Letter From Ane-Qi (1)

Salamu’alaikum sahabatku,

Hasil bolak balik dari 2 buku ‘Bedah Masalah Kontemporer I Aam Amiruddin’ dan ‘Belajar dari 2 Umar Hepi Andi Bastoni’.

Profil Ilmu yang Bermanfaat

Sebuah ilmu yang bermanfaat, lebih dari sekedar ilmu agama bahkan bisa menjadi jariah setelah kita meninggal, adalah ilmu apa saja yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Allah patrikan ini dalam Mukjizat pada Rasulullah, Al Qur’an, salah satunya dalam surat Al Fathir 27-28. 2, dalam surat ini tergambar banyak bidang pengetahuan;botani, volkanologi, geologi, ethnologi, zoologi dan sosiologi. Diakhir ayat, ‘Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah ulama (orang yang berilmu)’, moga bisa diartikan siapapun yang memiliki ilmu mendalam tentang fenomena alam dan sosial juga kandungan kitab suci, asal memiliki rasa khasyyah (rasa kagum dan takut pada Allah), dia layak dimasukkan ke dalam kelompok ulama.

Maka pernah kita mendengar, ilmuwan/peneliti yang menjadi mualaf dalam usahanya memperdalam pengetahuannya pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Contohnya Dr. Jeffrey Lang, profesor matematika di University of San Fransisco. Ia mengungkapkan ‘bagi mereka yang telah memeluk Islam, saksi terbesar Allah yg tak henti-hentinya, mengejar, mempertahankan, dan membimbing cinta adalah Alquran’. Ia juga mengatakan ‘Saya berada dalam situasi kekalahan yg parah, karena telah menjadi jelas bahwa Penulis Quran tahu saya lebih baik daripada aku tahu diriku sendiri.” Seolah-olah Penulis Quran sedang membaca pikirannya. Setiap malam ia akan membuat beberapa pertanyaan dan sangkalan, tapi selalu menemukan jawabannya dalam pembacaan berikutnya ketika ia melanjutkan bacaan dalam urutannya. “Al-Quran selalu jauh di depan saya berpikir; itu adalah menghapus hambatan aku yg telah dibangun bertahun-tahun yg lalu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.” Jeffrey berjuang keras membuat sangkalan-sangkalan dan pertanyaan-pertanyaan, tapi jelas bahwa ia kalah dalam pertempuran. “Akulah yg sedang dibawa kepada suatu pojok dimana hanya terdapat satu pilihan.”

Selain itu….begitu banyak cendikiawan muslim pada zaman dahulu dengan pemahaman ilmu yang luar biasa dan ilmu tersebut masih dijadikan patokan hingga sekarang. Seperti yang kita kenal salah satunya Avisena (Ibnu Sina), salah satu pakar dalam bidang kedokteran.

Tradisi mereka dalam menuntut ilmu lah yang membawa mereka menjadi seperti itu. Dalam tulisan Hepi Andi Bastoni dituliskan bahwa pada ilmuwan itu sangat menghargai ilmu bahwa ‘ilmu itu didatangi bukan mendatangi’, mereka membiasakan untuk tidur awal dan bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat malam dilanjutkan dengan membaca dan menulis. dan yang terbaik dari semua itu mereka melandasi tradisi menuntut imu itu dengan keimanan pada Yang Menganungrahkan Ilmu…

Yuk mari kita menjadi sosok pembelajar seperti mereka…moga dapat melanjutkan sejarah luar biasa mereka dalam membangun diri dan umat. Be intelligent person.

Met belajar sahabat…
🙂

Alasan Tidak Boleh Minum Berdiri

Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”. Dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfinger. Sfinger adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.
Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum sambil berdiri. Air yang kita minum otomatis masuk tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itu terjadi pengendapan di saluran speanjang perjalanan (ureter). Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.
Betul, penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sungguh berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing, jelas hal ini berhubungan dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi.
Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri”. Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk.”
Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lambat. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.
Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat azas darurat!
Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.
Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.
Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.
Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.
Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.
Diriwayatkan ketika Rasulullah s.a.w. dirumah Aisyah r.a. sedang makan daging yang dikeringkan diatas talam sambil duduk bertekuk lutut, tiba-tiba masuk seorang perempuan yang keji mulut melihat Rasulullah s.a.w. duduk sedemikian itu lalu berkata: “Lihatlah orang itu duduk seperti budak.” Maka dijawab oleh Rasulullah s.a.w.: “Saya seorang hamba, maka duduk seperti duduk budak dan makan seperti makan budak.” Lalu Rasulullah s.a.w. mempersilakan wanita itu untuk makan. Adapun duduk bertelekan (bersandar kepada sesuatu) telah dilarang oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya Aku tidak makan secara bertelekan” (HR Bukhar).
dari berbagai sumber