Amira ‘The Three Cup of Tea’

The books that changed the way people think about changing the world: Peace Through Education

Three Cups of Tea #1 New York Times Bestseller
Three Cups of Tea
One Man’s Mission to Promote Peace . . . One School at a Time

By Greg Mortenson and David Oliver Relin
VIKING Hardcover 2006 ISBN 0-670-03482-7
PENGUIN Paperback 2007 ISBN 978-0-14-303825-2
TANTOR Audio 2007 ISBN 1-4001-0251-0
TANTOR MP3 Digital 2007 ISBN 1-4001-5251-8
WHEELER Large Print 2008 ISBN 978-1-59722-624-0
#1 New York Times Bestseller
Young Adult VersionThree Cups of Tea
One Man’s Journey to Change the World, One Child At A Time

By Greg Mortenson & David Oliver Relin
Adapted By Sarah Thomson and Foreward By Dr. Jane Goodall
Includes an interview with Amira Mortenson, Daughter of Greg Mortenson.
PUFFIN Hardcover 2009 ISBN 0-142-41412-3
PUFFIN Paperback 2009 ISBN 978-0-14-241412-5
PUFFIN Audio 2009 ISBN 978-0143144465
Young Adult Three Cups of Tea
Listen to the Wind #1 New York Times Bestseller
Children’s Version Listen to the Wind
The Story of Dr. Greg and Three Cups of Tea

By Greg Mortenson & Susan L. Roth
DIAL Hardcover 2009 ISBN 978-0-8037-3058-8
New York Times Bestseller
Stones into Schools
Promoting Peace Through Education in Afghanistan and Pakistan

By Greg Mortenson
VIKING Hardcover 2009 ISBN 978-0-670-02115-4
PENGUIN Paperback 2010 ISBN 978-0-14-311823-7
PENGUIN Audio 2009 ISBN 0-143-14496-0
www.stonesintoschools.com
Stones into Schools

Three Cups of Tea is one of the most remarkable adventure stories of our time. Greg Mortenson’s dangerous and difficult quest to build schools in the wildest parts of Pakistan and Afghanistan is not only a thrilling read, it’s proof that one ordinary person, with the right combination of character and determination, really can change the world.” –Tom Brokaw

Three Cups of Tea adalah salah satu cerita petualangan yang luar biasa. Kesulitan dan Bahaya  Greg Mortenson’s untuk mendirikan sekolah-sekolah di bagian liar Pakistan dan Afghanistan tidak hanya sekedar bacaan yang mendebarkan, ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pria biasa, dengan it’s proof that one ordinary person, yang berkarakter dan memiliki kebulatan tekad, benar2 dapat merubah dunia.” –Tom Brokaw

“Greg Mortenson represents the best of America. He’s my hero. And after you read Three Cups of Tea , he’ll be your hero, too.” –U.S. Representative Mary Bono (R-Calif.)

“Greg Mortenson adalah gambaran terbaik dari Amerika. Ia adalah pahlawan saya. Dan setelah anda membaca Three Cups of Tea , ia akan menjadi pahlawan anda juga.” –U.S. Representative Mary Bono (R-Calif.)

Three Cups of Tea is beautifully written. It is also a critically important book at this time in history. The governments of Pakistan and Afghanistan are both failing their students on a massive scale. The work Mortenson is doing, providing the poorest students with a balanced education, is making them much more difficult for the extremist madrassas to recruit.” –Ahmed Rashid, best-selling author of Taliban: Militant Islam and Oil in Central Asia and Descent Into Chaos.

Three Cups of Tea adalah sebuah tulisan yang indah. ini juga merupakan buku penting yang kritis sepanjang sejarah. Pemerintah Pakistan dan Afghanistan merusak begitu banyak siswa mereka. Pekerjaan yang dilakukan Mortenson, menyediakan siswa miskin suatu pendidikan yang selayaknya, is making them much more difficult for the extremist madrassas to recruit (maap..masih perlu memahami tuk kalimat ini).” –Ahmed Rashid, best-selling author of Taliban: Militant Islam and Oil in Central Asia and Descent Into Chaos.

