Kiseki (I Wish)

Year: 2011

Director: Koreeda Hirokazu

Screenplay: Koreeda Hirokazu

Cinematography: Yutaka Yamazaki

Cast:  Maedi Koki, Maeda Oshiro, Odagiri Joe, Otsuka Nene, Hashizume Isao, Kiki Kirin

Runtime: 128 mins

Trailer: at nipponcinema (not subtitled)

Film’s official website: 奇跡 (in Japanese)

Seen at a screening at Vue West as part of the 2011 BFI Film Festival.

Kiseki (literally “Miracle”, but titled “I Wish” in English) is a film that belongs to the ‘slice of life’ genre. There is, however, a plot line: it revolves around two boys, Koichi and Ryu (wonderfully played by real life brothers Maeda Koki and Maeda Ohshiro), who have been living in different parts of Japan since their parents’ divorce six months prior. The older boy, Koichi, lives with his mother (Otsuka Nene) and grandparents (Hashizume Isao and Kiki Kirin) and particularly struggles to accept the separation. Ryu, meanwhile, is the eternal optimist. He is forever trying to put a positive spin on things and makes the best of the situation, something that includes parenting his indie rock-musician father (Odagiri Joe). The film, which provides only some detail on the children’s life before the divorce, hints at this being one of the reasons for the boys’ separation.

 Kiseki  (berarti ‘Keajaiban’, dalam bahasa Inggris disebut ‘I Wish’) adalah sebuah film dengan genre kisah kehidupan. Plot ceritanya berkisah tentang 2 anak alaki-laki, Koichi dan Ryu (Luar biasanya diperankan oleh 2 kakak adik sesungguhanya, Maeda Koki dan Maeda Ohshiro), yang hidup terpisah di Jepang sejak kedua orang tuanya bercerai 6 bulan yang lalu. Sang kakak, Koichi, tinggal bersama ibunya (Otsuka Nene) dan kakek-neneknya (Hashizume Isao dan Kiki Kirin) dan berusaha (sulit) untuk menerima perpisahan ini. Lain halnya dengan ryu yang optimis. Ia selalu berusaha berpikir positif terhadap semua yang terjadi dan mencari solusi yang terbaik untuk itu, seperti menjaga ayahnya yang seorang musisi rock Indie (Odagiri Joe).  Film ini, hanya mencceritakan beberapa detail tentang kehidupan anak-anak tersebut sebelum orang tuanya bercerai, petunjuk yang menyatakan kenapa anak-anak itu hidup terpisah.

 Koichi overhears that when the superfast shinkansen trains on the newly built track between Kagoshima and Fukuoka (where the boys live) pass each other for the first time, wishes will come true for anyone witnessing the event, and thus concocts a plan to meet his brother in that very spot. This is the story that drives Kiseki, yet at the heart of the film are the snippets of people’s everyday lives:  Running to school with hair still wet. Watching fava beans grow. Checking for volcanic ash in the air. Eating crumbs from the bottom of a crisp bag. Boycrushing on the kind librarian. Haggling for a discount on octopus puffs (or uttering lighthearted threats otherwise).

 Koichi mendengar bahwa saat kereta Shinkansen supercepat pada jalur yang baru dibuat antara Kagoshima dan Fukuoka (tempat tinggal mereka) bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya, permohonan yang disampaikan setiap orang akan menjadi kenyataan pada saat itu, dan kemudian ia membuat rencana untuk bertemu dengan adiknya di sebuah daerah terdekat dengan tempat pertemuan kereta itu. Ini merupakan cerita memperjuangkan mimpi, sekalipun begitu inti cerita menampakkan potongan kehidupan sehari-hari setiap orang; berlari kesekolah dengan rambut yang masih basah. Melihat Kacang fava tumbuh. Memeriksa abu vulkanik di udara. Makan remah snack yang tertinggal. Kenakalan anak-anak dengan petugas pustaka. Tawar manawar diskon untuk membeli bola-bola gurita.

