Bersiap belajar lagi

 

Posted by  in EducationKontributor | 0 comments

Bersiap Sekolah Ke Luar Negeri [Tips]

 

[facebook_ilike]

 

Ditulis juga di http://imanusman.com


Siapa sih yang nggak pengen sekolah ke luar negeri? Tanpa bermaksud untuk mengkerdilkan pendidikan di negeri kita, tapi memang sekolah ke luar negeri jadi salah satu daya tarik bagi kebanyakan pelajar di Indonesia, dan Amerika Serikat mungkin jadi salah satu tujuan utama (atau favorit). Sebelumnya, gue sempat sharing tentang apa sih kelebihan sekolah ke luar negeri. Intinya, mulai dari mendapatkan guru-guru terbaik di dunia, fasilitas yang super lengkap yang mendukung kegiatan belajar, teman-teman yang berasal dari berbagai negara (diversed), koneksi global, perpustakaan dengan buku-buku terlengkap, serta nilai-nilai hidup yang mungkin baru bisa kita temukan ketika berada di luar zona nyaman (kemandirian, toleransi, kesabaran, dll), adalah segelintir dari manfaat yang bisa kita temukan ketika sekolah ke luar negeri. Teman saya, Marsha Sugana pernah menulis soal Indonesian vs American Education di Jakpost juga :D

Jangankan sekolah ke luar negeri, kegiatan pertukaran pelajar singkat, pelatihan, atau bahkan liburan sekalipun banyak memberikan manfaat bagi kita. Saya sebelumnya sempat share juga mengenai hal ini, di kampus saya, FISIP UI. Intinya, bagi teman-teman yang beruntung untuk ikutan segala macam kegiatan di luar negeri, pesan gue (yang selalu juga gue ingetin ke diri gue sendiri – jangan lupa untuk give back! Nggak semua orang bisa seberuntung kita :D )  :

Makanya, mungkin salah satu pertanyaan yang paling sering gue terima adalah:

1. Gimana sih caranya dapat beasiswa untuk sekolah ke luar negeri?

2. Apa aja yang harus dipersiapkan kalau mau sekolah ke luar negeri?

Well, sebetulnya pertanyaan ini “agak salah alamat” kalo ditanya ke gue. Karena gue sendiri bahkan belum pernah (benar-benar) sekolah di luar negeri (at least untuk waktu yang lama). Herannya pertanyaan kayak gini sering banget gue terima, dan membuat gue ngerasa bertanggungjawab untuk share, at least apa yang gue tahu dan apa yang gue udah denger dari teman-teman yang udah berhasil sekolah ke luar negeri.

Pertanyaan 1: Bagaimana caranya dapat beasiswa?

Well, untuk pertanyaan ini jujur agak sulit ngejawabnya. Karena gue sendiri aja masih s1, dan juga punya pertanyaan yang sama “gimana ya dapat beasiswa ke luar negeri buat s2?” :D – The only thing I know, Be Prepared! Bersiap! Bersiap! Yes, beasiswa (apalagi untuk sekolah ke luar negeri) bukan hal yang bisa disiapin semalam, tapi itu butuh waktu, butuh proses! Mulai dari mempersiapkan diri dengan kapasitas kita, sampai be updated dengan informasi beasiswa itu sendiri. Seringkali kita cuma tahu universitas-universitas kayak Harvard, Columbia, Yale (Ivy League) di AS – padahal sebenarnya ada banyaaaak banget universitas lain yang kualitasnya juga bagus. Cuma, kita seringnya nganggap yang nyediain beasiswa dan “bagus” cuma universitas-universitas itu aja loh. Padahal belum tentu loh universitas yang secara umum bagus rankingnya, tapi juga bagus untuk major (jurusan) yang mau kita ambil. So, intinya be prepared, be updated with information. Biasanya, pembukaan beasiswa itu hampir sama kok waktunya setiap tahunnya – jadi waktunya yang harus kita tahu. Kalopun misalnya kamu mau ngambil s2 2 tahun lagi, atau masih lama (menurut kamu) nggak ada salahnya untuk cari-cari info dari sekarang, soal waktu pendaftaran, dll. Jadi ketika itu beneran datang, you already well prepared!

Beberapa links yang bisa dijadikan rujukan untuk informasi ranking di AS*:

http://www.usnews.com/rankings – includes ranks for multiple categories

National Universities Rankings:

S1 – http://colleges.usnews.rankingsandreviews.com/best-colleges/rankings/national-universities

S2 – http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/best-graduate-schools

This website is THE best source of info for undergraduate admissions (discussion forum sih, tapi it’s very informative and helpful):
or the non-discussion based website: http://www.collegeconfidential.com/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Businessweek also has a pretty good list of MBA/BBA Rankings, tapi they use different methods of ranking the schools, though they are considered more legitimate than FORBES by employers:

Selain universitas, perhatikan juga dengan kota dimana universitas itu berlokasi. Kadang itu dijadikan pertimbangan juga! Karena kan kalo sekolah disana, kita nggak cuma belajar aja – tapi juga punya kehidupan lain di luar itu.

* Thank you Marsha Sugana for helping me with the links :)

 

Pertanyaan 2: Apa sih yang harus dipersiapkan kalo kuliah/ sekolah ke luar negeri?

