Uni Roehana

Repost from Jejak Islam untuk Bangsa 02 Des 2015


JALAN JIHAD UNI ROEHANNA

Oleh : Tristia Riskawati

Alumni Fakultas Komuniskasi Universitas Padjadjaran

 “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan memiliki ilmu pengetahuan”

– Rohana Koeddoes ; Jurnalis muslimah pertama di tanah air.
Perempuan melakoni pekerjaan sebagai jurnalis sudah bukan hal yang tabu. Namun secara persentase jumlah jurnalis perempuan masih sedikit ketimbang jurnalis pria. Dari semua jumlah jurnalis yang ada di Indonesia, hanya tercatat 17 persen saja jurnalis perempuannya. Di Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara “liberal” saja, hanya 36 persen dari keseluruhan pekerja media yang berjenis kelamin perempuan.

Kuantitas pekerja media berjenis kelamin perempuan bukanlah sesuatu yang esensial. Perlu diperhatikan pula, apakah perempuan yang membanjiri ladang pekerjaan kewartawanan kian bermanfaat bagi masyarakat?

Dengan jumlah sedikit pun, sejarah mencatat beberapa jurnalis perempuan yang membawa perubahan bagi masyarakat. Sebut saja Veronica Guerin. Guerin merupakan jurnalis Irlandia yang memiliki kepedulian untuk meliput skandal narkotika di Irlandia pada tahun 1900-an. Tragisnya, nyawa Guerin akhirnya raib akibat ditembak oleh mafia narkotika Irlandia yang tak suka dengan ulahnya. Namun, semenjak peristiwa tersebut, pemerintah dan masyarakat Irlandia pun mulai secara serius memberantas kasus narkotika.[1]
Beralih ke wilayah Timur Tengah, dunia mencatat nama Tawakkol Karman. Muslimah asal Yaman ini ditetapkan Komite Nobel meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2011.

Tawakkol mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan. Ia juga berjuang memberantas buta huruf di kalangan perempuan.

Tawakkol juga merupakan jurnalis yang kritis. Ibu dari tiga orang anak itu pada 2005 mendirikan Perhimpunan Wanita Jurnalis Tanpa Belenggu.[2] Ditanya mengenai apakah jilbab yang dikenakannya mengekang aktivitas jurnalistiknya, Tawakkol tak setuju bukan main. Baginya, praktik mengenakan jilbab dalam Islam merupakan perlambang peradaban yang tinggi, “Manusia di masa lalu hampir telanjang. Kemudian, kecerdasan manusia berkembang manusia mulai mengenakan pakaian. Apa yang saya hari ini dan apa yang saya kenakan merupakan tingkat tertinggi pemikiran dan peradaban yang manusia telah capai,bukan sebuah pengekangan. Jika manusia sekarang perlahan mengurangi bahan pakaian pada tubuhnya, ia kembali ke zaman purba dahulu!”[3]

Indonesia pun memiliki jurnalis perempuan penabuh genderang perubahan bagi masyarakat. Ia hidup di era dan lingkungan di mana perempuan tak terbiasa mengecap pendidikan baik formal maupun informal.

Keresahan serta asanya terhadap nasib perempuan yang dimarjinalkan acapkali ia abadikan dalam pelbagai tulisan. Dialah Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes lahir di Kotogadang, Minangkabau, 20 Desember 1884. Muslimah dengan nama asli Siti Roehana adalah putri pertama dari perkawinan Moehamad Rasjad Maharadja Soetan dengan Kiam.

Ia adalah saudara sebapak dengan Sutan Sjahrir. Beruntunglah ia. Sejak kecil, Roehana mendapatkan perhatian dan dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan layak. Ayahnya memiliki beragam buku, majalah, dan surat kabar. Roehana pun, dengan restu sang ayah, melahap bacaan-bacaan ayahnya tersebut.[4] 

Tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak membedabedakan pendidikan untuk anak lelaki dan perempuan membuat Roehana tumbuh sebagai pribadi terpelajar.

Kendati demikian, karena kaum perempuan di tanah kelahirannya tak akrab dengan pendidikan[5], Roehana pun dianggap aneh dengan segala pengetahuan yang ia miliki. Sejak kecil ia memang pandai, dan rajin mebaca surat kabar secara lantang dengan bahasa arab dan melayu. Ia pun akhirnya menjadi guru mengaji cilik bagi teman-teman sebaya, bahkan bagi para remaja. [6]

Namun, berkat kegigihan Roehana dalam mengubah keadaan perempuan Minangkabau—situasi pun

perlahan terbalik. Dengan meyakinkan masyarakat setempat melalui proses yang berliku, didirikanlah

Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang mengajarkan keterampilan tangan serta pendidikan dasar seperti menulis, membaca, berhitung, agama dan akhlak[7].

Amai setia juga mengajarkan bahasa arab dan latin bagi kaum wanita.[8]

Di KAS ia dipercaya oleh lebih dari 60 perempuan dalam musyawarah, yang mendaulat dirinya menjadi pemimpin KAS. Ia kembali menjadi pengajar untuk sekolah di perkumpulan tersebut. KAS menjadi perkumpulan yang amat berkembang sehingga menjadi unit usaha perempuan pertama di minangkabau. Termasuk di dalamnya usaha simpan pinjam. Bahkan tahun 1916 ia pun pernah mendirikan Rohanna School di Bukittinggi.[9]

Kiprah Roehana memang diawali dari dunia pendidikan. Namun ternyata ia tak terhenti hingga di situ. Roehana gemar menulis. Berbagai buah pemikirannya serta saripati dari hasil bacaannya sering ia tuliskan. Jenis tulisannya beragam, mulai dari artikel, surat, serta puisi yang berisi keinginan untuk memajukan kaum perempuan. Roehana ingin agar buah pemikirannya dapat menjangkau luas tak terbatas pada muridnya saja.