 

The film initially is a little slow, although it is difficult to pinpoint where exactly the excess lies because overall Kiseki feels just right. We learn about the various characters, each with his or her own quirks in personality and unique dreams. Other than Koichi, Ryu and immediate family members, there are also boys’  friends that join them on their journey of wishes, as well as few other, more minor characters (various teachers, grandpa’s sock-fiddling pals, an old couple that has long lost contact with their daughter) that add their bit to Kiseki.

 Film ini pada awalnya sedikit lambat, namun sulit untuk menentukan bagian terpenting film karena secara keseluruhan Kiseki berjalan apa adanya. Kita belajar tentang bermacam karakter, masing-masing dengan karakteristik kepribadian dan impiannya yang unik. Berbeda dengan Koichi, Ryu dan teman-temannya, dan juga teman-teman Koichi yang bergabung dalam perjalanan impian, mereka menikmati perjalanan tersebut, dan berbagai karakter kecil lainnya (beragam guru, teman-teman kakek koichi, pasangan kakek nenek yang telah lama kehilangan kontak dengan anak perempuannya) yang memberikan tambahan untuk Kiseki.

The film’s highlight is the trip to the shinkansen meeting point, not because it is the climax that Kiseki has been aiming for, but rather because it’s such a delight to see that group of seven children make their essentially crazy plan (it is a two-day trip, ingeniously afforded by selling action figures and scouring for dropped coins under vending machines, but with no overnight accommodation prearranged) happen. Even the few adults that discover what the children have set out to do, wisely let them be without interfering: it’s the children’s own, secret adventure, possible and promising miracles for them only because they are still – for a little while longer at least – children.

Bagian terpenting dari Film adalah perjalanan menuju titik pertemuan kereta shinkansen, bukan karena ini adalah klimaks dari Kiseki yang dituju, melainkan karena ini adalah bagian yang menyenangkan untuk melihat 7 anak membuat rencana gila yang mereka nilai penting (ini merupakan perjalanan 2 hari, dengan mahir menjual barang-barang mereka dan mengumpulkan uang dari mesin penjual otomatis untuk mengumpulkan uang perjalanan, namun tanpa merencanakan penginapan mereka pada malam hari) terlaksana. Walaupun sejumlah orang dewasa berusaha untuk membantu anak-anak tersebut dalam rencana mereka, mereka dengan bijak tetap membiarkan anak-anak tersebut melakukan rencana mereka tanpa ikut serta: karena itu adalah keinginan anak-anak tersebut, petualangan rahasia, keajaiban yang mungkin terjadi dan diharapkan oleh mereka hanya karena mereka masih anak-anak-untuk dipercayai beberapa lama.

Do miracles happen? The film doesn’t really answer this question. Some of the children’s wishes do not – cannot – come true as they themselves know, but others might very well: perhaps through the miraculous power of two shinkansen trains passing each other or by the effort individuals exert in order to make their dreams come true, or, a little bit of both.

Apakah keajaiban akan terjadi? Film ini tidak benar-benar memberi jawaban dari pertanyaan ini. Beberapa harapan anak-anak tersebut tidak dapat -tidak akan- menjadi kenyataan seperti yang mereka sendiri tau, walaupun untuk beberapa diantara mereka mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan; mungkin dengan keajaiban kekuatan dari pertemuan kereta Shinkansen atau dengan usaha mereka sendiri dalam memperjuangkan impian mereka menjadi kenyataan, atau, barangkali keduanya.

Pasted from <http://alualuna.wordpress.com/2011/10/18/kiseki/#comment-105>

Yuk…nonton film ini, karena menurut ledi ini adalah film motivasi, yang mengajarkan kita bagaimana mempercayai mimpi, memperjuangkannya dan mengukuhkannya dalam diri kita, hingga mendarah daging dalam tindakan dan pikirn kita dan sehingga setiap perjuangan bisa kita nikmati.

