17 Sweet Moment

Setiap mimpi dimulai dengan langkah awal, hingga nanti mimpi itu menjadi kenyataan yang akan membuat kita tersenyum bahagia.

Setiap hari akan banyak mimpi yang bisa kita impikan. Setiap hari juga ada banyak mimpi yang terlupakan. Setiap hari ada banyak mimpi yang menjadi kenyataan. Setiap hari ada banyak mimpi yang bertransformasi menjadi mimpi baru dan menjadi lebih indah.

Dan dari sini, salah satu tempat yang mengajakku merangkai impian-impianku, my sweet dream.

Hari-hari pertama berangkat ke sekolah dengan seragam putih merah, sungguh bangga rasanya, seperti mencapai prestasi yang luar biasa…wah!

Aku sudah kelas 1 SD, punya tas baru dengan buku-buku yang disampul rapi dengan kertas kacang, sepatu baru, baju putih bersih, rok merah yang menyala seperti semangatku, topi dan dasiku.

Di kelas ini …

Buk Zar mulai mengenalkan huruf dan angka itu satu per satu, menjadi kata, menjadi kalimat dan menjadi cerita.

Berlanjut ke kelas 2 …

Pintu masuknya yang sebelah kanan, kalo yang sebelah kiri adalah WC dan ruang Mushalla. Di kelas itu Bu Yu mengajar dengan kasih sayang.

Di kelas 3 …

Ada pengalaman masak bubur kacang padi yang enak bersama Bu As di dalam kelas. Di kelas ini ini juga menjadi pengalaman pertama bolos belajar, karena kami  kelas 3 ada 2 kelas sedangkan ruang belajar hanya ada satu, jadi kami belajar shift, seminggu kelas 3A belajar pagi dan kelas 3B belajar siang, dan sebaliknya, hari itu aku lupa kalo dapat shift pagi, maka datang ke sekolah siang hari… jelas semua orang pada pulang dan aku pun pulang. Hehehe….!

Kelas 4 …

Ini permulaan persahabatan yang mengesankan, seorang teman sekelas yang lebih tua dariku melihat catatanku, entah kenapa aku merasa sangat terganggu, hingga akhirnya merobek buku catatanku sendiri hingga habis. Sampai dirumah tangisku menggugu di kamar dan nasehat ayah dan mama mengantarkan ku dalam persahabatan yang luar biasa.

Kelas 5 …

Ini awal sejarah indah bersama Ibu yang cantik Bu Linda. Seorang guru muda yang kompeten dan bersama beliau aku bisa merasakan menjadi juara kelas… hehe.

Kelas 6 ….

Adalah masa yang spesial karena kami (2 kelas) belajar dalam satu shift yang sama, dengan kelas berdampingan. Kelas 6 juga merupakan masa kompetisi, kami saling berusaha menjadi yang terbaik, salah satu saat ujian lisan dengan 2 orang maju berpasangan untuk menjawab pertanyaan guru. Di kelas ini, aku merasakan menjadi tutor untuk adik-adik di kelas 2, saat ini juga aku tahu kulit tebal ( walau tak setebal badak) hingga Bu Perawat harus menekan lebih kuat saat menyuntikku.

Saat kelas siang, alias saat les menghadapi ujian nasional, kami shalat di ruang kelas, tepatnya di atas meja dan teman yang tidak shalat atau telah selesai salat akan menjadi penguji iman teman-teman yang sedang shalat di atas meja, ada yang memanggil-manggil nama, bertingkah lucu dan bercanda. Dan di kelas ini, cinta monyet lagi menjamur, pernah ada teman cewek yang sekelas denganku yang langsung bertanya ke teman cowokku karena teman yang lain mengatakan kalau teman cowok itu suka padanya, hehe … coba bayangkan apa reaksi teman cowokku itu, hehe …

Hmm …. indah dan menginspirasi, namun saat datang kembali April 2012 dan memotret ruang kelas itu, sedih rasanya pijakan awal dari mimpi-mimpi indah itu terlihat seperti itu.

Namun, ada sebuah mimpi yang bangunan itu berikan padaku, untuk membuat lebih kuat mengejar mimpi. Dan bagaimana denganmu teman, singgahlah ke tempat awal mimpimu bermula dengan seragam Putih Merah itu… aku percaya ada pesan dan semangat yang diberikan padamu ^_^

Advertisements

Anak-anak ADHD dan Ayah-Ayah Mereka

Boys With ADHD and Their Dads

By Anita M. Schimizzi, Ph.D. On December 14, 2011 ·

A couple of months ago, I wrote about a study that looked at moms and children with ADHD.  Some readers responded with wanting more information on the role of dads in their child’s ADHD.  Well, I found an article in the Journal of Abnormal Child Psychology that studied dads and looked at the impact that their early relationships with their children have on later ADHD symptoms.  And, yes, the study suggests that the early father-child relationship does indeed seem to be related to middle-childhood ADHD symptoms.  (The study looked at the maternal role also, but I am going to focus on the paternal role here.  The citation is below if you’d like to read the whole study.)

