Austim Bisa jadi adalah Kelebihan, Bukan Gangguan

Lara Salahi

Nov 2, 2011 3:25pm

For Some, Autism Considered Strength, Not Disorder

Of all the famed names in autism, Temple Grandin is perhaps one of the quickest to come to mind.

Grandin, who was diagnosed with autism in 1950, didn’t speak until she was about 4 years old. At the time, the definition of autism seemed clearer cut than it is today. Looking back, many experts would say she exhibited classic signs of the disorder. But the spectrum of the disorder has grown wider since then. Grandin has arguably landed so far on one end of the spectrum that it could be hard to see what the other side of autism looks like.

Dari semua nama yang terkenal dalam ‘Autisme’, Temple Grandin adalah salah satu yang paling cepat diingat. Grandin, adalah seseorang didiagnosa mengalami autisme pada tahun 1950, tidak pernah berbicara sampai ia berusia 4 tahun. Pada saat itu, pengertian autisme tampak belum sejelas sekarang. Jika melihat ke belakang, banyak para ahli berkata bahwa Grandin menunjukkan tanda klasik dari gangguan tersebut. Namun spektrum gangguan telah berkembang lebih luas lagi. Grandin berada pada akhir spektrum yang mudah dibantahkan untuk dikatakan gangguan autisme seperti apa dia.

About 1 in 110 children are diagnosed with autism spectrum disorder, characterized by problems in social interaction and communication, and delayed and repetitive behavior. Unlike Grandin, many will not be able to develop the necessary skills to speak, or hold a stable job. Many remain dependent on caregivers for the rest of their lives.

Sekitar 1 dari 110 anak yang didiagnosa mengalami gangguan spektrum autisme, ditandai dengan permasalahan dalam interaksi sosial dan komunikasi, dan adanya keterlambatan dan pengulangan perilaku. Tidak seperti Grandin, banyak anak mungkin tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk berbicara, atau melakukan pekerjaan dengan baik. Banyak anak tetap tergantung dengan perawat sepanjang hidupnya.

These stark differences have prompted many researchers to suggest that autism should not be grouped under one diagnosis, but in fact, should be labeled as different conditions.

Perbedaan ini telah mendorong banyan peneliti untuk menyarankan bahwa autisme seharusnya tidak dikelompokkan hanya pada satu diagnosis, karena pada kenyataannya, dapat berada pada kondisi yang berbeda.

“Research is starting to show us that there is not just one pathway that makes it necessary for the condition to be called autism,” said Dr. Lori Warner, director for the HOPE Center for Autism at Beaumont Children’s Hospital in Royal Oak, Mich.

“Penelitian mulai menunjukkan kepada kita bahwa tidak hanya satu jalan untuk menyatakan suatu kondisi disebut sebagai autisme,” kata Dr. Lori Warner, direktur HOPE Center bagian Autisme di Rumah Sakit Beaumont Children di Royal Oak, Mich.

“The core features are still there. How it’s manifested is different,” said Warner.

“Intinya masih disana. Bagaimana itu ditunjukkan akan berbeda satu dengan yang lainnya,” kata Warner.

And because of this, Warner said the seemingly different way the condition is displayed is better off staying grouped as ‘autism.’

Dan karena ini, Warner berkata cara yang tampak berbeda bahwa kondisinya lebih baik dalam grup sebagai ‘autisme’.

In fact, the DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) seems to be moving away from differentiating autism any further. Some experts say that for those who function well, autism should not be considered a disability or a disorder.

Pada kenyataannya, DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) tampak menjauh dari  pembedaan autisme selanjutnya. Beberapa ahli mengatakan bahwa untuk mereka yang masih bisa melakukan beberapa kegiatan dengan baik, autisme tidak dapat dikatakan sebagai cacat atau gangguan.

Instead, in some cases, the condition could serve as an advantage. Grandin went on to earn a doctoral degree and her redesign of livestock handling equipment became the standard for many cattle plants across the U.S. and Canada. Grandin then became a best-selling author and speaker.

