‘Um’s’ dan ‘Uh’s’ Orang Tua Membantu Anak Mempelajari Kata-Kata Baru, Temuan Peneliti Kognitif

Parents’ ‘Um’s’ and ‘Uh’s’ Help Toddlers Learn New Words, Cognitive Scientists Find

ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — Sebuah tim peneliti kognitif memperoleh berita baik untuk orang tua yang mengkhawatirkan bahwa mereka  memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka saat berkata “um” and “uh.” Sebuah penelitian yang dilaksanakan di University of Rochester’s Baby Lab menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya menggunakan gumaman dan keraguan orang tua mereka (secara teknikal seperti ketidak lancaran berbicara) untuk membantu mereka mempelajari bahasa dengan lebih efisien.


ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — A team of cognitive scientists has good news for parents who are worried that they are setting a bad example for their children when they say “um” and “uh.” A study conducted at the University of Rochester’s Baby Lab shows that toddlers actually use their parents’ stumbles and hesitations (technically referred to as disfluencies) to help them learn language more efficiently.


Contohnya, saat anda berjalan di kebun binatang dengan anakmu yang berusia dua tahun dan anda berusaha mengajarinya nama-nama binatang. Anda menunjuk pada badak dan berkata, ‘”Lihat itu, uh, uh, Badak.” Ini selain anda meraba-raba kata yang benar, anda juga menunjukkan kepada anak anda bahwa anda mengajarkannya suatu hal baru, berdasarkan peneliti (??).

For instance, say you’re walking through the zoo with your two-year-old and you are trying to teach him animal names. You point to the rhinoceros and say, “Look at the, uh, uh, rhinoceros.” It turns out that as you are fumbling for the correct word, you are also sending your child a signal that you are about to teach him something new, so he should pay attention, according to the researchers.

Anak-anak mendapatkan banyak informasi untuk diproses saat mereka mendengar orang dewasa berbicara, termasuk banyak kata-kata yang telah mereka belum pernah peroleh sebelumnya. Jika otak seorang anak menunggu sampai sebuah kata baru diucapkan dan kemudian berusaha untuk membayangkan apakah artinya, ini menjadi sebuah tugas yang lebih sulit dan anak mudah salah untuk memahami kata selanjutnya, kata Richard Aslin, seorang profesor ilmu otak dan kognitif di University of Rochester dan seorang penulis.

Young kids have a lot of information to process while they listen to an adult speak, including many words that they have never heard before. If a child’s brain waits until a new word is spoken and then tries to figure out what it means after the fact, it becomes a much more difficult task and the child is apt to miss what comes next, says Richard Aslin, a professor of brain and cognitive sciences at the University of Rochester and one of the study’s authors.

“Semakin banyak prediksi yang dapat dibuat seorang pendengar tentang sesuatu yang akan dikomunikasikan, semakin efisien seorang pendengar untuk mengerti hal tersebut,” ujar Aslin.

“The more predictions a listener can make about what is being communicated, the more efficiently the listener can understand it,” Aslin said.

Penelitian, yang dilakukan oleh Celeste Kidd, seorang tamatan University Rochester, dan Katherine White, tamatan postdoctoral Rochester yang sekarang bekerja di University Waterloo, dan Aslin telah menerbitkan secara pada tanggal 14 April di the journal Developmental Science.

The study, which was conducted by Celeste Kidd, a graduate student at the University of Rochester, Katherine White, a former postdoctoral fellow at Rochester who is now at the University of Waterloo, and Aslin was published online April 14 in the journal Developmental Science.

Para peneliti mempelajari 3 kelompok anak yang berusia antara 18 dan 30 bulan. Setiap anak duduk di pangkuan orang tua mereka berhadapan dengan sebuah monitor dengan alat pelacak gerakan mata. Dua gambar muncul di layar: satu gambar benda yang biasa dijumpai (seperti sebuah bola atau sebuah buku) dan sebuah gambar baru dengan nama tertentu (seperti “dax” or  “gorp”). Sebuah suara rekaman disampaikan dengan bahasa yang sederhana tentang objek tersebut. Saat suara gumaman dan berkata “Lihat itu, uh…” anak secara instingtif melihat gambar baru tersebut lebih sering dibandingkan dengan objek yang biasa ia lihat (hampir mencapai 70 persen ).

The researchers studied three groups of children between the ages of 18 and 30 months. Each child sat on his or her parent’s lap in front of a monitor with an eye-tracking device. Two images appeared on the screen: one image of a familiar item (like a ball or a book) and one made-up image with a made-up name (like a “dax” or a “gorp”). A recorded voice talked about the objects with simple sentences. When the voice stumbled and said “Look at the, uh…” the child instinctively looked at the made-up image much more often than the familiar image (almost 70 percent of the time).

“Kami tidak menyarankan orang tua menambah kegagapan dalam berbicara mereka, tapi saya berpikir baik bila mereka tahu bahwa menggunakan selaan verbal ini baik —  “uh’s” dan “um’s” adalah suatu yang informatif,” ujar Kidd, pimpinan penelitian.

“We’re not advocating that parents add disfluencies to their speech, but I think it’s nice for them to know that using these verbal pauses is OK — the “uh’s” and “um’s” are informative,” said Kidd, the study’s lead author.

Dalam penelitian, efeknya hanya terlihat jelas pada anak-anak yang berusia diatas 2 tahun. Anak-anak yang berusia dibawah 2 tahun, peneliti beralasan, belum mempelajari tentang kegagapan memberi pengaruh  terhadap kata-kata baru atau yang tidak diketahui.

In the study, the effect was only significant in children older than two years. The younger children, the researchers reasoned, had not yet learned the fact that disfluencies tend to precede novel or unknown words.

Saat anak-anak usia antara 2 atau 3 tahun, mereka biasanya berada pada tahap perkembangan dimana mereka dapat menyusun kalimat yang belum sempurna yang terdiri dari 2 sampai 4 kata. Dan mereka biasanya telah memiliki beberapa ratus kata.

When kids are between the ages of two and three, they usually are at a developmental stage where they can construct rudimentary sentences of about two to four words in length. And they typically have a vocabulary of a few hundred words.

Penelitian sebelumnya oleh Jennifer Arnold, seorang ilmuwan di University North Carolina dan tamatan postdoctoral Rochester, menemukan bahwa orang dewasa juga dapat menggunakan “um’s” and “uh’s” untuk membantu mereka dalam memahami bahasa. Apalagi, penelitian Anne Fernald di Stanford University menunjukkan bahwa bukanlah kualitas melainkan kuantitas berbicara yang diarahkan pada anak-anak yang terpenting dalam pembelajaran.

The study builds on earlier research by Jennifer Arnold, a scientist at the University of North Carolina and a former postdoctoral fellow at Rochester, which found that adults also can use “um’s” and “uh’s” to their advantage in understanding language. Additionally, work by Anne Fernald at Stanford University has shown that it’s not the quality but the quantity of speech that a child is exposed to that is most important for learning.

Journal Reference:

  1. Celeste Kidd, Katherine S. White, Richard N. Aslin. Toddlers use speech disfluencies to predict speakers’ referential intentions. Developmental Science, 2011; DOI: 10.1111/j.1467-7687.2011.01049.x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s