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang sebuah penelitian mengenai ibu dan anak-anak mereka yang mengalami gangguan ADHD. Sejumlah pembaca merespon dengan meminta informasi lebih tentang peran ayah terhadap anak-anak mereka yang mengalami ADHD. Baik, saya menemukan sebuah artikel dalam Jurnal Psikologi Abnormal Anak yang mempelajari tentang ayah dan pengaruh hubungan awal mereka dengan anak-anak yang menunjukkan gejala ADHD. Dan, benarlah, penelitian ini menyatakan bahwa hubungan awal ayah dan anak tampak benar-benar berhubungan dengan gejala ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak. (Penelitian juga memperhatikan peran ibu, namun saya hanya fokus pada peran ayah yang ada dalam artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui seluruh isi penelitian, silahkan membaca kutipan penelitian berikut).

The study took place in New Zealand and included 93 preschool boys that were placed in a “hyperactive” group, control group, or in another comparison group where symptoms were present but less severe and, thus, gave the researcher the ability to look at a wide range of ADHD symptoms.  According to the author, only boys were included both because of logistics and because they tend to have more observable behaviors linked to ADHD than girls.  Eighty-nine fathers participated.  Data was collected using parent observations, interviews, and questionnaires, as well as teacher questionnaires.  The study spanned three years, starting when the boys were an average of four years-old.   A second round of data was collected two and a half years later when the boys were an average age of seven.

Penelitian tersebut dilaksanakan di New Zealand dan melibatkan 93 bocah laki-laki pra sekolah yang dikelompokkan dalam kelompok ‘hiperaktif’, kelompok kontrol, atau dalam kelompok pembanding lain dimana mereka menunjukkan gejala ADHD yang tergolong rendah dan, jadi, memberi peneliti kesanggupan untuk melihat rentang yang luas dari gejala ADHD. Berdasarkan penjelasan penulis, hanya anak laki-laki yang dilibatkan dalam kedua kelompok tersebut karena alasan logistik dan karena mereka cenderung lebih mudah diobservasi berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Delapan puluh satu ayah terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi orang tua, wawancara, dan kuisioner,  seperti kuisioner yang diberikan guru. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 3 tahun, dimulai saat anak-anak tersebut berusia sekitar 4 tahun. Pengambilan data kedua dilakukan sekitar dua setengah tahun kemudian saat anak-anak tersebut berusia sekitar 7 tahun.

The author, Louise Keown, looked at three areas of paternal responsiveness (sensitivity (e.g., being tuned into the son’s needs), intrusiveness (e.g., controlling son’s play), and positive regard (e.g., warmth and affection toward son)) and the presence of later ADHD symptoms.  The results took into account early ADHD and behavior problems.  In other words, the results looked at how fathers’ parenting impacted middle childhood ADHD above and beyond preschool problems in this area.

Penulis, Louise Keown, menekankan pada tiga area kemampuan reaksi dari ayah ‘paternal responsiveness’ (sensitivitas (seperti menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak laki-lakinya), intrusiveness (seperti mengontrol permainan anak), dan penghargaan yang positif (seperti, kehangatan dan perasaan pada anak laki-lakinya)) dan gejala ADHD yang muncul kemudian. Hasil dimasukkan dalam laporan ADHD awal dan gangguan perilaku. Dengan kata lain, hasilnya menunjukkan bagaimana pengasuhan ayah mempengaruhi ADHD pada pertengahan masa kanak-kanak setelah dan sebelum pra sekolah di daerah ini.

Here’s what the study found.  Fathers that were characterized as more sensitive and less intrusive with their preschool sons had sons that were later found to be less hyperactive and impulsive at school, according to teachers, and more attentive at home, according to fathers.   Further, higher levels of paternal positive regard in early childhood were related to their sons showing lower levels of inattention at both home and school in middle childhood, according to teacher and maternal reports.

Berikut ini adalah penjabaran hasil penelitian. Ayah dengan karakteristik lebih sensitif dan kurang intrusive (mengganggu) anak-anak laki-laki mereka yang berusia pra sekolah memiliki anak laki-laki yang kemudian diketahui kurang hiperaktif  dan impulsif di sekolah, menurut guru, dan lebih hiperaktif di rumah, menurut ayah. Selanjutnya, tingkat perhargaan positif yang tinggi dari ayah pada masa awal anak-anak berkaitan dengan anak mereka dengan menunjukkan tingkat tingkat ketidak perhatian ‘inattention’ yang rendah baik dirumah dan di sekolah pada masa awal anak-anak, menurut laporan  guru dan ibu.

In her discussion of the findings, Keown discusses the importance of fathers learning how to sync up with their sons to give them what they need in any given moment.  For example, a son that gets frustrated and angry with trying to build a block tower that keeps tumbling down will likely have a different response to a father that reprimands him for the outburst as opposed to validating the son’s emotions (e.g., “Wow!  It’s so frustrating when you try to build a tower that keeps falling down.”).  Another example could be a preschooler that starts running around like a maniac at a birthday party because he is over-stimulated and rather than giving him some time and space away from the chaos to get settled again, his father tells him to slow down.  While the cues may be subtle, it is important to learn how to read them.

