Theories of Intelligence

By Kendra Cherry, About.com Guide

Walaupun kecerdasan adalah salah satu bahan yang banyak paling banyak dibicarakan dalam psikologi, belum ada pengertian standar tentang apa yang dimaksud  dengan ‘kecerdasan’. Sejumlah peneliti telah mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan suatu hal yang tunggal, kemampuan umum, sementara yang lain percaya bahwa kecerdasan gabungan dari bakat, kemampuan dan bakat.

While intelligence is one of the most talked about subjects within psychology, there is no standard definition of what exactly constitutes ‘intelligence.’ Some researchers have suggested that intelligence is a single, general ability, while other believe that intelligence encompasses a range of aptitudes, skills and talents.

 

Berikut sejumlah teori besar mengenai kecerdasan yang telah muncul selama 100 tahun terakhir.

The following are some of the major theories of intelligence that have emerged during the last 100 years.

 

Charles Spearman – General Intelligence:

Psikolog Inggris Charles Spearman (1863-1945) menjelaskan sebuah konsep yang kenalkannya sebagai kecerdasan umum, atau G faktor. Setelah menggunakan sebuah teknik yang dikenal sebagai analisis faktor untuk menentukan beberapa tes bakat, Spearman menyimpulkan bahwa skor pada tes tersebut hampir sama. Seseorang yang memperoleh hasil baik pada satu tes kognitif cenderung menunjukkan hasil yang baik pada tes yang lain, sementara seseorang yang memiliki skor yang rendah pada salah satu tes cenderung menunjukkan skor yang rendah juga pada tes yang lain. Ia menyimpulkan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan kognitif umum yang dapat diukur dan ditunjukkan dengan angka (Spearman, 1904).

British psychologist Charles Spearman (1863-1945) described a concept he referred to as general intelligence, or the g factor. After using a technique known as factor analysis to to examine a number of mental aptitude tests, Spearman concluded that scores on these tests were remarkably similar. People who performed well on one cognitive test tended to perform well on other tests, while those who scored badly on one test tended to score badly on other. He concluded that intelligence is general cognitive ability that could be measured and numerically expressed (Spearman, 1904).

 

Louis L. Thurstone – Primary Mental Abilities:

Psikolog Louis L. Thurstone (1887-1955) menyajikan pengertian berbeda tentang teori kecerdasan. Dibandingkan pandangan tentang kecerdasan sebagai suatu yang tunggal, kemampuan umum, teori Thurstone berfokus pada tujuh ‘kemampuan mental dasar’ yang berbeda (Thurstone, 1938). Kemampuan tersebut diantaranya:

Psychologist Louis L. Thurstone (1887-1955) offered a differing theory of intelligence. Instead of viewing intelligence as a single, general ability, Thurstone’s theory focused on seven different “primary mental abilities” (Thurstone, 1938). The abilities that he described were:

  • Pemahaman Verbal (Verbal comprehension )
  • Memberi alasan (Reasoning)
  • Kecepatan Persepsi (Perceptual speed )
  • Kemampuan Numerikal (Numerical ability)
  • Kelancaran Kata (Word fluency)
  • Ingatan Assosiatif (Associative memory)
  • Gambaran Spatial (Spatial visualization)

 

Howard Gardner – Multiple Intelligences:

Salah satu ide terbaru yang muncul adalah Teori Kecerdasan Ganda Howard Gardner. Daripada berfokus pada analisis skor tes, Gardner mengemukakan bahwa gambaran numerikal dari kecerdasan manusia bukanlah gambaran yang sepenuhnya akurat mengenai kemampuan seseorang. Teori nya menjelaskan delapan kecerdasan berbeda berdasarkan kemampuan dan keterampilan pada budaya yang berbeda.

One of the more recent ideas to emerge is Howard Gardner’s theory of multiple intelligences. Instead of focusing on the analysis of test scores, Gardner proposed that numerical expressions of human intelligence are not a full and accurate depiction of people’s abilities. His theory describes eight distinct intelligences that are based on skills and abilities that are valued within different cultures.

Delapan kecerdasan menurut Gardner adalah:

The eight intelligences Gardner described are:

  • Kecerdasan visual-spasial (Visual-spatial Intelligence)
  • Kecerdasan verbal-lingustik (Verbal-linguistic Intelligence)
  • Kecerdasan tubuh-kinestetik (Bodily-kinesthetic Intelligence)
  • Kecerdasan logika-matematika (Logical-mathematical Intelligence)
  • Kecerdasan interpersonal (Interpersonal Intelligence)
  • Kecerdasan musikal (Musical Intelligence)
  • Kecerdasan intra personal (Intra personal Intelligence)
  • Kecerdasan alami (Naturalistic Intelligence)

 

Robert Sternberg – Triarchic Theory of Intelligence:

Psikolog Robert Sternberg mengartikan kecerdasan sebagai ‘aktivitas mental langsung yang mengarah pada penyesuaian tertentu, pemilihan dan penajaman, lingkungan sesungguhnya yang relevan untuk kehidupan seseorang’ (Stenberg, 1985, p.45). Walaupun ia setuju dengan Garnerd bahwa kecerdasan lebih luas dari suatu yang tunggal, kemampuan umum, ia sesungguhnya menyatakan bahwa beberapa kecerdasan Gardner lebih baik dalam melihat bakat individu. Sternberg mengemukakan bahwa apa yang ia maksud dengan ‘kecerdasan yang berhasil’, terdiri atas tiga faktor berbeda:

Psychologist Robert Sternberg defined intelligence as “mental activity directed toward purposive adaptation to, selection and shaping of, real-world environments relevant to one’s life” (Sternberg, 1985, p. 45). While he agreed with Gardner that intelligence is much broader than a single, general ability, he instead suggested some of Gardner’s intelligences are better viewed as individual talents. Sternberg proposed what he refers to as ‘successful intelligence,’ which is comprised of three different factors:

  • Kecerdasan analitik: komponen ini merujuk pada kemampuan menyelesaikan masalah (Problem solving)

Analytical intelligence: This component refers to problem-solving abilities.

  • Kecerdasan kreatifitas: aspek kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk berhubungan dengan situasi baru dengan menggunakan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.

Creative intelligence: This aspect of intelligence involves the ability to deal with new situations using past experiences and current skills.

  • Kecerdasan praktis: elemen ini mengacu pada kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Practical intelligence: This element refers to the ability to adapt to a changing environment.

Walaupun diatas terdapat begitu banyak pendapat berbeda dalam menentukan kecerdasan yang sebenarnya, tidak ada definisi terkonsep yang muncul. Sekarang, psikolog sering mempertimbangkan berbagai teorikal berbeda saat berdiskusi mengenai kecerdasan dan sampai sekarang debat tersebut terus berlanjut.

While there has been considerable debate over the exact nature of intelligence, no definitive conceptualization has emerged. Today, psychologists often account for the many different theoretical viewpoints when discussing intelligence and acknowledge that this debate is ongoing.

 

References:

Gardner, H. (1983). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.

Spearman, C. (1904). “General intelligence,” objectively determined and measured. American Journal of Psychology 15, 201-293.

Sternberg, R. J. (1985). Beyond IQ: A Triarchic Theory of Intelligence. Cambridge: Cambridge University Press.

Thurstone, L.L. (1938). Primary mental abilities. Chicago: University of Chicago Press.

Pasted from <http://psychology.about.com/od/cognitivepsychology/p/intelligence.htm>

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s