Anak-anak ADHD dan Ayah-Ayah Mereka

Boys With ADHD and Their Dads

By Anita M. Schimizzi, Ph.D. On December 14, 2011 ·

A couple of months ago, I wrote about a study that looked at moms and children with ADHD.  Some readers responded with wanting more information on the role of dads in their child’s ADHD.  Well, I found an article in the Journal of Abnormal Child Psychology that studied dads and looked at the impact that their early relationships with their children have on later ADHD symptoms.  And, yes, the study suggests that the early father-child relationship does indeed seem to be related to middle-childhood ADHD symptoms.  (The study looked at the maternal role also, but I am going to focus on the paternal role here.  The citation is below if you’d like to read the whole study.)

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang sebuah penelitian mengenai ibu dan anak-anak mereka yang mengalami gangguan ADHD. Sejumlah pembaca merespon dengan meminta informasi lebih tentang peran ayah terhadap anak-anak mereka yang mengalami ADHD. Baik, saya menemukan sebuah artikel dalam Jurnal Psikologi Abnormal Anak yang mempelajari tentang ayah dan pengaruh hubungan awal mereka dengan anak-anak yang menunjukkan gejala ADHD. Dan, benarlah, penelitian ini menyatakan bahwa hubungan awal ayah dan anak tampak benar-benar berhubungan dengan gejala ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak. (Penelitian juga memperhatikan peran ibu, namun saya hanya fokus pada peran ayah yang ada dalam artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui seluruh isi penelitian, silahkan membaca kutipan penelitian berikut).

The study took place in New Zealand and included 93 preschool boys that were placed in a “hyperactive” group, control group, or in another comparison group where symptoms were present but less severe and, thus, gave the researcher the ability to look at a wide range of ADHD symptoms.  According to the author, only boys were included both because of logistics and because they tend to have more observable behaviors linked to ADHD than girls.  Eighty-nine fathers participated.  Data was collected using parent observations, interviews, and questionnaires, as well as teacher questionnaires.  The study spanned three years, starting when the boys were an average of four years-old.   A second round of data was collected two and a half years later when the boys were an average age of seven.

Penelitian tersebut dilaksanakan di New Zealand dan melibatkan 93 bocah laki-laki pra sekolah yang dikelompokkan dalam kelompok ‘hiperaktif’, kelompok kontrol, atau dalam kelompok pembanding lain dimana mereka menunjukkan gejala ADHD yang tergolong rendah dan, jadi, memberi peneliti kesanggupan untuk melihat rentang yang luas dari gejala ADHD. Berdasarkan penjelasan penulis, hanya anak laki-laki yang dilibatkan dalam kedua kelompok tersebut karena alasan logistik dan karena mereka cenderung lebih mudah diobservasi berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Delapan puluh satu ayah terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi orang tua, wawancara, dan kuisioner,  seperti kuisioner yang diberikan guru. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 3 tahun, dimulai saat anak-anak tersebut berusia sekitar 4 tahun. Pengambilan data kedua dilakukan sekitar dua setengah tahun kemudian saat anak-anak tersebut berusia sekitar 7 tahun.

The author, Louise Keown, looked at three areas of paternal responsiveness (sensitivity (e.g., being tuned into the son’s needs), intrusiveness (e.g., controlling son’s play), and positive regard (e.g., warmth and affection toward son)) and the presence of later ADHD symptoms.  The results took into account early ADHD and behavior problems.  In other words, the results looked at how fathers’ parenting impacted middle childhood ADHD above and beyond preschool problems in this area.

Penulis, Louise Keown, menekankan pada tiga area kemampuan reaksi dari ayah ‘paternal responsiveness’ (sensitivitas (seperti menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak laki-lakinya), intrusiveness (seperti mengontrol permainan anak), dan penghargaan yang positif (seperti, kehangatan dan perasaan pada anak laki-lakinya)) dan gejala ADHD yang muncul kemudian. Hasil dimasukkan dalam laporan ADHD awal dan gangguan perilaku. Dengan kata lain, hasilnya menunjukkan bagaimana pengasuhan ayah mempengaruhi ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak setelah dan sebelum pra sekolah di daerah ini.

Here’s what the study found.  Fathers that were characterized as more sensitive and less intrusive with their preschool sons had sons that were later found to be less hyperactive and impulsive at school, according to teachers, and more attentive at home, according to fathers.   Further, higher levels of paternal positive regard in early childhood were related to their sons showing lower levels of inattention at both home and school in middle childhood, according to teacher and maternal reports.

Berikut ini adalah penjabaran hasil penelitian. Ayah dengan karakteristik lebih sensitif dan kurang intrusive (mengganggu) anak-anak laki-laki mereka yang berusia pra sekolah memiliki anak laki-laki yang kemudian diketahui kurang hiperaktif  dan impulsif di sekolah, menurut guru, dan lebih hiperaktif di rumah, menurut ayah. Selanjutnya, tingkat perhargaan positif yang tinggi dari ayah pada masa awal anak-anak berkaitan dengan anak mereka dengan menunjukkan tingkat tingkat ketidak perhatian ‘inattention’ yang rendah baik dirumah dan di sekolah pada masa awal anak-anak, menurut laporan  guru dan ibu.