Dalam pembahasanya mengenai hasil penelitian, Keown menjelaskan pentingnya ayah belajar tentang bagaimana mereka selaras dengan anak laki-laki mereka dalam memberikan mereka apa yang mereka inginkan di setiap kesempatan. Contohnya, seorang anak yang menjadi frustasi dan marah saat membangun menara balok yang tetap runtuh akan memiliki kemungkinan besar memiliki suatu respon yang berbeda pada seorang ayah yang menegur dirinya terhadap ledakan sebagai pertentangan untuk membenarkan emosi anaknya (seperti, “Wow! Sungguh menyebalkan saat kamu berusaha membangun menara yang tetap runtuh.”). Contoh lain, seorang anak prasekolah yang mulai berlarian kesana-kemari seperti seorang maniak saat pesta ulang tahun karena ia terlalu terstimulir dan dibanding memberi mereka waktu dan ruang bagi anak dari kekacauan yang sedang dibuat untuk memulihkan diri, ayahnya malah menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun isyarat yang diberikan tidak begitu jelas, ini merupakan hal yang penting untuk mempelajari gejala-gejala tersebut.

Keown also discusses the finding of paternal intrusiveness and hyperactivity-impulsivity at school.  She argues that fathers that disrupt their son’s activities and limit the amount of control that sons have over play may also be limiting their opportunity to learn how to self-regulate their behaviors.  In other words, sons that are controlled by an outside force may not learn to control themselves from within.

Keown juga membahas hasil penelitian mengenai paternal intrusiveness dan perilaku hiperaktif kompulsif di sekolah. Dia sangat menganjurkan bahwa ayah yang mengganggu aktifitas anak mereka dan membatasi anak-anak mereka dalam bermain juga akan membatasi kesempatan anak mereka untuk belajar melakukan self-regulasi terhadap perilaku mereka. Dengan kata lain, anak-anak yang dikontrol oleh tekanan dari luar diri mereka tidak akan bisa belajar untuk mengontrol perilaku mereka sendiri.

Last month, I posted on mindful parenting.  The results of the current study can also be applied to this concept.  When dads can step away from their agenda and allow a child’s activity to unfold, supporting them as necessary, it sends the message that the child’s desires are important and that there is a safety net in place when they need it.  Also, nothing can replace the important father-child interaction in a given activity.  The kind where you work together in a rhythm that feels good to both parties. Not only can this be a rewarding way to spend time with your child, but it can also be an opportunity for learning more about your child’s cues and how to meet him where he is.

Bulan lalu, saya menerbitkan di mindful parenting. Hasil dari penelitian tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konsep ini. Saat ayah dapat mengesampingkan agenda mereka dan beraktifitas dengan anak, mendukung mereka sebagaimana seharusnya, ini memberikan pesan bahwa keinginan anak-anak adalah suatu yang penting dan ada tempat yang aman saat mereka membutuhkannya. Dan juga, tidak ada yang dapat menggantikan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam aktifitas beri memberi. Semacam bekerja sama dalam satu keselarasan sehingga merasa senang untuk kedua belah pihak. Tidak hanya dapat ini menjadi cara untuk menghargai anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, namun ini juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang isyarat anak ADHD dan bagaimana menemukan mereka dimana mereka berada.

This post is certainly not meant to criticize fathers.  On the contrary, I hope that fathers will recognize the importance of their relationship with their sons (and daughters!) and find the information to be useful.  Additionally, it is hoped that parenting partners and professionals can support fathers in their relationships with their kids in a way that reduces the chances of heightened ADHD symptoms in middle childhood and beyond.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi para ayah. Namun sebaliknya, saya berharap para akan mengenali pentingnya hubungan mereka dengan anak-anaknya dan mencari informasi yang bermanfaat. Apalagi, pengasuh dan ahli profesional diharapkan dapat mendukung para ayah dalam hubungan mereka dengan anak-anaknya sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk memuncaknya gejala ADHD di pertengahan masa kanak-kanak dan sebelumnya.

Thanks for reading!  -Anita

Source: Keown LJ (2011). Predictors of Boys’ ADHD Symptoms from Early to Middle Childhood: The Role of Father-Child and Mother-Child Interactions. Journal of abnormal child psychology PMID: 22038253

Pasted from <http://www.child-psych.org/2011/12/boys-with-adhd-and-their-dads.html>

Sajian Fadillah Andini tuk Hari Mama

22 Desember 2011 adalah hari yang penting untuk Fadillah Andini, gadis kecil usia 9 tahun yang sekarang duduk di kelas V SD. Malam kamis ia sudah pusing memikirkan hadiah apa yang akan diberikan kepada mama pada hari Ibu besok. Maka diskusi panel pun dimulai, dan akhirnya disepakati bahwa besok semua pekerjaan rumah akan ia laksanakan sebagai hadian untuk Mama.