“A Template For Peace” –Bloomsbury Review

Greg Mortenson has provided a Three Cups of Tea Reading Guide and a Question & Answer Interview for use in book clubs, interviews, classrooms, etc.

Kisah ini berawal dari sebuah janji..

JANJI

Greg mengamati dan menyimak ketika anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Pakistan untuk mengawali hari sekolah. Dia melihat anak perempuan Twaha yang berusia delapan tahun, Jahan, berdiri tegap dibalik kerudung ketika bernyanyi. Setelah lagu berakhir, mereka duduk di tanah dan mulai menulis tabel perkalian. Beberapa anak, seperti Jahan, punya papan yang mereka tulisi dengan ranting dicelup lumpur. Yang lainya menulis di tanah dengan ranting. “Bisakah kau bayangkan anak-anak kelas empat di Amerika, sendirian, tanpa guru, duduk tenang dan mengerjakan pelajaran mereka?” tanya Greg di kemudian hari. “Hatiku seakan terkoyak … Aku tahu, aku harus berbuat sesuatu.

Tapi, apa yang bisa dilakukannya?sisa uang hampir tidak mencukupi untuk pergi dengan jip dan bus ke ibukota Pakistan, naik pesawat dan pulang. Akan tetapi, pasti dia bisa melakukan sesuatu.

berdiri di sebelah Haji Ali, memandangi pegunungan yang hendak didakinya setelah mengintari setengah belahan dunia, mendadak Greg merasa bahwa mencapai puncak K2 untuk meletakkan kalung tidaklah begitu penting. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu untuk menghormati adiknya, Christa. Dia meletakkan kedua tangan di bahu Haji Ali. “Aku akan membangun sekolah,” ujarnya. “Aku berjanji.”

 

Sebuah buku yang akhirnya menjadi salah satu pilihanku saat bazar Gramedia Maret 2011, dengan harga Rp.20.000, membuat airmata berdesakan tuk ikut membaca kisah perjalanan Greg memperjuangkan sekolah tuk anak-anak di Pakistan. Terharu, bahagia, dan ingin melakukan sesuatu seperti itu, apalagi saat ku ingat bocah-bocah luar biasa di negeriku Indonesia. Mereka juga punya hak yang sama dalam pendidikan, yang juga berada dalam kondisi yang sedikit lebih sejahtera dibanding di daerah tempat Greg mengikrar janji.

Seorang Greg, aplikasi luar biasa dari asuhan ayah bundanya, hingga membuatnya begitu memprioritaskan pentingnya kehidupan melayani dan mendidik. Demprey, ayahnya Greg yang suka berpergian suatu hari berkata pada istrinya yang sedang mengandung Greg, ‘Mereka perlu guru di Tanganyika, Ayo pergi ke Afrika’. Dan mereka begitu saja pergi ke Afrika. Demprey bekerja keras membangun rumah sakit pendidikan pertama di Tanzania dan Jerene, istrinya gigih memulai Sekolah Internasional Moshi. Yang disebut Greg sebagai PPB kecil, ‘Ada dua puluh delapan kebangsaan yang berbeda, dan kami merayakan semua hari libur; Hanukkah, Natal, Diwali, Idul Fitri.’ Setelah rumah sakit dan sekolah beres, keluarga Mortenson kembali ke Amerika.

Visi tersebut dibawa Greg dalam hidup. Itu ia buktikan setelah ia tersesat dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia. Sesat yang membawa ia untuk akhirnya melakukan sesuatu hal yang menurut sederhana namun begitu luar biasa. Ia tersesat ke salah satu desa di lereng pegunungan K2, desa Korphe. Ia pria asing pertama yang tersesat, kumal dan sangat letih kemudian dirawat dengan jamuan terbaik di desa miskin oleh kepala desa. Kemudian mengetahui tidak adanya sekolah disana. Maka dimulailah perjuangan tuk membangun sekolah disana. Ia kembali ke Amerika, bekerja dan mengumpulkan uang, bahkan ia menjual apartemen, menyimpan barang di gudang sewaan, dan tidur dalam kantung tidur dalam mobilnya yang akhirnya ia jual untuk biaya keberangkatannya kembali ke Pakistan. Hingga sampai di Pakistan, usulan masih harus tertunda dan memutuskan kembali ke Amerika tuk mengumpulkan uang lagi demi terbangun sebuah sekolah di desa Korphe.