Note: Jawaban ini saya rangkum aja ya dari cerita teman-teman saya yang udah duluan kesana. Once more, I am not the expert in this field, tapi ya hanya mencoba membantu saya (moga-moga ga sotoy :D )

1. Persiapan Aplikasi

Selain hal-hal wajib yang sifatnya akademik (kayaktranscript), SAT/ GMAT/ GRE (Jadwal tes International SAT bisa dilihat di sini), dll (cek apa aja syarat2 yg dibutuhkan di website universitas yang kamu tuju – perhatikan bahwa kamu mengisi forms yang tepat – there might be couple of application forms that you have to prepare). Selain itu, kalo misalnya mau ke US, sekarang ada namanya Common Application (jadi kamu ga perlu ngisi application berjuta-juta kali untuk apply ke beberapa univ di sana – tp remember, kadang ada beberapa suplemen apps yang harus dipersiapkan u/ brp univ tertentu). But It helps!

Ada juga hal-hal lain yang juga ga kalah pentingnya untuk dipersiapkan:

Bahasa

Kita harus tahu bahasa apa yang digunakan baik bahasa pengantar saat kuliah, maupun bahasa sehari-hari. Meskipun misalnya bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris, tapi kalo bahasa sehari-harinya adalah Perancis/ Spanyol, you need to survive, right? Biasanya sejumlah universitas menetapkan syarat untuk kemampuan berbahasa asing, khususnya bagi calon siswa dari negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Terus gimana dong? Yups, TOEFL. Biasanya, TOEFL yang digunakan juga yang IBT (internet based toefl). Kalau merasa kemampuan berbahasanya masih kurang, jangan khawatir. Itu gunanya mempersiapkan diri jauh jauh hari, supaya kita juga bisa belajar lebih banyak soal bahasanya. Informasi tes TOEFL, salah satunya bisa dilihat disini.

Essay

Janganlah essay diremehkan! Ini jadi salah satu bagian yang vital. Kalo misalnya prestasi akademik cenderung biasa-biasa aja, essay bisa ngedongkrak banget. Atau kalaupun prestasi akademis dan non-akademisnya luar biasa, tapi pas di essay “zzzz” banget – juga dipertanyakan :)Di video yang gue upload di bawah (yg At America) – Juris (salah satu pembicara) di bagian akhir videonya – ngejelasin banget soal pentingnya essay dan gimana waktu dia bikin essay dulu. Intinya, membuat essay adalah salah satu bagian yang membutuhkan waktu yang cukup panjang, dan butuh latihan. Kamu bisa memulai dengan sering-sering membaca contoh essay dari siswa-siswa yang berhasil lolos ke universitas top (banyak kok dijual di toko buku) – atau bisa juga searching di Internet (misalnya ini). Jangan lupa minta orang untuk proofread essay kamu.

Recommendation Letter

Biasanya diminta beberapa surat rekomendasi. Surat rekomendasi biasanya diberikan oleh orang di luar keluarga inti. Dan biasanya berasal dari dua kalangan: lingkup sekolah (akademis) dan luar sekolah. Make sure bahwa orang yang surat rekomendasi buat kamu, adalah orang yang kenal dengan kamu secara personal, sehingga bisa menjelaskan who you are secara spesifik. Surat rekomendasi bukan cuma bilang hal-hal general kayak “Iya si A anak yang pintar dan rajin”, tapi sangat spesifik misalnya “A adalah anak yang punya kemauan keras untuk mengejar apa yang diimpikannya. Sewaktu itu… / di kelas saya …. ” – so, kalo orangnya nggak kenal sama kamu, gimana orangnya bisa ngasih rekomendasi tentang kamu. Ada baiknya, kamu juga kasih contoh surat rekomendasi itu kayak apa (bisa di googling) – jadi orangnya punya bayangan, apalagi kalo dia belum pernah bikin surat rekomendasi sebelumnya. Dan jangan deadliner! Kasih waktu yang cukup buat si orang itu untuk berpikir dan menuliskannya :)

GRE

Ini bisa dibilang graduate level version of SAT. Hampir semua universitas, kalo teman-teman mau ngambil semua program S2 menetapkan syarat GRE. Apa aja tes nya?

  • Verbal Reasoning — Measures your ability to analyze and evaluate written material and synthesize information obtained from it, analyze relationships among component parts of sentences and recognize relationships among words and concepts.
  • Quantitative Reasoning — Measures problem-solving ability, focusing on basic concepts of arithmetic, algebra, geometry and data analysis.
  • Analytical Writing — Measures critical thinking and analytical writing skills, specifically your ability to articulate and support complex ideas clearly and effectively.

Info soal GRE bisa dilihat disini.

2. Persiapan Biaya

Let’s say kamu sekolah di luar negeri bukan dengan beasiswa, nah penting banget mengkalkulasikan biaya yang dibutuhkan sebelum berangkat. Biasanya, pertimbangan biaya juga jadi salah satu pertimbangan dalam menentukan mau sekolah dimana. Karena taraf hidup di satu kota bisa aja beda dengan kota lainnya, meski masih dalam 1 negara. Kalaupun kamu dapat beasiswa, perhatikan juga apakah beasiswa tersebut sudah menanggung biaya yang dibutuhkan sepenuhnya? Saran gue, mungkin bisa banyak-banyak diskusi atau ngobrol sama temaan/ saudara/ senior/ dosennya yang pernah sekolah di sana, at least bisa jadi gambaran.