Besok telah tiba …

Sekitar pukul 8, Adin, panggilan Fadillah Andini, berangkat bersama kakaknya ke Pasar Pagi Tabiang dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan ia berusaha menghafalkan semua belanja yang diperlukan untuk hidangan hari ini. Sesampai di pasarAdin singgah di toko langganan Adin tuk memesan Minyak Tanah, selanjutnya beranjak ke dalam pasar untuk berburu hafalan bahan makanan tadi.

Singgah berbelanja di satu toko, balik dengan sebuah kantong belanjaan di tangan. Sehingga setelah semua bahan terbeli telah adalah beberapa kantong di tangan Adin. Saat singgah mengambil Minyak Tanah di toko langganannya, segera ia bilang, ‘Bu boleh minta kantong plastik yang lebih besar!”, segera si ibu memberikan selembar kantong plastik yang lebih besar, “Kalo begini kan lebih mudah bawa belanjaannya”, wow …. adin leboh kreatif dari kakaknya.

Selanjutnya pulang dan parkir di dapur.

Tak..tak… tuk … tuk … cesss … cesss tangan Chef Adin mengolah bahan makanan bersama kakaknya. Dan terhidanglah makanan lezat …. hmmm

Semangkok Ayam Goreng Balado Ijau plus Tahu Goreng, 2 Mangkok Ayam Goreng Balado Ijau plus Tahu Goreng, Semangkok Ayam Goreng bumbu Penyek, Semangkok Latua Paku, dan dua potong Telur Dadar Balado.

Masing personalnya sebagai berikut;

Eh… tuk nasi goreng tuk adalah masakan Hari ini, berpenampilan bule karena lupa ambil cabe merah. Balik ke masakan Chef Adin pada Hari Mama, berikut adalah dessertx

Jelly Mango

dan

Risoles isi Ubi Kentang Wortel

dan

Hmmm … alhamdulillah, sajian hari Mama Chef Adin selesai. Selamat Menikmati Ma 🙂

Dari chef kita, Fadillah Andini & Kakaknya & Abangnya

Like this on Facebook

Suka yang Mana?

This slideshow requires JavaScript.

Pilih yang mana? Apakah dua-duanya bagus?

Yup … dua-duanya bagus bagiku karena aku yang kreasikan (hehe … ).

Ingat saat baru memiliki Laptop tahun 2009, setiap 3 bulan berikutnya dari bulan pembelian minimal Si Putih Hitam Byon pergi Install Ulang Program ke toko komputer.

Hingga akhirnya abang yang jaga laptop bilang, ‘Install sendiri aja gi’.

Maka berbekal anjuran dokter komputer itu, sedikit demi sedikit mulai belajar menjadi dokter Si ‘Byon’ dan kini bisa mempermak Si ‘Byon’ cayangku tuk punya penampilan seperti diatas. Alhamdulillah 🙂

Seperti kata Chef Gusteau ‘Ratatouille’ ‘Everyone can cook’, so tuk install ulang komputer/laptop ‘Everyone can do it’, yang penting keinginan tuk mau belajar dan tuk menjaga yang dimiliki.

Komputer adalah suatu sistem yang teratur dan statis, namun bisa bekerja dinamis. Ikuti aturan/langkah-langkahnya, InsyaAllah semua berjalan dengan baik dan saat berhasil melakukannya sendiri (hmmm … sungguh luar biasa).

Trus gimana cara installnya? Just udek-udek Om Google (mis; cara install laptop/ cara software mempercantik tampilan laptop/software meningkatkan kerja laptop), ia akan memberikanmu banyak jawaban dan bahkan memberikan banyak tambahan modifikasi lain yang semakin mempercantik tampilan komputer/laptop tersayang, n tentux bekerja dengan baik dan gesit. N tuk software silahkan download dulu, kalo koneksi internet GMB (gerakan menengah bawah) mari cari teman yang punya simpanan filex, salah satunya teman yang kuliah di bidang komputer 🙂 .

Selamat berkreasi 🙂

Sweet Potato Pasta

Bermula dari kepulan api di tungku tradisional dengan kayu bakar tersusun apik di atas perapian samping rumah (back to nature theme).

lalu menjadi …

Bakar Gurami original plus ‘Kantang Balado’.

Selanjutnya Ubi Jalar beraksi dalam Spagetti Bukittinggi alias Mie Kuniang.

hmm .. lamaknyo 🙂

Ada kepuasan tersendiri menikmati spagetti ‘KW1’ dengan pasta mashed of sweet potato, racikan bumbu indonesia dengan hasil ‘International KW1’.

Selamat menikmati (Hmmm … tentu setelah masak, selamat memasak juga 🙂 )

Bicara tentang sweet potato atau ketela rambat, tanaman yang simpang siur asal usulnya, namun sejumlah percaya ia berasal dari Amerika, merupakan tanaman murah meriah harganya dan banyak manfaatnya.

Yuk kita mulai dari kandungan yang ada didalamnya …

Ubi merupakan umbi-umbian yang mengandung senyawa antioksidan paling komplit. Ubi banyak mengandung vitamin A yang berfungsi untuk penglihatan, kulit dan tulang, juga untuk membantu mencegah infeksi saluran pencernaan, saluran kencing dan paru-paru.