Walaupun mengalami penculikan dan mendapat kecurigaan dari warga setempat, Greg tetap kukuh dengan janjinya, hingga kini ia telah berhasil mendirikan sekolah hingga perbatasan Afghanistan. Sungguh kisah luar biasa…

Sungguh harga luar biasa dari sebuah pengasuhan. Betapa orang tua menjadi sosok terbaik dalam perjalanan kehidupan anaknya. Pengasuhan ini juga yang dibawa Greg dalam keluarganya, hingga anaknya, Amira, mendukung usaha ayah dalam melayani dan mendidik, salah satu melalui program Pennies for Peace dengan mengumpulkan uang receh dari sekolah ke sekolah untuk disumbangkan pada teman-teman seusia agar memperoleh kesempatan belajar sepertinya. Wow…luar biasa ^o^

Mari kita pun memulai….

Patch Adams

Patch Adams

Kisah ini bercerita tentang seorang lelaki yang berusia sekitar empat puluhan yang memiliki cenderung untuk bunuh diri. Sehingga akhirnya ia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.

Di dalam rumah sakit jiwa tersebut ia bertemu dengan seorang pasien yang dahulunya adalah seorang innovator yang hebat dan jenius. Namun karena sangat jenius ia dinilai menderita sindrom jenius.

Saat bertemu pertama kali, ia menanyakan pada Patch, Berapa jumlah jari yang lihat, dengan benar Patch menjawab bahwa jawabanya adalah empat. Spontan bapak tua iu langsung mengatakan salah.

Suatu malam ia kembali menemui bapak tersebut dan kembali bapak tersebut menanyakan hal yang sama.

Lalu ia menunjukkan  rahasianya.

“lihat aku…”

“jangan pusatkan perhatianmu pada pemecahan namun pikirkanlah masalahnya. Dan sekarang lihat aku!

Jangan hanya melihat apa yang dapat namun juga lihat apa yang tidak dapat kau lihat.

Maka kau akan menemukan kehidupan yang baru setiap harinya.”

Maka Patch memburamkan penglihatannya sehingga ia dapat melihat ada bayangan dari empat jari yang tadi ia lihat sehingga kesemua berjumlah delapan buah. Dan itulah jawabannya.

Kemudian dengan teman sekamarnya. Seorang mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap tupai. Karena ini ia tidak berani untuk meninggalkan tempat tidurnya, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Lalu patch mengajaknya bermain sesuai dengan imajinasinya yang selalu melihat tupai. Sehingga pacth ikut untuk berpura-pura melihat tupai dan berusaha bersama dengan teman sekamarnya untuk melawan tupai tersebut. Sehingga tupai itu kalah dan temannya itu memiliki keberanian untuk buang air sendirian.

Sebelumnya, seperti biasa para pasien melakukan diskusi kelompok. Namun sangat disayangkan, seorang dokter yang seharusnya dapat mengobati pasien ternyata tidak dapat berbuat banyak. Hanya sekedar rutinitas. Ia bahkan tidak berani untuk menatap mata pasiennya.

Keberhasilan Patch dam menolong teman sekamar membulatkan tekadnya untuk keluar dari rumah sakit tersebut.ditambah lagi dengan perilaku yang ditunjukkan oleh dokter tadi.

Maka iapun masuk ke fakultas kedokteran.

Dengan usia yang sudah tergolong tua ia mendapat pandangan yang sedikit meremehkan dari teman2nya.

Namun walaupun bergitu ia tetap dapat menunjukkan bahwa ia pun tidak kalah dengan murid2 yang lainnya. Malah ia termasuk murid yang terbaik.

Sesuai denga niat awalnya tadi. Saat mendapat kesempatan melakukan praktek ia selalu berusaha untuk menghibur pasiennya. Ia selalu bercanda. Dengan alasan humor dapat membuat kondisi pasien menjadi lebih baik.