3. Kelengkapan Akademis dan Aplikasi

Make sure bahwa semua persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap (check list lagi ya) – dan kamu juga sudah siap secara mental dan finansial :D ! Kirimkan tepat waktu! Jangan sampai terlambat – sisakan waktu yang cukup untuk potensi keterlambatan :)

Mau lebih lengkap lagi, bisa juga nonton beberapa video yang menurut gue cukup relevan danrecommended:

Pertama, waktu gue ikutan sharing session di At America dan dengerin kisah temen-temen yang udah nyemplung langsung sekolah di sana (jadinya tips nya lebih terpercaya :D ). Di video ini, teman-teman bisa dapat info paling basic soal pendidikan di AS, gimana cara mempersiapkan dapat beasiswa, ampe soal student’s life dari perspektif anak muda Indonesia sendiri. Very recommended to watch the last part (Juris Tan) yang ngomongin soal How To:

 

Dan yang kedua, video dari AccessEdu yang menurut gue cukup singkat dan padat (kalo males nonton video yg panjang di atas) – untuk ngejelasin tips-tips yang lagi kita bahas ini.

Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa membantu teman-teman yang lagi berharap dan berjuang untuk bisa sekolah di luar negeri. Ga salah kok mimpi tinggi-tinggi, toh pendidikan memang jadi eskalasi hidup kita (seperti yang selalu dibilang Mas Anies Baswedan kepada saya :D ) – Kalau ada yang mungkin punya pengalaman serupa, mungkin bisa sharing dan nambahin juga :) Coba cari informasi dari sumber lain juga ya, siapa tahu saya ada yang terlupa atau terlewatkan. Semoga bermanfaat :) . Kalau menurut teman-teman ini bermanfaat, silahkan di share ke yang lain. Let’s make more Indonesians going abroad for good :)

Note: salah satu website yang cukup oke untuk dijadikan panduan juga (khususnya buat yang mau kuliah di AS): College Confidential

copy from

http://indonesianfutureleaders.org/?p=35741

Anak-anak ADHD dan Ayah-Ayah Mereka

Boys With ADHD and Their Dads

By Anita M. Schimizzi, Ph.D. On December 14, 2011 ·

A couple of months ago, I wrote about a study that looked at moms and children with ADHD.  Some readers responded with wanting more information on the role of dads in their child’s ADHD.  Well, I found an article in the Journal of Abnormal Child Psychology that studied dads and looked at the impact that their early relationships with their children have on later ADHD symptoms.  And, yes, the study suggests that the early father-child relationship does indeed seem to be related to middle-childhood ADHD symptoms.  (The study looked at the maternal role also, but I am going to focus on the paternal role here.  The citation is below if you’d like to read the whole study.)

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang sebuah penelitian mengenai ibu dan anak-anak mereka yang mengalami gangguan ADHD. Sejumlah pembaca merespon dengan meminta informasi lebih tentang peran ayah terhadap anak-anak mereka yang mengalami ADHD. Baik, saya menemukan sebuah artikel dalam Jurnal Psikologi Abnormal Anak yang mempelajari tentang ayah dan pengaruh hubungan awal mereka dengan anak-anak yang menunjukkan gejala ADHD. Dan, benarlah, penelitian ini menyatakan bahwa hubungan awal ayah dan anak tampak benar-benar berhubungan dengan gejala ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak. (Penelitian juga memperhatikan peran ibu, namun saya hanya fokus pada peran ayah yang ada dalam artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui seluruh isi penelitian, silahkan membaca kutipan penelitian berikut).

The study took place in New Zealand and included 93 preschool boys that were placed in a “hyperactive” group, control group, or in another comparison group where symptoms were present but less severe and, thus, gave the researcher the ability to look at a wide range of ADHD symptoms.  According to the author, only boys were included both because of logistics and because they tend to have more observable behaviors linked to ADHD than girls.  Eighty-nine fathers participated.  Data was collected using parent observations, interviews, and questionnaires, as well as teacher questionnaires.  The study spanned three years, starting when the boys were an average of four years-old.   A second round of data was collected two and a half years later when the boys were an average age of seven.

Penelitian tersebut dilaksanakan di New Zealand dan melibatkan 93 bocah laki-laki pra sekolah yang dikelompokkan dalam kelompok ‘hiperaktif’, kelompok kontrol, atau dalam kelompok pembanding lain dimana mereka menunjukkan gejala ADHD yang tergolong rendah dan, jadi, memberi peneliti kesanggupan untuk melihat rentang yang luas dari gejala ADHD. Berdasarkan penjelasan penulis, hanya anak laki-laki yang dilibatkan dalam kedua kelompok tersebut karena alasan logistik dan karena mereka cenderung lebih mudah diobservasi berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Delapan puluh satu ayah terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi orang tua, wawancara, dan kuisioner,  seperti kuisioner yang diberikan guru. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 3 tahun, dimulai saat anak-anak tersebut berusia sekitar 4 tahun. Pengambilan data kedua dilakukan sekitar dua setengah tahun kemudian saat anak-anak tersebut berusia sekitar 7 tahun.