Seven Pound

Seven PoundDirected by Gabriele Muccino
Produced by Todd Black, Jason Blumenthal, James Lassiter, Will Smith, Steve Tisch
Written by Grant Nieporte
Starring Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Michael Ealy, Barry Pepper
Music by Angelo Milli
Cinematography Philippe Le Sourd
Editing by Hughes Winborne
Studio Relativity Media Overbrook Entertainment Escape Artists
Distributed by Columbia Pictures
Release date(s) United States: December 19, 2008
United Kingdom:January 16, 2009
Running time 123 minutes
Country United States
Language English
Budget $55,000,000
Gross revenue $168,167,691

Seven Pounds is a 2008 film, directed by Gabriele Muccino. Will Smith stars as a man who sets out to change the lives of seven people. Rosario Dawson, Woody Harrelson, and Barry Pepper star. The film was released in theaters in the United States and Canada on December 19, 2008, by Columbia Pictures. Despite generally negative reviews from critics it was a box office success, grossing $168,167,691 worldwide, three times its $55 million dollar production budget.

‘Seven Pound adalah film keluaran 2008, arahan Gabriele Muccino. Will Smith sebagai seorang laki-laki yang berusaha merubah kehidupan tujuh orang. Aktor Rosario Dawson, Woody Harrelson, dan Barry Pepper. Film ini ditampilkan di teater USA dan Kanada pada 19 Desember 2008 oleh Columbia Pictures. Meskipun ditempa sejumlah kritik negatif, film ini merupakan salah satu Box Offices yang sukses, memperoleh $168.167.691 di seluruh dunia, tiga kali dari biaya produksi yang sebesar $ 55 juta dollar.”


Plot
Tim Thomas (Will Smith), reading a text message while driving, causes a car crash in which seven people died: six strangers and his fiancee, Sarah Jenson (Robinne Lee).

Alur’
Tim Thomas (Will Smith), membaca SMS sambil menyetir, menyebabkan kecelakaan mobil yang dibawanya yang menewaskan tujuh orang, salah satunya istrinya, Sarah Jenson (Robinne Lee).’

In a bid for redemption, Tim sets out to save the lives of seven good people. A year after the crash, having quit his job as an aeronautical engineer, Tim donates a lung lobe to his brother, Ben (Michael Ealy), an IRS employee. Six months later he donates part of his liver to a child services worker named Holly (Judyann Elder). After that, he begins searching for more candidates to receive donations. He finds George (Bill Smitrovich), a junior hockey coach, and donates a kidney to him, and donates bone marrow to a young boy named Nicholas (Quintin Kelley).

‘Dalam usaha menebus rasa bersalahnya, Tim berusaha untuk menyelamatkan hidup tujuh orang lain. Setahun setelah kecelakaan, Tim berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang insinyur penerbangan, Tim menyumbangkan salah satu paru-parunya kepada adiknya sendiri, Ben (Michael Ealy), seorang pegawai IRS. Enam bulan kemudian ia menyumbangkan sebagian hatinya kepada seorang gadis pekerja sosial bernama Holly (Judyann Elder). Setelah itu, ia mulai mencari calon kandidat lain yang akan menerima organ tubuhnya. Ia menemukan George (Bill Smitrovich), seorang pelatih hockey muda, dan menyumbangkan sebuah ginjal kepada George, dan menyumbangkan sumsum tulang kepada seorang bocah bernama Nicholas (Quintin Kelley).’

Two weeks before he dies, he contacts Holly and asks if she knows anyone who deserves help. She suggests Connie Tepos (Elpidia Carrillo), who lives with an abusive boyfriend. Tim moves out of his house and into a local motel, taking with him his pet box jellyfish. One night, after being beaten, Connie contacts Tim and he gives her the keys to his house and decides she is worthy.

‘Dua minggu sebelum ia mati, ia menghubungi Holly dan menanyakan jika ada orang lain yang membutuhkan bantuan. Holly menyarankan Connie Tepos (Elpidia Carrillo), seorang wanita yang hidup dengan pacarnya yang kejam. Tim pindah dari rumahnya dan tinggal di sebuah motel lokal dengan membawa peliharaannya sekotak ubur-ubur. Suatu malam, setelah mengalami pemukulan, Connie menghubungi Tim dan Tim memberikan Coonie kunci rumahnya dan memberikanya untuk wanita itu.’