Caranya ini banyak mendapat tentangan daris sejumlah pihak dalam fakultas yang selama ini selalu berada dalam peraturan yang menggagungkan kedudukan mereka. Walau dalam retorika yang disampaikan mereka selalu berkata bahwa untuk menjadis eorang dokter kita harus mengutamakan kemanusiaan.

Namun begitu juga banyak juga yang berpartisipasi, setelah melihat hasil yang terjadi dengan usaha yang dilakukan oleh Patch.

Dengan teman2 ia mulai mewujudkan impiannya untuk mendirikan sebuah rumah sakit yang bebas biaya dengan mendirikan sebuah klinik pengobatan gratis disebuah lahan yang dipercayakan seseorang. Klinik ini banyak dikunjungi.

Sampat suatu saat ada seorang pasien yang aneh. Dan suatu hari ia mengirim mail box  telepon klinik Patch. Dan teman Patch yang perempuan yang menerimanya. Ternyata pasien ini adalah seorang yang mengalami ganguan jiwa. Saat calon doter tersebut sampai dirumahnya ia kemudian membunuhnya dan kemudian pasien itu bunuh diri.

Kejadian ini sangat menguncang Patch. Ia sangat merasa bersalah, dan mevonis dirinyalah yang menyebabkan semua keadaan ini.

Sehingga mengambil keputusan untuk menghentikan mimpinya. Walaupun sejulam temanya telah berusaha untuk membujuknya, dan bahkan seorang ang selama ini selalu ingin menjatuhkannya ikut membujuknya. Tak mampu merubah keputusannya.

Kemudian Patch pergi ke tepi jurang yang di depannya menghampar lahan 105 hektar yang rencananya akan ia bangun menjadi rumah sakit gratis. Saat itu ia benar2 kesal bahkan menyalahkan tuhan. Dan meremehkan kemampuannya. Namun saat ia berbalik seekor kupu2 hingga di tasnya dan kemudian terbang dan hingga di baju Patch untuk kemudian terbang tinggi.

Itu sepertinya mengingtakan patch pada teman mahasiswi kedokteran yang meninggal itu. Dulu teman tersebut pernah bercerita bahwa  ia ingin sekali menjadi ulat bulu, yang dengan mudah dapat bersembunyi, dan kemudian mencul menjadi kupu2 yang cantik dan kemudian terbang tanpa ada yang mengganggu.

Akhirnya ia kembali  ke rumah sakit dan melanjutkan impiannya selama ini. Namun saat itu juga ia memperoleh surat pengeluaran dari fakultas, karena kelancangannya mendirikan sebuah klinik tanpa izin.

Dengan bantuan teman2nya ia berhasil mengajukan banding ke dewan kedokteran negara.

Dalam sidang tersebut ia akhirya mencurahkan seluruh isi hati. Yang menggugah semua yang hadir dalam ruangan tersebut.

Ia berkata bahwa ia ingin dokter dan pasien dapat berada dalam posisi yang sejajar. Karena seorang dokter bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tentang kedokteran. Seseorang yang mampu untuk merawat, mendengar keluhan orang lain sehingga seseorang yang mampu melakukan tugas ini juga dapat dikatakan dokter. Ia pun berkata bahwa yang lebih profesinal dari seorang dokter adalah perawat. Mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berkomunikasi dengan pasien. Dan ia meminta para calon dokter untuk belajar banyak dari mereka. Dan juga para calon dokter juga mampu untuk menjalin komunikasi yang baik dengan orang asing, teman sesama mahasiswa, dan juga dengan dokter, demikian juga untuk dokter yang belum beku hatinya.

Sehingga semua bukan hanya untuk mencari nilai semata.

Kerena tugas seorang dokter adalah meningkatkkan kualitas hidup pasien, bukan hanya merawat mereka sambil menunggu kematian.

Ia tahu bahwa dengan keberaniannya menentang peraturan yang ada maka ia akan kehilangan sesuatu, namun baginya ia juga akan mendapatkan sesuatu, dimana dewan dapat membuat keputusan untuk tidak meluluskan dia namun, mereka tidak dapat menghentikan atau mengendalikan jiwanya, keinginannya untuk terus belajar, dan ia akan terus menjadi duri yang tidak akan pernah menghilang.