The author, Louise Keown, looked at three areas of paternal responsiveness (sensitivity (e.g., being tuned into the son’s needs), intrusiveness (e.g., controlling son’s play), and positive regard (e.g., warmth and affection toward son)) and the presence of later ADHD symptoms.  The results took into account early ADHD and behavior problems.  In other words, the results looked at how fathers’ parenting impacted middle childhood ADHD above and beyond preschool problems in this area.

Penulis, Louise Keown, menekankan pada tiga area kemampuan reaksi dari ayah ‘paternal responsiveness’ (sensitivitas (seperti menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak laki-lakinya), intrusiveness (seperti mengontrol permainan anak), dan penghargaan yang positif (seperti, kehangatan dan perasaan pada anak laki-lakinya)) dan gejala ADHD yang muncul kemudian. Hasil dimasukkan dalam laporan ADHD awal dan gangguan perilaku. Dengan kata lain, hasilnya menunjukkan bagaimana pengasuhan ayah mempengaruhi ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak setelah dan sebelum pra sekolah di daerah ini.

Here’s what the study found.  Fathers that were characterized as more sensitive and less intrusive with their preschool sons had sons that were later found to be less hyperactive and impulsive at school, according to teachers, and more attentive at home, according to fathers.   Further, higher levels of paternal positive regard in early childhood were related to their sons showing lower levels of inattention at both home and school in middle childhood, according to teacher and maternal reports.

Berikut ini adalah penjabaran hasil penelitian. Ayah dengan karakteristik lebih sensitif dan kurang intrusive (mengganggu) anak-anak laki-laki mereka yang berusia pra sekolah memiliki anak laki-laki yang kemudian diketahui kurang hiperaktif  dan impulsif di sekolah, menurut guru, dan lebih hiperaktif di rumah, menurut ayah. Selanjutnya, tingkat perhargaan positif yang tinggi dari ayah pada masa awal anak-anak berkaitan dengan anak mereka dengan menunjukkan tingkat tingkat ketidak perhatian ‘inattention’ yang rendah baik dirumah dan di sekolah pada masa awal anak-anak, menurut laporan  guru dan ibu.

In her discussion of the findings, Keown discusses the importance of fathers learning how to sync up with their sons to give them what they need in any given moment.  For example, a son that gets frustrated and angry with trying to build a block tower that keeps tumbling down will likely have a different response to a father that reprimands him for the outburst as opposed to validating the son’s emotions (e.g., “Wow!  It’s so frustrating when you try to build a tower that keeps falling down.”).  Another example could be a preschooler that starts running around like a maniac at a birthday party because he is over-stimulated and rather than giving him some time and space away from the chaos to get settled again, his father tells him to slow down.  While the cues may be subtle, it is important to learn how to read them.

Dalam pembahasanya mengenai hasil penelitian, Keown menjelaskan pentingnya ayah belajar tentang bagaimana mereka selaras dengan anak laki-laki mereka dalam memberikan mereka apa yang mereka inginkan di setiap kesempatan. Contohnya, seorang anak yang menjadi frustasi dan marah saat membangun menara balok yang tetap runtuh akan memiliki kemungkinan besar memiliki suatu respon yang berbeda pada seorang ayah yang menegur dirinya terhadap ledakan sebagai pertentangan untuk membenarkan emosi anaknya (seperti, “Wow! Sungguh menyebalkan saat kamu berusaha membangun menara yang tetap runtuh.”). Contoh lain, seorang anak prasekolah yang mulai berlarian kesana-kemari seperti seorang maniak saat pesta ulang tahun karena ia terlalu terstimulir dan dibanding memberi mereka waktu dan ruang bagi anak dari kekacauan yang sedang dibuat untuk memulihkan diri, ayahnya malah menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun isyarat yang diberikan tidak begitu jelas, ini merupakan hal yang penting untuk mempelajari gejala-gejala tersebut.

Keown also discusses the finding of paternal intrusiveness and hyperactivity-impulsivity at school.  She argues that fathers that disrupt their son’s activities and limit the amount of control that sons have over play may also be limiting their opportunity to learn how to self-regulate their behaviors.  In other words, sons that are controlled by an outside force may not learn to control themselves from within.

Keown juga membahas hasil penelitian mengenai paternal intrusiveness dan perilaku hiperaktif kompulsif di sekolah. Dia sangat menganjurkan bahwa ayah yang mengganggu aktifitas anak mereka dan membatasi anak-anak mereka dalam bermain juga akan membatasi kesempatan anak mereka untuk belajar melakukan self-regulasi terhadap perilaku mereka. Dengan kata lain, anak-anak yang dikontrol oleh tekanan dari luar diri mereka tidak akan bisa belajar untuk mengontrol perilaku mereka sendiri.

Last month, I posted on mindful parenting.  The results of the current study can also be applied to this concept.  When dads can step away from their agenda and allow a child’s activity to unfold, supporting them as necessary, it sends the message that the child’s desires are important and that there is a safety net in place when they need it.  Also, nothing can replace the important father-child interaction in a given activity.  The kind where you work together in a rhythm that feels good to both parties. Not only can this be a rewarding way to spend time with your child, but it can also be an opportunity for learning more about your child’s cues and how to meet him where he is.