Ubi juga merupakan sumber vitamin C dan E terbaik, serta Vitamin B6 (pirioksin) yang berperan penting dalam menyokong kekebalan tubuh. Vitamin B6 ini mampu mengendalikan jerawat musiman yang muncul menjelang menstruasi. Gizi dalam ubi juga mampu memerangi serangan jantung koroner, kerusakan hati dan stroke.

Ubi jalar yang berwarna ungu ternyata mengandung selanium dan iodin yang berkhasiat menjadi anti kanker. Ubi jalar ungu memiliki aktivitas antioksidan antibakteri 2,5 kali dan 3,2 kali lebih tinggi daripada beberapa varietas lainnya, selain itu baik juga untuk mendorong kelancaran peredaran darah.

Dari sebuah penelitian diketahui bahwa unsur kalium dalam ubi jalar dapat memangkas 40% resiko penderita hipertensi terkena stroke fatal.

Berbeda dengan ubi jalar ungu, ubi jalar merah ternyata sangat kaya akan pro vitamin A atau retinol. Bayangkan, di dalam 100 gr ubi jalar merah terkandung 2310 mcg (setara dengan satu tablet vitamin A). Bahkan dibandingkan bayam dan kangkung, kandungan vitamin A ubi jalar merah masih setingkat lebih tinggi. Keistimewaan ubi jalar merah terletak pada kandungan seratnya yang sangat tinggi. Bagus untuk mencegah kanker saluran pencernaan dan mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh.

Di Jepang, harga tepung ubi jalar dihargai empat kali lipat harga tepung terigu dan di Singapura harga tepung terigu yang terbuat dari ubi 25% lebih mahal dari harga tepung (dari gandum).

Selanjutnya adalah khasiat Sang Ubi …

Zat anti oksidan dalam ubi jalar dapat membantu mencegah penyakit jantung, kanker, pembentukan sistem imunitas dalam tubuh, serta memperlambat proses penuaan.

Kandungan vitamin A ubi jalar (yang besarnya 4 x lipat dari wortel) sangat baik untuk kesehatan mata (sumber: WHO)

Beta karoten dalam ubi jalar sangat berguna untuk pertumbuhan tulang, gigi, rambut dan kulit.

Kandungan gula yang rendah dalam ubi jalar, cocok bagi penderita diabetes. Karena sodiumnya rendah, maka ubi jalar cocok dikonsumsi untuk program diet.

Vitamin B kompleks, besi dan juga fosfor dalam ubi jalar  membuat ubi jalar sebagai penguat imun yang hebat.

Tambahan lagi, ubi jalar juga dapat mengurangi sakit :

Peradangan: Walaupun tidak termasuk dalam keluarga kentang-kentangan biasa, ubi jalar juga mengandung anti peradangan. Didukung dengan adanya beta karoten, vitamin C dan magnesium, maka ubi jalar sangat efektif dalam menyembuhkan peradangan baik internal maupun eksternal.

Asma: Ubi jalar juga efektif dalam mengatasi hidung mampat, bronchitis dan  paru-paru. Dengan begitu akan meredakan asma. Hal ini disebabkan oleh aroma khas yang dimiliki ubi jalar.

Bronchitis: Kandungan vitamin C, besi serta nutrisi lainnya membantu menyembuhkan bronchitis. Ubi jalar juga dipercaya bisa menghangatkan tubuh (mungkin karena rasa manis serta nutrisi lainnya). Kandungan ini juga berfungsi untuk menyembuhkan bronchitis.

Arthritis: Beta karoten, magnesium, seng dan vitamin B kompleks membuat ubi jalar sebagai pilihan yang tepat untuk mengatasi arthritis. Air rebusan ubi jalar bisa dioleskan pada persendian untuk meredakan sakit akibat arthritis.

Pencernaan: Selain rasanya yang enak, kandungan serat dalam ubi jalar juga lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kentang pada umumnya. Kalau kedua faktor ini disatukan dengan mineral-mineral lainnya seperti magnesium yang dikandung ubi jalar, maka makanan satu ini merupakan pilihan yang tepat untuk membantu pencernaan. Selain itu, ubi jalar juga mudah untuk dicerna serta baik untuk lambung dan usus halus.

Kanker: Kandungan beta karoten, antioksidan dan anti karsinogen utama, yang merupakan penyebab warna pada kulit ubi jalar serta vitamin C, sangat penting untuk menyembuhkan berbagai jenis kanker. Terutama kanker kolon, usus halus, prostat, ginjal dan kanker pada organ dalam lainnya.

Keseimbangan air: Serat dalam ubi jalar akan membantu menahan air. Hal ini akan mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh.

Radang lambung: Ubi jalar menimbulkan efek nyaman di lambung dan usus halus. Vitamin B kompleks dan vitamin C, beta karoten, kalium dan kalsium sangat efektif meredakan radang lambung. Selain itu, serat yang dikandung ubi jalar bisa mencegah terjadinya konstipasi dan penimbunan asam, karena itu akan menurunkan kemungkinan terjadinya radang lambung. Anti peradangan dan kandungan yang menenangkan dari ubi jalar juga bisa mengurangi rasa sakit dan peradangan lambung.