In her discussion of the findings, Keown discusses the importance of fathers learning how to sync up with their sons to give them what they need in any given moment.  For example, a son that gets frustrated and angry with trying to build a block tower that keeps tumbling down will likely have a different response to a father that reprimands him for the outburst as opposed to validating the son’s emotions (e.g., “Wow!  It’s so frustrating when you try to build a tower that keeps falling down.”).  Another example could be a preschooler that starts running around like a maniac at a birthday party because he is over-stimulated and rather than giving him some time and space away from the chaos to get settled again, his father tells him to slow down.  While the cues may be subtle, it is important to learn how to read them.

Dalam pembahasanya mengenai hasil penelitian, Keown menjelaskan pentingnya ayah belajar tentang bagaimana mereka selaras dengan anak laki-laki mereka dalam memberikan mereka apa yang mereka inginkan di setiap kesempatan. Contohnya, seorang anak yang menjadi frustasi dan marah saat membangun menara balok yang tetap runtuh akan memiliki kemungkinan besar memiliki suatu respon yang berbeda pada seorang ayah yang menegur dirinya terhadap ledakan sebagai pertentangan untuk membenarkan emosi anaknya (seperti, “Wow! Sungguh menyebalkan saat kamu berusaha membangun menara yang tetap runtuh.”). Contoh lain, seorang anak prasekolah yang mulai berlarian kesana-kemari seperti seorang maniak saat pesta ulang tahun karena ia terlalu terstimulir dan dibanding memberi mereka waktu dan ruang bagi anak dari kekacauan yang sedang dibuat untuk memulihkan diri, ayahnya malah menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun isyarat yang diberikan tidak begitu jelas, ini merupakan hal yang penting untuk mempelajari gejala-gejala tersebut.

Keown also discusses the finding of paternal intrusiveness and hyperactivity-impulsivity at school.  She argues that fathers that disrupt their son’s activities and limit the amount of control that sons have over play may also be limiting their opportunity to learn how to self-regulate their behaviors.  In other words, sons that are controlled by an outside force may not learn to control themselves from within.

Keown juga membahas hasil penelitian mengenai paternal intrusiveness dan perilaku hiperaktif kompulsif di sekolah. Dia sangat menganjurkan bahwa ayah yang mengganggu aktifitas anak mereka dan membatasi anak-anak mereka dalam bermain juga akan membatasi kesempatan anak mereka untuk belajar melakukan self-regulasi terhadap perilaku mereka. Dengan kata lain, anak-anak yang dikontrol oleh tekanan dari luar diri mereka tidak akan bisa belajar untuk mengontrol perilaku mereka sendiri.

Last month, I posted on mindful parenting.  The results of the current study can also be applied to this concept.  When dads can step away from their agenda and allow a child’s activity to unfold, supporting them as necessary, it sends the message that the child’s desires are important and that there is a safety net in place when they need it.  Also, nothing can replace the important father-child interaction in a given activity.  The kind where you work together in a rhythm that feels good to both parties. Not only can this be a rewarding way to spend time with your child, but it can also be an opportunity for learning more about your child’s cues and how to meet him where he is.

Bulan lalu, saya menerbitkan di mindful parenting. Hasil dari penelitian tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konsep ini. Saat ayah dapat mengesampingkan agenda mereka dan beraktifitas dengan anak, mendukung mereka sebagaimana seharusnya, ini memberikan pesan bahwa keinginan anak-anak adalah suatu yang penting dan ada tempat yang aman saat mereka membutuhkannya. Dan juga, tidak ada yang dapat menggantikan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam aktifitas beri memberi. Semacam bekerja sama dalam satu keselarasan sehingga merasa senang untuk kedua belah pihak. Tidak hanya dapat ini menjadi cara untuk menghargai anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, namun ini juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang isyarat anak ADHD dan bagaimana menemukan mereka dimana mereka berada.

This post is certainly not meant to criticize fathers.  On the contrary, I hope that fathers will recognize the importance of their relationship with their sons (and daughters!) and find the information to be useful.  Additionally, it is hoped that parenting partners and professionals can support fathers in their relationships with their kids in a way that reduces the chances of heightened ADHD symptoms in middle childhood and beyond.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi para ayah. Namun sebaliknya, saya berharap para akan mengenali pentingnya hubungan mereka dengan anak-anaknya dan mencari informasi yang bermanfaat. Apalagi, pengasuh dan ahli profesional diharapkan dapat mendukung para ayah dalam hubungan mereka dengan anak-anaknya sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk memuncaknya gejala ADHD di pertengahan masa kanak-kanak dan sebelumnya.

Thanks for reading!  -Anita

Source: Keown LJ (2011). Predictors of Boys’ ADHD Symptoms from Early to Middle Childhood: The Role of Father-Child and Mother-Child Interactions. Journal of abnormal child psychology PMID: 22038253

Pasted from <http://www.child-psych.org/2011/12/boys-with-adhd-and-their-dads.html>

Fatherhood Helps Men Break Bad Habits (Peran Ayah Membantu Merubah Perilaku Buruk Laki-laki)

Becoming a father can help men break some nasty habits.