Bulan lalu, saya menerbitkan di mindful parenting. Hasil dari penelitian tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konsep ini. Saat ayah dapat mengesampingkan agenda mereka dan beraktifitas dengan anak, mendukung mereka sebagaimana seharusnya, ini memberikan pesan bahwa keinginan anak-anak adalah suatu yang penting dan ada tempat yang aman saat mereka membutuhkannya. Dan juga, tidak ada yang dapat menggantikan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam aktifitas beri memberi. Semacam bekerja sama dalam satu keselarasan sehingga merasa senang untuk kedua belah pihak. Tidak hanya dapat ini menjadi cara untuk menghargai anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, namun ini juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang isyarat anak ADHD dan bagaimana menemukan mereka dimana mereka berada.

This post is certainly not meant to criticize fathers.  On the contrary, I hope that fathers will recognize the importance of their relationship with their sons (and daughters!) and find the information to be useful.  Additionally, it is hoped that parenting partners and professionals can support fathers in their relationships with their kids in a way that reduces the chances of heightened ADHD symptoms in middle childhood and beyond.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi para ayah. Namun sebaliknya, saya berharap para akan mengenali pentingnya hubungan mereka dengan anak-anaknya dan mencari informasi yang bermanfaat. Apalagi, pengasuh dan ahli profesional diharapkan dapat mendukung para ayah dalam hubungan mereka dengan anak-anaknya sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk memuncaknya gejala ADHD di pertengahan masa kanak-kanak dan sebelumnya.

Thanks for reading!  -Anita

Source: Keown LJ (2011). Predictors of Boys’ ADHD Symptoms from Early to Middle Childhood: The Role of Father-Child and Mother-Child Interactions. Journal of abnormal child psychology PMID: 22038253

Pasted from <http://www.child-psych.org/2011/12/boys-with-adhd-and-their-dads.html>

Suka Duka Belajar di Luar Negeri

 Bersekolah di luar negeri merupakan impian yang memiliki keuntungan seperti:
  1. Pengalaman baru.
    Dengan kuliah di luar negeri berarti akan menemukan suasana baru yang secara otomatis akan mendapatkan pengalaman baru yang tidak didapati di dalam negeri. Semakin banyaknya pengalaman di luar negeri maka orang tersebut akan mengerti tentang dunia luar.
  2. Memiliki teman dari mancanegara
    Memiliki teman dari mancanegara akan memperbanyak dan menambah koneksi yang nantinya akan sangat berguna sebagai penunjang karier, apalagi jika berencana menetap dan bekerja  di luar negeri. Selain hal tersebut keuntungan lain yang bisa didapatkan adalah dapat bertukar informasi dan pengalaman.
  3. Pendidikan di luar negeri (terutama di negara maju) pendidikannya lebih maju
    Biasanya tingkat pendidikan diluar negeri ditunjang dengan teknologi yang maju terutama di negara yang sudah maju. Selain itu universitas diluar negeri (negara maju) peringkatnya lebih tinggi dan statusnya lebih diakui dan terakreditasi. Bisa juga melakukan studi perbandingan antara pendidikan di dalam negeri dan luar negeri.
  4. Memudahkan mencari pekerjaan di dalam negeri
    Setelah lulus kuliah dari universitas di luar negeri dan berkeinginan berkarier di dalam negeri, maka ijazah yang didapat dari luar negeri akan memudahkan mencari pekerjaan karena biasanya dianggap memiliki prestisi yang lebih tinggi.

Meski ada keuntungan atau suka dalam studi di luar negeri, namun perlu diingat ada beberapa hal-hal yang mungkin tidak diinginkan (duka) seperti:

  1. Kesedihan berpisah dengan keluarga.
    Mungkin untuk pertama kalinya akan muncul rasa takut karena membayangkan hidup sendiri di negeri orang. Dengan kuliah di luar negeri pasti harus berpisah dengan keluarga dan akan menimbulkan rasa home sick. Tapi tenang, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini solusinya pun mudah. Cukup dengan menggunakan fasilitas seperti email, telepon dan jejaring komunitas seperti Facebook, Friendster atau Twitter, rasa kangen itu bisa terobati. Jika ingin bertatap muka, cukup memakai fasilitas web camera. Tidak sulit kan?
  2. Kendala cuaca yang ekstrem
    Jika sebelumnya terbiasa dengan dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan, maka saat kuliah di negara yang memiliki empat musim tentunya harus bisa beradaptasi dengan kendala cuaca yang sangat ekstrem, terutama saat musim dingin dan musim panas.
  3. Kendala Bahasa
    Bila kuliah di negeri orang yang bahasa Inggrisnya merupakan bahasa utama mungkin itu tidak masalah. Tetapi lain halnya bila kuliah di negara yang mayoritas penduduknya tidak berbahasa Inggris. Maka dari itu kita harus rajin mencoba mempelajari bahasa yang digunakan oleh penduduk lokal.
  4. Sistem Pendidikan yang Berbeda
    Di Indonesia, selama bertahun-tahun kita diajarkan untuk mendengarkan dosen atau guru mengajar dimana para mahasiswa atau murid hanya berpartisipasi secara pasif. Di negara maju, setiap kuliah atau seminar justru didominasi oleh mahasiswa. Satu persatu mahasiswa harus mengulas setiap jurnal ilmiah yang telah disediakan. Dosen hanya berperan mengomentari atau memberi pertanyaan. Mahasiswa dituntut aktif mengkritik, kalau bisa habis-habisan, setiap jurnal ilmiah yang sedang ditelaah.

