat SMP kelas 1 dan 2) yang absen tanpa alasan selama 4 hari atau lebih, bisa mengikuti program ini.

Setiap pagi di hari sekolah, siswa akan mendapat telepon yang mengingatkan agar mereka berangkat ke sekolah. Lalu, lima kali sehari, mereka harus memasukkan koordinat dari GPS agar keberadaan mereka bisa dilacak. Yakni saat berangkat sekolah, saat tiba di sekolah, saat makan siang, saat meninggalkan sekolah, dan pada pukul 8 malam.

Siswa juga ditugaskan untuk hadir pada sesi adult coach tiga kali sepekan, untuk mengetahui perkembangan dan cara yang efektif agar mereka bisa masuk sekolah tepat waktu.

Oleh karenanya, siswa-siswa yang mengikuti program, akan diberikan perangkat GPS seharga US$300-400 (sekitar Rp 2,6 juta – Rp 3,5 juta). Sebelum ini,  sekolah-sekolah di San Antonio dan Baltimore juga telah menerapkan program ini.

Hasilnya, kehadiran murid di sekolah-sekolah itu meningkat dari 77 persen menjadi 95 persen, selama program tersebut. Namun, program tersebut tak sepenuhnya direspon positif oleh semua kalangan.

Menyuruh anak-anak membawa sesuatu yang bisa melacak lokasi mereka, kelihatannya cukup ekstrim. Ini membuat kami seperti seorang kriminil,” kata Raphael Garcia, siswa kelas 6 yang telah enam kali absen tanpa keterangan yang bisa ditolerir.

Senada dengan Garcia, Juan Cruz, siswa Dale Junior High School. Saat ditanya, apakah ia akan menggunakan GPS untuk memberitahukan lokasinya, Raphael mengatakan, “Tidak.”

Setidaknya, Cruz yang telah lima kali absen yang tak ditolerir, mengatakan ia akan menjaga GPS itu di kantungnya, agar tidak hilang. Sebab, bila GPS itu hilang, orang tuanya akan diminta untuk mengganti GPS yang hilang. “Saya pikir ini ide yang baik untuk menolong dia,” kata Cristina Cruz, ibu Raphael. (sj)

• VIVAnews