He then contacts Emily Posa (Rosario Dawson), a self-employed greeting card printer who has a heart condition and a rare blood type. He spends time with her, weeding her garden and fixing her rare Heidelberg Windmill press. He begins to fall in love with her and decides that as her condition has worsened he needs to make his donation.

”Tim kemudian menghubungi Emily Posa (Rosario Dawson), seorang wirausahawan kartu ucapan yang memiliki jantung dan tipe darah yang langka. Tim menghabiskan waktu bersama dengan wanita ini, merawat kebunnya dan memperbaiki mesin pressnya ‘Heidelberg Windmill’ . Tim mulai jatuh hati pada wanita ini dan memutuskan untuk menjadikanya penerima donor organnya karena kondisi wanita semakin memburuk.’

Tim’s brother Ben tracks him down at Emily’s house, demanding that Tim return Ben’s IRS credentials. After an interlude with Emily, Tim leaves her sleeping and returns to the motel. He fills the bathtub with ice water to preserve his vital organs, climbs in, and commits suicide by pulling his box jellyfish into the water with him. His friend Dan (Barry Pepper) acts as executor to ensure that his organs are donated to Emily and Ezra. Ezra Turner receives his corneas and Emily receives his heart. Afterward, Emily meets Ezra at his concert at a park, and she feels reunited with Tim as she looks into his eyes.

‘Adik Tim, Ben mencarinya ke rumah Emily, meminta Tim untuk mengembalikan tanda pengenal IRS milik Ben. Setelah beberapa lama bersama Emily, Tim meninggalkannya saat tidur dan kembali ke motelnya. Tim mengisi bak mandi dengan air es untuk menjaga kondisi organ tubuhnya, ia kemudian masuk ke dalam bak, dan memutuskan untuk bunuh diri memasukkan ubur-ubur peliharaanya ke dalam bak mandi. TemannyaDan (Barry Pepper) bertindak sebagai orang yang bertanggung jawab memberikan organnya kepada Emily dan Ezra. Ezra Turner menerima kornea Tim dan Emily menerima jantungnya. Setelah itu, Emily bertemu Ezra di konsernya di sebuah taman, and Emily merasa terhubung dengan Tim saat ia melihat matanya.’

Production

Seven Pounds is based on a script written by Grant Nieporte under Columbia Pictures. In June 2006, Will Smith joined the studio to star in the planned film and to serve as one of its producers. In September 2007, director Gabriele Muccino, who worked with Smith on The Pursuit of Happyness (2006), was attached to direct Seven Pounds, bringing along his creative team from the 2006 film. Smith was joined by Rosario Dawson and Woody Harrelson the following December to star in Seven Pounds. Filming began in February 2008.

‘Seven Pounds difilmkan berdasarkan naskah Grant Nieporte dibawah Columbia Pictures. Pada Juni 2006, Will Smith bergabung dengan studio joined the studio untuk membintangi sebuah film dan menjadi produser dari film tersebut. Pada September 2007, sutradara Gabriele Muccino, yang bekerja sama Smith dalam The Pursuit of Happyness (2006), juga diminta untuk mengarahkan Seven Pounds, membawa tim kreatif dari film 2006. Smith bekerja sama dengan Rosario Dawson dan Woody Harrelson pada December untuk membintangu Seven Pounds. Film dimulai pada Februari 2008.

Most of the film was shot in various locations around Los Angeles, Pasadena, California and Malibu, California. Points of interest used in the film include the Travel Inn in Tujunga, California, the Colorado Bar, The Huntington Library, The Sheraton and The Pasadena Ice Skating Rink all in Pasadena, as well as Malibu Beach in Malibu.

‘Sejumlah besar lokasi film diambil di berbagai tempat di sekitar Los Angeles, Pasadena, California dan Malibu, California. Titik menarik yang digunakan dalam film ini meliputi Travel Inn in Tujunga, California, bar Colorado, Perpustakaan Huntington, Sheraton dan Pasadena Ice Skating Rink di Pasadena, serta Pantai Malibu di Malibu.’