(Diolah dari berbagai sumber)

Persiapan Studi di Luar Negeri by Kemenlu

Hal yang paling utama harus dilakukan saat kuliah di luar negeri adalah kemampuan untuk bisa beradaptasi dengan suasana yang baru. Oleh karena itu, persiapan-persiapan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Konsultasi dengan Perwakilan Lembaga Pendidikan Asing
    Melalui konsultasi dengan perwakilan lembaga pendidikan, maka akan diperoleh informasi mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk memulai perburuan studi ke luar negeri. Umumnya, calon mahasiswa terlebih dahulu mempersiapkan sejumlah berkas yang diperlukan, seperti ijazah, transkrip, paspor, akta kelahiran, dan semua berkas yang mungkin diminta oleh perguruan tinggi yang dituju, atau oleh pihak kedutaan saat mengajukan permohonan visa. Dengan melihat kepada persyaratan yang diminta oleh perguruan tinggi, calon mahasiswa sebaiknya segera melengkapi diri dengan sejumlah ujian yang berlaku secara internasional seperti TOEFL/IELTS, GMAT (untuk bidang manajemen), dan GRE (untuk bidang sains).
  2. Pelajari Universitas yang Dituju
    Untuk lebih mematangkan persiapan studi, cari informasi sedalam-dalmnya mengenai universitas yang dituju. Mulai dari jurusan yang dipilih, para dosen, bahkan para alumni universitas tersebut. Jangan lupa untuk memahami jadwal studi (sylabus) jurusan yang diminati agar tahu mata kuliah apa saja yang akan dipelajari nantinya.
  3. Pengurusan Izin Tinggal di Luar Negeri
    Untuk memulai kehidupan di luar negeri biasanya diperlukan untuk mengurus sendiri izin tinggal di kepolisian, membayar tuition fee, menguangkan traveller cheque, membuka rekening bank, mencari tempat tinggal tetap, dan menemui calon pembimbing.
  4. Adaptasi kemungkinan adanya shock culture
    Perbedaan kebudayaan sering menjadi kendala. Kebudayaan timur sangat berbeda sekali dengan kebudayaan barat. Misalnya dalam hal adat istiadat sehari-hari.
  5. Adaptasi keadaan iklim yang sangat ekstrim
    Jika berstudi di negara yang memiliki empat musim sudah seharusnya menyiapkan persiapan kebutuhan yang diperlukan pada saat musim-musim yang bersuhu ekstrim. Terdapat kemungkinan converter suhu yang digunakan bukanlah celcius seperti di negara Amerika Serikat yang menggunakan fahrenheit.
  6. Cermat mengatur pengeluaran dan pemasukan.
    Jika bersekolah di luar negeri dengan full scholarship, terkadang tidak perlu pusing perihal soal keuangan. Tetapi  tetap saja diperlukan manajemen keuangan yang baik dalam hal pemasukan dan pengeluaran. Rencana matang perlu diatur sebaik mungkin agar tidak defisit nantinya. Jika dapat dimungkinkan, magang atau melaksanakan part time dapat menambah kebutuhan keuangan yang diperlukan.
  7. Meningkatkan Kemampuan Bahasa Asing
    Calon mahasiswa harus meningkatkan kemampuan bahasa yang sesuai  dengan pengantar perkuliahan nantinya. Kursus intensif, atau bergabung dengan sejumlah klub bahasa merupakan langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kemampuan bahasa.

(Diolah dari berbagai sumber)

‘Um’s’ dan ‘Uh’s’ Orang Tua Membantu Anak Mempelajari Kata-Kata Baru, Temuan Peneliti Kognitif

Parents’ ‘Um’s’ and ‘Uh’s’ Help Toddlers Learn New Words, Cognitive Scientists Find

ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — Sebuah tim peneliti kognitif memperoleh berita baik untuk orang tua yang mengkhawatirkan bahwa mereka  memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka saat berkata “um” and “uh.” Sebuah penelitian yang dilaksanakan di University of Rochester’s Baby Lab menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya menggunakan gumaman dan keraguan orang tua mereka (secara teknikal seperti ketidak lancaran berbicara) untuk membantu mereka mempelajari bahasa dengan lebih efisien.


ScienceDaily (Apr. 15, 2011) — A team of cognitive scientists has good news for parents who are worried that they are setting a bad example for their children when they say “um” and “uh.” A study conducted at the University of Rochester’s Baby Lab shows that toddlers actually use their parents’ stumbles and hesitations (technically referred to as disfluencies) to help them learn language more efficiently.