Diabetes: Pengidap diabetes seringkali dihimbau untuk menghindari makanan yang manis. Hal ini tidak berlaku pada ubi jalar. Makanan satu ini sangat efektif dalam meregulasi kadar gula darah dengan membantu sekresi dan fungsi insulin. Tetapi, tidak berarti kalau pengidap diabetes bisa makan ubi jalar tanpa aturan. Tetapi, mereka bisa mengganti asupan nasi atau karbohidrat mereka dengan ubi jalar.

Penambahan berat badan: Hal ini sangat mudah dipahami. Ubi jalar berasa manis serta mengandung karbohidrat kompleks disertai vitamin dan mineral yang mudah dicerna. Karena itu, ubi jalar merupakan sumber energi dan efektif untuk membangun otot-otot. Bagi Anda yang tidak percaya diri karena tulang-tulang menonjol ke permukaan kulit, cobalah mengkonsumsi makanan super ini. Cara ini tidak menghasilkan efek samping apapun sehingga lebih aman daripada mengkonsumsi suplemen pembangun otot.

Membantu menghentikan ketergantungan merokok: ubi jalar juga efektif menghentikan ketergantungan pada rokok, minuman serta narkotika tertentu. Selain itu, juga sangat baik bagi kesehatan pembuluh darah vena dan arteri. Konsentrasi beta karoten yang tinggi serta fosfor sangat baik bagi kesehatan mata dan kardiovaskular.

Membantu mengurangi sakit demam berdarah ; Selain sebagai makanan pengganti nasi atau tanaman hias, Ubi Jalar ternyata dapat berfungsi sebagai obat demam berdarah atau yang kita kenal sebagai DBD. Penyakit yang disebabkan oleh Nyamuk Aedes Aegypti ini  ternyata terjadi karena Virus dengue yang dibawa oleh Nyamuk Aedes Aegypti tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia Virus Dengue tersebut menyerang Monosit (salah satu tipe sel darah putih) yang berfungsi untuk membangun daya tahan tubuh. Akibat dari rusaknya monosit tersebut berdampak terhadap menurunnya jumlah Trombosit di dalam tubuh. Menurunnya jumlah Trombosit dapat mengakibatkan pendarahan yang beresiko kematian. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan penderita dari kematian adalah meningkatkan jumlah Trombosit yang ada di dalam tubuh penderita.

Menurut beberapa ahli penyakit dalam dan herbalis, kandungan Polifenol dalam daun Ubi Jalar dapat digunakan sebagai antioksidan untuk memperbaiki sistem imun atau kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh yang terdongkrak menyebabkan tubuh mampu untuk melawan virus yang menyerang tubuh. Rebusan daun Ubi Jalar ini biasanya berguna jika trombosit penderita belum berada di bawah 50.000. Berdasarkan hasil penelitian, setiap 100 gram daun Ubi Jalar segar kultivar suioh mengandung 117 mg kalsium, 1,8 mg besi, 3,5 mg karoten. Selain itu daun Ipomoea Batatas mengandung 7,2 mg vitamin C, 1,6 mg vitamin E, dan 0,5 mg vitamin K, vitamin B, betakaroten, serta protein. Selain itu, hasil penelitian juga membuktikan bahwa daun Ubi Jalar kaya akan kandungan 15 antosianin dan 6 jenis polifenol dan asam fenolik. Asam fenolik yang terkandung seperti dicaffeoilqynat, asam dicaffeoilquinat, mokodaffeoilquinat, dan kaffeat. Selain sebagai obat DBD kandungan antosianin dan polifenol dalam Ubi Jalar juga berfungsi sebagai antioksidan, antiperadangan, bahkan antikanker.

(berbagai sumber)

Pasted from <http://atikofianti.wordpress.com/2011/11/16/khasiat-ubi-jalar-sweet-potato/>

Subhanallah … tau begini, biarpun setelah makan bakal adu kentut, ubi bakar, ubi rebus, kolak ubi, spageti ‘KW1’ pasta ubi, kripik ubi … bakal tak lahap semuaaaaaa 🙂

Hmmm … kenyang dan sehat.

Rasulullah said ‘My family is My Paradise’

My family is not a perfect family

But my my family is a perfect family for me

Ya keluargaku adalah bukan keluarga yang sempurna

Kami berlima memiliki karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya

 

Secara keseluruhan kami memiliki sifat temperamental alias mudah marah

Yup…sesuai dengan teori Minang “Aia titiran jatuahnyo kapalimbahan”

Yang artinya sifat-sifat dari orang tua akan diwariskan kepada anak-anaknya

 

Ayahku seorang berkulit sawo matang dengan perawakan sedang ala orang timur

Mata sipit, hidung mancung, muka tirus dan berotot sedang .. (haha … ayah bilang itu hasil ia sibagai tukangnya  si itam ‘kereta api’)

Ia seorang yang sensitif, mudah marah, mudah sedih, bahkan kata mama mudah menangis (ya.. Itu kata mama), mudah iba pada orang lain, mudah panik, dan penyayang pada anak-anaknya (kalo ada rezeki, ia akan memilih membelanjakan untuk anak dan orang lain dibandingkan dirinya sendiri), sangat peduli pendidikan, sehingga tamatan STM ini mempersilahkan mama melanjutkan pendidikan SPG hingga menyelesaikan S1 PGSD-nya dan beliau & mama juga punya mimpi nanti bisa membangun sekolah di Payakumbuh (yang bagiku adalah impian tuk hidupku juga).