Cast/Pemain
• Will Smith sebagai Tim Thomas, dengan identitas Ben Thomas.
• Michael Ealy sebagai Ben Thomas, adik Tim dan agen IRS.
• Barry Pepper sebagai Dan Morris, Teman Tim dan pelaksana wasiatnya.
• Rosario Dawson sebagai Emily Posa, seorang wirausaha percetakan kart ucapan dan wanita yang disukai Tim.
• Woody Harrelson sebagai Ezra Turner, seorang sales buta yang bisa bermain piano.
• Elpidia Carrillo sebagai Connie Tepos, seorang wanita yang mengalami masalah dalam hubungan dengan pacarnya.
• Judyann Elder sebagai Holly, seorang gadis petugas kebersihan.
• Bill Smitrovich sebagai George, seorang pelatih hockey muda.
• Quintin Kelly sebagai Nicholas, seorang bocah.
• Robinne Lee as Sarah Jenson, Tim’s fiancee

Patch Adams

Patch Adams

Kisah ini bercerita tentang seorang lelaki yang berusia sekitar empat puluhan yang memiliki cenderung untuk bunuh diri. Sehingga akhirnya ia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.

Di dalam rumah sakit jiwa tersebut ia bertemu dengan seorang pasien yang dahulunya adalah seorang innovator yang hebat dan jenius. Namun karena sangat jenius ia dinilai menderita sindrom jenius.

Saat bertemu pertama kali, ia menanyakan pada Patch, Berapa jumlah jari yang lihat, dengan benar Patch menjawab bahwa jawabanya adalah empat. Spontan bapak tua iu langsung mengatakan salah.

Suatu malam ia kembali menemui bapak tersebut dan kembali bapak tersebut menanyakan hal yang sama.

Lalu ia menunjukkan  rahasianya.

“lihat aku…”

“jangan pusatkan perhatianmu pada pemecahan namun pikirkanlah masalahnya. Dan sekarang lihat aku!

Jangan hanya melihat apa yang dapat namun juga lihat apa yang tidak dapat kau lihat.

Maka kau akan menemukan kehidupan yang baru setiap harinya.”

Maka Patch memburamkan penglihatannya sehingga ia dapat melihat ada bayangan dari empat jari yang tadi ia lihat sehingga kesemua berjumlah delapan buah. Dan itulah jawabannya.

Kemudian dengan teman sekamarnya. Seorang mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap tupai. Karena ini ia tidak berani untuk meninggalkan tempat tidurnya, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Lalu patch mengajaknya bermain sesuai dengan imajinasinya yang selalu melihat tupai. Sehingga pacth ikut untuk berpura-pura melihat tupai dan berusaha bersama dengan teman sekamarnya untuk melawan tupai tersebut. Sehingga tupai itu kalah dan temannya itu memiliki keberanian untuk buang air sendirian.

Sebelumnya, seperti biasa para pasien melakukan diskusi kelompok. Namun sangat disayangkan, seorang dokter yang seharusnya dapat mengobati pasien ternyata tidak dapat berbuat banyak. Hanya sekedar rutinitas. Ia bahkan tidak berani untuk menatap mata pasiennya.

Keberhasilan Patch dam menolong teman sekamar membulatkan tekadnya untuk keluar dari rumah sakit tersebut.ditambah lagi dengan perilaku yang ditunjukkan oleh dokter tadi.

Maka iapun masuk ke fakultas kedokteran.

Dengan usia yang sudah tergolong tua ia mendapat pandangan yang sedikit meremehkan dari teman2nya.

Namun walaupun bergitu ia tetap dapat menunjukkan bahwa ia pun tidak kalah dengan murid2 yang lainnya. Malah ia termasuk murid yang terbaik.

Sesuai denga niat awalnya tadi. Saat mendapat kesempatan melakukan praktek ia selalu berusaha untuk menghibur pasiennya. Ia selalu bercanda. Dengan alasan humor dapat membuat kondisi pasien menjadi lebih baik.

Caranya ini banyak mendapat tentangan daris sejumlah pihak dalam fakultas yang selama ini selalu berada dalam peraturan yang menggagungkan kedudukan mereka. Walau dalam retorika yang disampaikan mereka selalu berkata bahwa untuk menjadis eorang dokter kita harus mengutamakan kemanusiaan.