Contohnya, saat anda berjalan di kebun binatang dengan anakmu yang berusia dua tahun dan anda berusaha mengajarinya nama-nama binatang. Anda menunjuk pada badak dan berkata, ‘”Lihat itu, uh, uh, Badak.” Ini selain anda meraba-raba kata yang benar, anda juga menunjukkan kepada anak anda bahwa anda mengajarkannya suatu hal baru, berdasarkan peneliti (??).

For instance, say you’re walking through the zoo with your two-year-old and you are trying to teach him animal names. You point to the rhinoceros and say, “Look at the, uh, uh, rhinoceros.” It turns out that as you are fumbling for the correct word, you are also sending your child a signal that you are about to teach him something new, so he should pay attention, according to the researchers.

Anak-anak mendapatkan banyak informasi untuk diproses saat mereka mendengar orang dewasa berbicara, termasuk banyak kata-kata yang telah mereka belum pernah peroleh sebelumnya. Jika otak seorang anak menunggu sampai sebuah kata baru diucapkan dan kemudian berusaha untuk membayangkan apakah artinya, ini menjadi sebuah tugas yang lebih sulit dan anak mudah salah untuk memahami kata selanjutnya, kata Richard Aslin, seorang profesor ilmu otak dan kognitif di University of Rochester dan seorang penulis.

Young kids have a lot of information to process while they listen to an adult speak, including many words that they have never heard before. If a child’s brain waits until a new word is spoken and then tries to figure out what it means after the fact, it becomes a much more difficult task and the child is apt to miss what comes next, says Richard Aslin, a professor of brain and cognitive sciences at the University of Rochester and one of the study’s authors.

“Semakin banyak prediksi yang dapat dibuat seorang pendengar tentang sesuatu yang akan dikomunikasikan, semakin efisien seorang pendengar untuk mengerti hal tersebut,” ujar Aslin.

“The more predictions a listener can make about what is being communicated, the more efficiently the listener can understand it,” Aslin said.

Penelitian, yang dilakukan oleh Celeste Kidd, seorang tamatan University Rochester, dan Katherine White, tamatan postdoctoral Rochester yang sekarang bekerja di University Waterloo, dan Aslin telah menerbitkan secara pada tanggal 14 April di the journal Developmental Science.

The study, which was conducted by Celeste Kidd, a graduate student at the University of Rochester, Katherine White, a former postdoctoral fellow at Rochester who is now at the University of Waterloo, and Aslin was published online April 14 in the journal Developmental Science.

Para peneliti mempelajari 3 kelompok anak yang berusia antara 18 dan 30 bulan. Setiap anak duduk di pangkuan orang tua mereka berhadapan dengan sebuah monitor dengan alat pelacak gerakan mata. Dua gambar muncul di layar: satu gambar benda yang biasa dijumpai (seperti sebuah bola atau sebuah buku) dan sebuah gambar baru dengan nama tertentu (seperti “dax” or  “gorp”). Sebuah suara rekaman disampaikan dengan bahasa yang sederhana tentang objek tersebut. Saat suara gumaman dan berkata “Lihat itu, uh…” anak secara instingtif melihat gambar baru tersebut lebih sering dibandingkan dengan objek yang biasa ia lihat (hampir mencapai 70 persen ).

The researchers studied three groups of children between the ages of 18 and 30 months. Each child sat on his or her parent’s lap in front of a monitor with an eye-tracking device. Two images appeared on the screen: one image of a familiar item (like a ball or a book) and one made-up image with a made-up name (like a “dax” or a “gorp”). A recorded voice talked about the objects with simple sentences. When the voice stumbled and said “Look at the, uh…” the child instinctively looked at the made-up image much more often than the familiar image (almost 70 percent of the time).

“Kami tidak menyarankan orang tua menambah kegagapan dalam berbicara mereka, tapi saya berpikir baik bila mereka tahu bahwa menggunakan selaan verbal ini baik —  “uh’s” dan “um’s” adalah suatu yang informatif,” ujar Kidd, pimpinan penelitian.

“We’re not advocating that parents add disfluencies to their speech, but I think it’s nice for them to know that using these verbal pauses is OK — the “uh’s” and “um’s” are informative,” said Kidd, the study’s lead author.

Dalam penelitian, efeknya hanya terlihat jelas pada anak-anak yang berusia diatas 2 tahun. Anak-anak yang berusia dibawah 2 tahun, peneliti beralasan, belum mempelajari tentang kegagapan memberi pengaruh  terhadap kata-kata baru atau yang tidak diketahui.

In the study, the effect was only significant in children older than two years. The younger children, the researchers reasoned, had not yet learned the fact that disfluencies tend to precede novel or unknown words.

Saat anak-anak usia antara 2 atau 3 tahun, mereka biasanya berada pada tahap perkembangan dimana mereka dapat menyusun kalimat yang belum sempurna yang terdiri dari 2 sampai 4 kata. Dan mereka biasanya telah memiliki beberapa ratus kata.

When kids are between the ages of two and three, they usually are at a developmental stage where they can construct rudimentary sentences of about two to four words in length. And they typically have a vocabulary of a few hundred words.

Penelitian sebelumnya oleh Jennifer Arnold, seorang ilmuwan di University North Carolina dan tamatan postdoctoral Rochester, menemukan bahwa orang dewasa juga dapat menggunakan “um’s” and “uh’s” untuk membantu mereka dalam memahami bahasa. Apalagi, penelitian Anne Fernald di Stanford University menunjukkan bahwa bukanlah kualitas melainkan kuantitas berbicara yang diarahkan pada anak-anak yang terpenting dalam pembelajaran.