 

Ibuku, seorang pahlawan tanpa tanda jasa, di sekolah dan terutama sekali di rumah kami. Ia seorang yang penyayang (hhmm … itulah seorang ibu), ia juga mudah panik, sekarang sering tampak seperti perilaku anak didiknya, lebih memilih diam jika ia merasa kehendaknya tidak terpenuhi, mementingkan pendidikan anak-anak, kadang sering (haha … mana yang benar ya?! Kadang atau sering) tidak konsisten dengan yang pernah disampaikannya terkecuali tentang pendidikan, selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan kami untuk pendidikan sebisa mungkin (ya … seperti pns lain lah, kredit aj), walau ia suka bilang uang dari mana kalau kita ingin sesuatu yang manfaat kurang nyata baginya, namun kalau bilang tuk belajar, kuliah atau untuk tambah keterampilan, ia akan bilang ‘Ikut lah, uang atau keperluannya, ada lah’, dan benar, ia bank yang terduga-duga kejutannya.

 

Adik laki-lakiku, benar-benar palimbahan dari ayahku, seorang bocah laki-laki yang menurut teman-temanku punya penampilan yang boleh lah, karena postur badannya. Bocah laki-laki berkulit sawo matang dengan mata sipit ala Jepang plus rambut kriwil. Ia juga temperamental, mudah marah saat ada benturan (ya … sekarang dah mulai bisa terkontrol), perhatian (pada keluarga, absolutely yes), pencemas apalagi kalo salah satu member tidak jelas kemana alamatnya atau bersemayam di tempat lain lebih dari 2×24 jam, pandai menghargai orang lain, sayang dengan anak-anak, suka musik, n kalo dah di rumah kadang bisa sama dengan gadis pingitan (hehe …. )

 

Adik perempuanku, waktu kecil sangat mirip anak Cina, kuning langsat, mata sipit, hidung pesek, dan muka bulat, banyak yang bilang lebih mirip adik laki-lakiku. Sejak kecil ia sering berpergian bersamaku, karena mama lebih ingin tanpa pengasuh, dan sekarang ia menjadi lebih mirip denganku, bahkan sifat-sifat ‘imitating of me’. Namun ia tetap dengan dirinya yang suka merengek dan mencari perhatian layak anak bungsu pada umumnya, serta mudah marah (plus lempar melempar barang dan mengucap mantera sakti yang ia pelajari dari pergaulannya … huff). Karena masuk sekolah lebih cepat dari standar, ia sering menjadikan ini sebagai alasan untuk tingkahnya yang manja. Begitu juga ia tetap dirinya yang mudah minta maaf, suka makan, dan luar biasa sekarang ia lebih akur dengan mantan adik bungsuku, bercanda lebih lama, baru kemudian bertengkar di ujungnya, sekarang mulai saling berdiskusi saat main game, de el el.

 

Aku, aku titisan ayahku kata orang-orang di kampung karena wajahku yang begitu mirip dengan beliau plus kulit sawo matang. Kata mama sifatku kombinasi ayah dan mama, kalau marah ku bisa sengeri  ayah, namun punya peduli dengan orang lain seperti ayah juga, parahnya aku masih harus belajar untuk menggunakan kata ‘tidak’. Bagian dari mama, aku senang berorganisasi dan bermasyarakat seperti mama, n juga suka mengutak atik pekerjaan yang berbau kerumah-rumahan bahkan termasuk masalah pertukangan. Walau umum semenjak kecil aku lebih dikenal sebagai riak air yang tenang (suit..suuuitt…hidung ku kembang kembang kempissssssss, hehe …).

 

Yang membuat keluargaku yang bukan sempurna menjadi ‘my paradise’ adalah saat satu tekanan amarah ada di puncak gunung akan ada yang membawa angin segar dari lembah sehingga suhu panas itu segera sejuk, dan setiap person telah pernah melakukannya.

 

Maka sempurnalah my paradise … Alhamdulillah, Maha Besar Sang Pencipta yang Sempurna Penciptaannya 🙂

Yang menjadikan kami bersama untuk saling membangunkan untuk mendirikan shalat, bisa mendengarkan tilawah Qur’an di waktu shubuh dan petang, bergantian menhidupkan TV tuk mendengar ceramah agama di pagi hari dan saling menasehati untuk yang lebih baik, dan bisa duduk tuk nonton bersama, de el el.