Malah, dalam sejumlah kasus, kondisi anak dapat dikatakan sebagai suatu kelebihan. Grandin bisa menyelesaikan tingkat doktoral dan merancang ulang peralatan kebutuhan hidupnya menjadi standar untuk sejumlah pangan ternak di Amerika dan Kanada. Grandin kemudian menjadi pembicara dan penulis terkenal.

In fact, Laurent Mottron, who holds the Marcel and Rolande Research Chair in Cognitive Neuroscience of Autism at the University of Montreal, directs eight members of his lab who are considered autistic.

“In certain settings, autistic individuals can fare extremely well,” wrote Mottron. “One such setting is scientific research.”

Pada kanyataannya, Laurent Mottron, Kepala Penelitian Marcel dan Rolande Bidang Cognitive Neuroscience of Autism di Universitas Montreal, menunjukkan langsung 8 anggota dari laboratoriumnya yang tertarik pada autistik. “Pada kondisi tertentu, individu autis dapat berbuat sangat baik,” tulis Mottron. “Salah satu kondisi itu adalah penelitian ilmiah.

Mottron doesn’t consider his lab members to be extraordinary workers, or savants, he wrote in an editorial published November in the journal Nature. But their strength in research has been a huge asset to his lab, he said.

Mottron tidak menganggap anggota laboratoriumny adalah pekerja luar biasa, atau orang yang terpelajar, ia menulis dalam sebuah editorial yang diterbitkan Bulan November di Jurnal ‘Nature.  Namun kekuatan mereka dalam penelitian merupakan aset yang besar untuk laboratoriumnya, tulisnya.

“Without question, autistic brains operate differently,” Mottron wrote in his editorial. He added that most autistics are better at detecting changing sounds, detecting visual structures, and manipulating 3D shapes. But, Warner cautioned against minimizing the limitations of their conditions.

“Tanpa bertanya, otak autis berkerja dengan cara berbeda,” Mottron menulis dalam editorialnya. Ia menambahkan bahwa sejumlah autistik memiliki kemampuan lebih dalam mendeteksi perubahan suara, mendeteksi struktur visual, dan memanipulasi bentuk 3D. Namun, Warner mengingatkan akan peminiman pembatasan kondisi mereka.

“If you put anyone in an environment where they can display their strengths, then of course they’ll thrive,” said Warner, who called for a “bigger picture” look at strengthening other life situations beyond the work environment.

“Jika anda meletakkan seseorang dalam lingkungan dimana mereka dapat menunjukkan kelebihannya, tentu mereka akan berkembang dengan pesat, ” kata Warner, seseorang yang dikenal dengan ‘bigger picture’ dalam melihat peguatan situasi hidup yang lain dalam dunia kerja.

“Just because they do well in one environment doesn’t mean their condition is not necessarily a disorder,” she said.

“Hanya karena mereka bekerja dengan baik dalam satu lingkungan bukan berarti kondisi mereka tidak sepenting orang yang mengalami gangguan,” katanya.

While autism, by definition, is marked by impaired communication, social and physical behavior, Mottron said research so far is hyper focused on the deficits of a person with autism, and how to treat them. Instead, the focus should be on developing their strengths and abilities, he said.

Walaupun autisme, berdasarkan definisi, dikenal dengan adanya kelemahan perilaku dalam komunikasi, sosial dan fisik,Mottron berkata bahwa penelitian terbaru terlalu berfokus pada kelemahan seseorang yang mengalami autisme, dan bagaimana cara menyembuhkan mereka. Seharusnya, fokus penelitian lebih ditekankan pada kelebihan dan kemampuan mereka, katanya.

“Too often, employers don’t realize what autistics are capable of, and assign them repetitive, almost menial tasks,” said Mottron. “But I believe that most are willing and capable of making sophisticated contributions to society, if they have the right environment.”

“Terlalu sering, para petugas tidak sadar tentang kemampuan orang yang autis, dan bertahan pada perilaku berulang mereka, hampir seperti tugas kasar,” kata Mottron. “Tetapi, saya percaya bahwa sejumlah besar mau dan mampu untuk membuat kontribusi yang terkemuka dalam masyarakat, jika mereka berada pada lingkungan yang tepat.

Pasted from <http://abcnews.go.com/blogs/health/2011/11/02/for-some-autism-considered-strength-not-disorder/>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s