The study builds on earlier research by Jennifer Arnold, a scientist at the University of North Carolina and a former postdoctoral fellow at Rochester, which found that adults also can use “um’s” and “uh’s” to their advantage in understanding language. Additionally, work by Anne Fernald at Stanford University has shown that it’s not the quality but the quantity of speech that a child is exposed to that is most important for learning.

Journal Reference:

  1. Celeste Kidd, Katherine S. White, Richard N. Aslin. Toddlers use speech disfluencies to predict speakers’ referential intentions. Developmental Science, 2011; DOI: 10.1111/j.1467-7687.2011.01049.x

Belajar

Belajar berbagi

Saat ‘Courageous’ berteman dengan ‘Fear’

Fear’ sedikit demi sedikit berteman dengan ‘Courageous, ‘Fear’ menjadi akrab dengan ‘Courageous, apa yang dilakukan keberanian menjadi suatu hal menarik bagi ‘Fear’, lalu ‘Fear’ meniru satu persatu tindakan ‘Courageous, bahkan tanpa ia sadari telah banyak hal dari ‘Courageous yang ia lakukan, hmmm ‘Fear’ semakin akrab dengan keberanian. Dan kini ia menjadi pemberani.

Seperti berteman dengan penjual minyak wangi, akan ikut aroma wangi, berteman dengan penjual ikan akan ikut bau anyir. Maka carilah teman yang dengannya engkau bisa berbagi kebaikan dan memperoleh kebaikan bersamanya.

Letter From Ane-Qi (1)

Salamu’alaikum sahabatku,

Hasil bolak balik dari 2 buku ‘Bedah Masalah Kontemporer I Aam Amiruddin’ dan ‘Belajar dari 2 Umar Hepi Andi Bastoni’.

Profil Ilmu yang Bermanfaat

Sebuah ilmu yang bermanfaat, lebih dari sekedar ilmu agama bahkan bisa menjadi jariah setelah kita meninggal, adalah ilmu apa saja yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Allah patrikan ini dalam Mukjizat pada Rasulullah, Al Qur’an, salah satunya dalam surat Al Fathir 27-28. 2, dalam surat ini tergambar banyak bidang pengetahuan;botani, volkanologi, geologi, ethnologi, zoologi dan sosiologi. Diakhir ayat, ‘Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah ulama (orang yang berilmu)’, moga bisa diartikan siapapun yang memiliki ilmu mendalam tentang fenomena alam dan sosial juga kandungan kitab suci, asal memiliki rasa khasyyah (rasa kagum dan takut pada Allah), dia layak dimasukkan ke dalam kelompok ulama.

Maka pernah kita mendengar, ilmuwan/peneliti yang menjadi mualaf dalam usahanya memperdalam pengetahuannya pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Contohnya Dr. Jeffrey Lang, profesor matematika di University of San Fransisco. Ia mengungkapkan ‘bagi mereka yang telah memeluk Islam, saksi terbesar Allah yg tak henti-hentinya, mengejar, mempertahankan, dan membimbing cinta adalah Alquran’. Ia juga mengatakan ‘Saya berada dalam situasi kekalahan yg parah, karena telah menjadi jelas bahwa Penulis Quran tahu saya lebih baik daripada aku tahu diriku sendiri.” Seolah-olah Penulis Quran sedang membaca pikirannya. Setiap malam ia akan membuat beberapa pertanyaan dan sangkalan, tapi selalu menemukan jawabannya dalam pembacaan berikutnya ketika ia melanjutkan bacaan dalam urutannya. “Al-Quran selalu jauh di depan saya berpikir; itu adalah menghapus hambatan aku yg telah dibangun bertahun-tahun yg lalu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.” Jeffrey berjuang keras membuat sangkalan-sangkalan dan pertanyaan-pertanyaan, tapi jelas bahwa ia kalah dalam pertempuran. “Akulah yg sedang dibawa kepada suatu pojok dimana hanya terdapat satu pilihan.”

Selain itu….begitu banyak cendikiawan muslim pada zaman dahulu dengan pemahaman ilmu yang luar biasa dan ilmu tersebut masih dijadikan patokan hingga sekarang. Seperti yang kita kenal salah satunya Avisena (Ibnu Sina), salah satu pakar dalam bidang kedokteran.

Tradisi mereka dalam menuntut ilmu lah yang membawa mereka menjadi seperti itu. Dalam tulisan Hepi Andi Bastoni dituliskan bahwa pada ilmuwan itu sangat menghargai ilmu bahwa ‘ilmu itu didatangi bukan mendatangi’, mereka membiasakan untuk tidur awal dan bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat malam dilanjutkan dengan membaca dan menulis. dan yang terbaik dari semua itu mereka melandasi tradisi menuntut imu itu dengan keimanan pada Yang Menganungrahkan Ilmu…

Yuk mari kita menjadi sosok pembelajar seperti mereka…moga dapat melanjutkan sejarah luar biasa mereka dalam membangun diri dan umat. Be intelligent person.

Met belajar sahabat…
🙂