Menjadi seorang ayah dapat membantu laki-laki mnghilangkan sejumlah perilaku buruk.

A new long-term study in the Journal of Marriage and Family found significant decreases in crime, tobacco and alcohol use after men became fathers for the first time.

Sebuah penelitian jangka panjang dalam ‘Journal of Marriage and Family menemukan penurunan signifikan tingkat kriminal, penggunaan rokok dan alkohol setelah seorang laki-laki menjadi seorang ayah untuk pertama kali.

The 19-year study involved more than 200 males, between the ages of 12 to 31, who lived  in neighborhoods with higher-than-average rates of juvenile delinquency.

Penelitian selama 19 tahun tersebut dilakukan pada 200 laki-laki, yang berusia mulai dari 12 hingga 31 tahun, mereka tinggal di lingkungan dengan rata-rata tingkat kekerasan yang tinggi.

Researchers wanted to see how the subjects’ criminal behavior changed as they moved through adolescence into adulthood. The study also assessed how the men’s tobacco, alcohol and marijuana use evolved over that same period.

Para peneliti ingin melihat bagaimana perilaku pelaku kriminal berubah seiring mereka beranjak dari masa remaja ke masa dewasa. Penelitian juga meneliti bagaimana laki-laki pecandu rokok, aklohol dan ganja berkembang pada periode tersebut.

“These decreases were in addition to the general tendency of boys to engage less in these types of behaviors as they approach and enter adulthood,” says study lead author David Kerr, an assistant professor of psychology at Oregon State University.

“Penurunan ini merupakan tambahan terhadap kecenderungan umum remaja laki-laki berhubungan dengan tipe-tipe perilaku tersebut seiiring mereka memasuki masa dewasa,” kata pimpinan penelitian David Kerr, seorang asisten profesor Jurusan Psikologi Universitas Negeri Oregon.

Looking at the influences of peer pressure on anti-social behavior and substance abuse, Kerr says men tend to spend less time with their childless peers once they become fathers.

Melihat pengaruh dari tekanan kelompok terhadap perilaku anti sosial dan kekerasan, Kerr mengatakan bahwa laki-laki berusaha untuk menghabiskan sedikit waktu dengan kelompok yang tidak memiliki keturunan saat mereka menjadi seorang ayah.

They also devote more time to their immediate and extended families, possibly in church and community service, settings that are somewhat incompatible with behaviors like substance abuse and criminal behavior.

Mereka juga menyediakan waktu yang lebih banyak untuk pasangan dan keluarga besar, ikut kegiatan keagamaan dan komunitas sosial, lingkungan yang bertolak belakang dengan perilaku seperti tindak kekerasan dan perilaku kriminal.

However, not all first-time fathers are pushed into making a change. Instead, they want to change or are drawn into taking positive steps to become a better person.

Walaupun, tidak semua ayah yang akan menjadi ayah untuk pertama kalinya terdorong untuk melakukan perubahan. Malahan, mereka ingin untuk berubah atau begitu tertarik untuk melakukan langkah yang positif untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

For example, Kerr says many men may be drawn to fatherhood as a demonstration of masculinity, which shows they can protect and provide for their families.

Contohnya, Kerr mengatakan laki-laki mungkin benar-benar memainkan peran sebagi seorang ayah untuk menunjukkan sifat maskulinnya, yang menunjukkan mereka dapat melindungi dan ada untuk keluarganya.

Men who were in their late 20s and early 30s when they became fathers showed greater decreases in crime and alcohol use as compared to those who had their first child much earlier, like in their teens or early 20s.

Laki-laki menjelang usia 20 atau baru memasuki usia 30 tahun ketika mereka menjadi seorang ayah menunjukkan penurunan yang besar dalam hal tindakan kriminal dan penggunaan alkohol dibandingkan dengan mereka yang menjadi seorang ayah pada usia yang lebih muda, seperti remaja atau laki-laki yang baru memasuki usia 20 tahun.

Kerr says that could be because men who had children later might have been more able or willing to embrace fatherhood and shed negative lifestyle choices.

Kerr mengatakan hal itu dapat disebabkan karena laki-laki yang memperolah anak pada usia yang lebih tua lebih mampu atau mau untuk melakukan peran seorang ayah dan menahan pilihan hidup yang negatif.

“This research suggests that fatherhood can be a transformative experience, even for men engaging in high risk behavior,”  Kerr says, adding that new fathers might be especially willing and ready to hear a more positive message and make behavioral changes.

Penelitian ini menyarankan bahwa peran seorang ayah dapat menjadi pengalaman trnformatif (perubahan), juga bagi laki-laki dengan perilaku yang sangat buruk sekalipun,” Kerr mengatakan , ia menambhkan bahwa seseorang yang baru menjadi ayah barangkali memiliki keinginan istimewa dan siap untuk mendengarkan masukan positif dan melakukan perubahan perilaku.

Pasted from <http://blogs.voanews.com/science-world/2011/11/18/fatherhood-helps-men-break-bad-habits/>