Saat ia berpaling, para pasien yang telah merasakan perawatanya ternyata hadir kedalam persidangan. Dan bergaya seperti Patch biasa menghibur mereka dahulu.

Akhir dewan memutuskan bahwa patch layak untuk mendapat gelar dokter.

Dan sekarang patch sedang merintis rumah sakit gratis  impiannya. Dengan 1000 dokter yang siap untuk bergabung.

Cerita yang diangkat dari peristiwa nyata ini penuh dengan makna. Ini menggugah sisi psikologi dalam diri ana.

Diawali dengan pengantar

Kehidupan adalah kepulangan.

Rumah adalah tempat kita berasal

Dan rumah adalah tujuan.

Dengan ini juga ia ingin mengatakan bahwa rumah sakit benar merupakan rumah. Di dalamnya kita merasa benar berada dalam rumah.

Sebuah nilai yang disodorkan dalam film ini adalah keberanian untuk mengenal diri sebagai manusia, keberanian untuk memperjuangkan tujuan, dengan tampil beda namun juga tetap dilandasi dengan pengetahuan dan hati.

Terutama sekali untuk memahami tugas yang kita pilih, yakni mahasiswa.

Demikian juga terhadap kita yang belajar dalam bangku perkuliahan. Kita bukan hanya harus hidup dalam tumpukan buku, ceramah, tugas demi memperoleh deretan angka A atau B dalam lembaran kertas sebesar sepertiga quarto, namun lebih lagi.

Kita perlu ingat dari mana kita berasal dan kemana kita akan pergi. Lingkungan adalah tempat kita berasal dan selepas bangku perkuliahan ke dalamnya kita kembali uttuk mengaplikasikan  apa yang telah kita pelajari dari bangku tersebut.

Jadi jangan kita terlalu profesional dengan menempatkan diri pada tempatnya dengan profesional. Dimana saat ini saya mahasiswa maka tugas saya adalah belajar dibangku perkuliahan. Lalu untuk apa tri sukses Perguruan Tinggi harus dikenalkan. Apa hanya untuk terkenal saja tanpa punya arti.

Jika begini, seorang mahasiswa berarti sedang mengasah intelektualnya untuk tajam pada kertas nilai. Sehingga saat ia harus kembali pada tempat asalnya ia ketajaman intelektualnya menjadi tumpul.

Ini adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri. Jika salah tentunya akan sedikit jumlah pada penyandang toga tersebut yang harus mengeluh tidak memperoleh pekerjaan.

Untuk itu ia perlu untuk membuka diri dan teori untuk bersiap-siap sebelum ia benar-benar pulang pada tempat asalnya.

Jika sudah begini, dimana ia mampu menemukan cara terbaik untuk kembali dengan baik seperti yang ditemukan oleh Patch-dengan menolong orang lain kita dapat melupakan masalah yang kita hadapi, maka tidak salah tempat asalnya akan merindukannya.

Untuk kita yang memilih Psikologi sebagai jembatan untuk kembali dengan kondisi terbaik ke lingkungan, tempat asal kita, tentu kita juga harus mampu memahami tugas kita. Bukan hanya berlari dalam ruang teritori kita saja. kita butuh lebih dari itu, karena itu lingkungan juga butuh kita yang lebih dari sekarang. So, sama2 butuhkan. Maka saatnya kita bawa apa yang kita dapat dari sebuah bangku, kita bawa ke semesta yang tetap terkembang dengan berjuta keajaiban yang akan menjadi guru terbaik, lebih dari kita kira dalam pikiran intelektual kita.

Akhirnya aplikasikanlah…………………..

Ada banyak jalan untuk melakukannya………………………..

Seperti kata Aa Gym……….Mulailah dari diri kita sendiri………………..mulai dari hal yang kecil……………………..mulai dari saat ini……………………..

Jika belum ada maka kita adakan……………

Jika belum ditemulan kitalah penemunya……………

Karena yang kita miliki hanya sedikit………………..

Dan yang dimiliki-Nya lebih …………..dan lebih…………….

Saatnya kita untuk mencari..

Dan terus mencari…………

Hingga batasnya nanti….

Add this anywhere

Like this on Facebook