Waktu

Waktu tidak memberimu ‘adalah’

Ia memberimu

‘Telah’ ..

‘Sedang’ ..

Dan ‘akan’ ..

Waktu juga tidak memberimu’ always’

Juga jarang memberimu ‘usually’

Karena setiap kesempatan hanya datang sekali

Karena setiap detik selalu berbeda

Maka …

Majulah di setiap hela napas dengan sesuatu yang lebih baik

MACAM RUMAH GADANG

Berdasarkan jumlah lanjar

  1. Lipek Pandan,

Rumah gadang ini berlanjar dua. Atapnya bergonjong dua.

  1. Balah Bubuang,

Rumah gadang ini berlanjar tiga. Atapnya bergonjong empat.

  1. Gajah Maharam,

Rumah gadang ini berlanjar empat. Atapnya bergonjong enam atau lebih.

Berdasarkan Sistem Keselarasan

  1. Rumah Gadang Sitinjau Lauik,

Rumah gadang Sitinjau Lauik adalah rumah gadang Koto Piliang. Pada kedua ujung rumah terdapat anjungan, yaitu ruangan kecil yang lantainya lebih tinggi dari lantai dasar. Karena mempunyai anjungan inilah, maka rumah gadang Koto Piliang disebut juga “Rumah Baanjuang”.

  1. Rumah Gadang,

Rumah gadang adalah rumah gadang dari aliran Bodi Caniago. Rumah gadang ini tidak memiliki anjungan atau surambi.

Berdasarkan wilayahnya

  1. Gajah Maharram,

Rumah gadang gajah maharram adalah rumah gadang dari Luhak Tanah Datar. Modelnya rumah baanjuang, karena wilayah ini menganut kelarasan Koto Piliang.

  1. Surambi Papek,

Rumah gadang di Luhak Agam. Rumah ini bentuknya seperti dipepat (papek). Tangganya terletak pada bagian depan sebelah kiri antara dapur dan rumah. Dapur terpisah oleh jalan untuk keluar masuk rumah melalui tangga. (Hmmm…yang ini mirip struktur rumah jepang dimana posisi ruang utama berada dekat dapur. Dan rasanya rumah Korea juga memakai struktur ini dengan bentuk rumah melingkar. Aku senang dengan tipe ini, jadi mamak bisa tau, apakah dapur rumah anak kemenakannya berasap atau tidak.)

  1. Rajo Babandiang,

Rumah Gadang di Luhak 50 Kota. Bentuknya sama dengan rumah gadang Luhak Tanah Datar, tetapi tidak memiliki anjungan. Tangganya terletak pada bagian belakang rumah antara dapur dan rumah.

Daftar Pustaka ; Budaya Alam Minangkabau, Minangkabau Ranah Nan Den Cinto, Bukittinggi: Usaha Ikhlas.

Like this on Facebook

Add this anywhere

Rumah Gadang

(Pic…download dr situs … makasih y)

Sesuai dengan falsafah “Alam Takambang jadi Guru” yang dianut oleh orang Minangkabau, maka bentuk Rumah Gadang juga disesuaikan dengan alam. Di dalamnya terkandung falsafah alam. Bentuknya seperti badan kapal, atapnya seperti tanduk kerbau. Kalau kita perhatikan bentuk rumah gadang itu, semuanya disesuaikan dengan alam. Atapnya yang lancip berfungsi membebaskan atap dari genangan air. Bentuk badan rumah yang mengembang ke atas membebaskan rumah dari ‘tampiyeh’. Kolong yang tinggi menjadikan udaranya sejuk. Rumah dibangun sejajar dengan arah mata angin.

TATA KRAMA RUMAH GADANG

Setiap perempuan yang sudah bersuami mendapatkan satu kamar. Perempuan yang termuda menempati kamar paling ujung. Ia akan pindah ke sebelah, kalau adiknya menikah pula. Perempuan tua dapat ruang di dekat dapur. Anak-anak gadis memperoleh kamar secara bersama pada bagian ujung yang lain. (Ini masih dilakukan dalam keluarga mama di Balai Betung, Payakumbuh Utara)

Anak laki-laki tidak memperoleh kamar di rumah Gadang, Anak laki-laki dan laki-laki duda tidur di surau milik kaumnya. Anak laki-laki tidu di rumah Gadang sejak umur 0-10 tahun. Umur 0-5 tahun ia tidur bersama ibunya. Umur 5-10 tahun ia akan tidur bersama neneknya dengan saudara sepupunya yang lain. (Yang ini, benar, Oom-oom ku tidur dekat dapur)

Untuk naik ke rumah gadang bagi tamu laki-laki mendehem atau batuk-batuk kecil, sedangkan bagi tamu perempuan berteriak memanggil nama tuan rumah. Sampai di tangga rumah Gadang di situ tersedia air untuk cuci kaki.

To be continue …

Daftar Pustaka ; Budaya Alam Minangkabau, Minangkabau Ranah Nan Den Cinto, Bukittinggi: Usaha Ikhlas.

Like this on Facebook

Add this anywhere