Namun begitu juga banyak juga yang berpartisipasi, setelah melihat hasil yang terjadi dengan usaha yang dilakukan oleh Patch.

Dengan teman2 ia mulai mewujudkan impiannya untuk mendirikan sebuah rumah sakit yang bebas biaya dengan mendirikan sebuah klinik pengobatan gratis disebuah lahan yang dipercayakan seseorang. Klinik ini banyak dikunjungi.

Sampat suatu saat ada seorang pasien yang aneh. Dan suatu hari ia mengirim mail box  telepon klinik Patch. Dan teman Patch yang perempuan yang menerimanya. Ternyata pasien ini adalah seorang yang mengalami ganguan jiwa. Saat calon doter tersebut sampai dirumahnya ia kemudian membunuhnya dan kemudian pasien itu bunuh diri.

Kejadian ini sangat menguncang Patch. Ia sangat merasa bersalah, dan mevonis dirinyalah yang menyebabkan semua keadaan ini.

Sehingga mengambil keputusan untuk menghentikan mimpinya. Walaupun sejulam temanya telah berusaha untuk membujuknya, dan bahkan seorang ang selama ini selalu ingin menjatuhkannya ikut membujuknya. Tak mampu merubah keputusannya.

Kemudian Patch pergi ke tepi jurang yang di depannya menghampar lahan 105 hektar yang rencananya akan ia bangun menjadi rumah sakit gratis. Saat itu ia benar2 kesal bahkan menyalahkan tuhan. Dan meremehkan kemampuannya. Namun saat ia berbalik seekor kupu2 hingga di tasnya dan kemudian terbang dan hingga di baju Patch untuk kemudian terbang tinggi.

Itu sepertinya mengingtakan patch pada teman mahasiswi kedokteran yang meninggal itu. Dulu teman tersebut pernah bercerita bahwa  ia ingin sekali menjadi ulat bulu, yang dengan mudah dapat bersembunyi, dan kemudian mencul menjadi kupu2 yang cantik dan kemudian terbang tanpa ada yang mengganggu.

Akhirnya ia kembali  ke rumah sakit dan melanjutkan impiannya selama ini. Namun saat itu juga ia memperoleh surat pengeluaran dari fakultas, karena kelancangannya mendirikan sebuah klinik tanpa izin.

Dengan bantuan teman2nya ia berhasil mengajukan banding ke dewan kedokteran negara.

Dalam sidang tersebut ia akhirya mencurahkan seluruh isi hati. Yang menggugah semua yang hadir dalam ruangan tersebut.

Ia berkata bahwa ia ingin dokter dan pasien dapat berada dalam posisi yang sejajar. Karena seorang dokter bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tentang kedokteran. Seseorang yang mampu untuk merawat, mendengar keluhan orang lain sehingga seseorang yang mampu melakukan tugas ini juga dapat dikatakan dokter. Ia pun berkata bahwa yang lebih profesinal dari seorang dokter adalah perawat. Mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berkomunikasi dengan pasien. Dan ia meminta para calon dokter untuk belajar banyak dari mereka. Dan juga para calon dokter juga mampu untuk menjalin komunikasi yang baik dengan orang asing, teman sesama mahasiswa, dan juga dengan dokter, demikian juga untuk dokter yang belum beku hatinya.

Sehingga semua bukan hanya untuk mencari nilai semata.

Kerena tugas seorang dokter adalah meningkatkkan kualitas hidup pasien, bukan hanya merawat mereka sambil menunggu kematian.

Ia tahu bahwa dengan keberaniannya menentang peraturan yang ada maka ia akan kehilangan sesuatu, namun baginya ia juga akan mendapatkan sesuatu, dimana dewan dapat membuat keputusan untuk tidak meluluskan dia namun, mereka tidak dapat menghentikan atau mengendalikan jiwanya, keinginannya untuk terus belajar, dan ia akan terus menjadi duri yang tidak akan pernah menghilang.

Saat ia berpaling, para pasien yang telah merasakan perawatanya ternyata hadir kedalam persidangan. Dan bergaya seperti Patch biasa menghibur mereka dahulu.

Akhir dewan memutuskan bahwa patch layak untuk mendapat gelar dokter.

Dan sekarang patch sedang merintis rumah sakit gratis  impiannya. Dengan 1000 dokter yang siap untuk bergabung.

Cerita yang diangkat dari peristiwa nyata ini penuh dengan makna. Ini menggugah sisi psikologi dalam diri ana.

Diawali dengan pengantar

Kehidupan adalah kepulangan.

Rumah adalah tempat kita berasal

Dan rumah adalah tujuan.

Dengan ini juga ia ingin mengatakan bahwa rumah sakit benar merupakan rumah. Di dalamnya kita merasa benar berada dalam rumah.

Sebuah nilai yang disodorkan dalam film ini adalah keberanian untuk mengenal diri sebagai manusia, keberanian untuk memperjuangkan tujuan, dengan tampil beda namun juga tetap dilandasi dengan pengetahuan dan hati.

Terutama sekali untuk memahami tugas yang kita pilih, yakni mahasiswa.

Demikian juga terhadap kita yang belajar dalam bangku perkuliahan. Kita bukan hanya harus hidup dalam tumpukan buku, ceramah, tugas demi memperoleh deretan angka A atau B dalam lembaran kertas sebesar sepertiga quarto, namun lebih lagi.

Kita perlu ingat dari mana kita berasal dan kemana kita akan pergi. Lingkungan adalah tempat kita berasal dan selepas bangku perkuliahan ke dalamnya kita kembali uttuk mengaplikasikan  apa yang telah kita pelajari dari bangku tersebut.

Jadi jangan kita terlalu profesional dengan menempatkan diri pada tempatnya dengan profesional. Dimana saat ini saya mahasiswa maka tugas saya adalah belajar dibangku perkuliahan. Lalu untuk apa tri sukses Perguruan Tinggi harus dikenalkan. Apa hanya untuk terkenal saja tanpa punya arti.

Jika begini, seorang mahasiswa berarti sedang mengasah intelektualnya untuk tajam pada kertas nilai. Sehingga saat ia harus kembali pada tempat asalnya ia ketajaman intelektualnya menjadi tumpul.

Ini adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri. Jika salah tentunya akan sedikit jumlah pada penyandang toga tersebut yang harus mengeluh tidak memperoleh pekerjaan.

Untuk itu ia perlu untuk membuka diri dan teori untuk bersiap-siap sebelum ia benar-benar pulang pada tempat asalnya.

Jika sudah begini, dimana ia mampu menemukan cara terbaik untuk kembali dengan baik seperti yang ditemukan oleh Patch-dengan menolong orang lain kita dapat melupakan masalah yang kita hadapi, maka tidak salah tempat asalnya akan merindukannya.

Untuk kita yang memilih Psikologi sebagai jembatan untuk kembali dengan kondisi terbaik ke lingkungan, tempat asal kita, tentu kita juga harus mampu memahami tugas kita. Bukan hanya berlari dalam ruang teritori kita saja. kita butuh lebih dari itu, karena itu lingkungan juga butuh kita yang lebih dari sekarang. So, sama2 butuhkan. Maka saatnya kita bawa apa yang kita dapat dari sebuah bangku, kita bawa ke semesta yang tetap terkembang dengan berjuta keajaiban yang akan menjadi guru terbaik, lebih dari kita kira dalam pikiran intelektual kita.

Akhirnya aplikasikanlah…………………..

Ada banyak jalan untuk melakukannya………………………..

Seperti kata Aa Gym……….Mulailah dari diri kita sendiri………………..mulai dari hal yang kecil……………………..mulai dari saat ini……………………..

Jika belum ada maka kita adakan……………

Jika belum ditemulan kitalah penemunya……………

Karena yang kita miliki hanya sedikit………………..

Dan yang dimiliki-Nya lebih …………..dan lebih…………….

Saatnya kita untuk mencari..

Dan terus mencari…………

Hingga batasnya nanti….

Add this anywhere

Like this on Facebook