Akhirnya, tercetuslah ide dalam benak Roehana untuk merintis surat kabar.

Upaya yang ia lakukan selanjutnya ialah menghubungi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Oetoesan Melajoe, Datuk Soetan Maharadja. Datuk Soetan Maharadja dikenal sebagai salah satu tokoh pers di minangkabau.

Sebelumnya ia pernah mendirikan Pelita Ketjil, sebagai surat kabar pertama berbahasa melayu dan didirikan oleh orang melayu minangkabau. Sumatera Barat, khususnya padang, menjadi salah satu kota pelopor serta penggerak dunia pers di Indonesia. Berbagai media massa dapat ditemukan dengan beragam latar, mulai dari agama (Al Moenir, Al Itqan, Al bayan) adat (Berito Minangkabau, Berito adat, Oetoesan Minangkabau), sastra (Surya) bahkan untuk anak-anak (Pelipoer Hati).

[10]

Melalui surat kepada Datuk Soetan Maharadja, Rohanna Koeddoes mengungkapkan nasib perempuan di Kotogadang. Ia menyampaikan, tujuannya menulis adalah semata-mata agar perempuan bisa mendapat pendidikan yang layak. Suratnya yang panjang dan menyentuh itu akhirnya menggugah Soetan untuk menawarkan bantuan.

Soetan pun akhirnya meminta anaknya Zubaedah Ratna Juwita bersama Roehana merintis dan mengelola surat kabar yang khusus mewartakan tentang perempuan. Pada 10 Juli 1912, terbitlah surat kabar yang Roehana idam-idamkan selama ini dengan nama Soenting Melajoe. Soenting Melajoe sendiri bermakna “Perempuan Melayu”.[11]
Pada 10 Juli 1912, terbitlah surat kabar yang Roehana idam-idamkan selama ini dengan nama Soenting Melajoe. Soenting Melajoe sendiri bermakna “Perempuan Melayu”
Ragam tulisan di Soenting Melajoe adalah artikel, syair yang berisikan imbauan kepada perempuan di mana saja berada. Terdapat pula sejarah, biografi dan berita dari luar negeri yang disadur Roehana dari mediamedia berbahasa Belanda. Selama menulis di Soenting Melajoe, Roehana tetap tinggal di Kotogadang dan mengirimkan dua artikel per minggu kepada Ratna Juwita di Padang.

Ada dua tujuan yang hendak dicapai oleh Roehana dalam keterlibatannya di bidang jurnalistik. Pertama, Roehana memiliki keinginan yang kuat untuk mengomunikasikan kepada khalayak tentang pembebasan perempuan dari keterbelakangan, terutama akses terhadap pendidikan. Di sini Roehana

ingin mengubah image masyarakat tentang perempuan, dimana perempuan itu tidak sebagai kaum yang terjajah tetapi harus dimerdekakan. Kedua, terlihat adanya “proyek” besar dari Roehana untuk mengeluarkan perempuan dari keterbelakangan ilmu pengetahuan, keterpinggiran yang dikontruksi oleh budaya, dan keterjajahan perempuan dari berbagai ketidakadilan, termasuk dalam bidang pendidikan.[12]

Ragam tema tulisan Roehana ihwal perempuan beragam. Umumnya, tulisan Roehana lebih banyak

menyoroti kehidupan perempuan dari lapisan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Ia merasakan bagaimana penderitaan perempuan dari kalangan menengah ke bawah karena ia sendiri merasakan hidupnya yang penuh perjuangan.

Roehana juga menyinggung sistem matriarchaat di Minangkabau, di mana warisan pusaka dan keluarga jatuh pada garis keturunan anak perempuan. Melalui pembahasan sistem ini, tampak pula pembelaan Roehana terhadap kaum lelaki. Dengan adanya matriarchaat, seorang nenek lebih banyak memberikan kasih sayang pada cucu dari anak perempuannya.

Sedangkan kasih sayang untuk cucu dari anak lelaki sangat kurang. Bagi Roehana, cucu dari anak jenis kelamin apapun patut mendapat kasih sayang yang layak.

Nasib perempuan-perempuan Jawa pun ia bahas.

Ia menyimpan keprihatinan terhadap perempuanperempuan yang mau dijadikan istri simpanan secara tidak sah oleh petinggi Belanda. Bahkan, ada pula yang ditelantarkan setelah lahir anak dari hubungan mereka. 

Ada pula yang anaknya diambil dan dikirim di Belanda, dan ibunya tak pernah diberi kabar nasib anaknya hingga akhir hayat.

Bahkan Soenting Melajoe yang digawangi Rohanna pernah memuat berita penindasan terhadap perempuan di perkebunan karet di Deli Serdang. Soenting Melayoe mengkritik keras pemerintah colonial yang membiarkan perempuan bekerja berat dengan upah yang sangat rendah. Situasi ini menyebabkan maraknya pelacuran di Deli Serdang. Berita ini dimuat oleh Soenting Melayoe, No. 22, 14 Juni 1915.[13]

Roehana tumbuh dan berkembang dengan adat istiadat serta pengajaran Islam. Biasanya anak perempuan hanya belajar agama tentang shalat dan menghafal Al Quran, namun mereka tidak bisa baca tulis huruf arab.

Roehana tidak mau hanya sekadar menghafal saja. Ia ingin belajar baca tulis Al Quran, dan tahu pula tafsirnya. [14] Ketika telah mempelajarinya, kemudian ia mengajari nilai-nilai Al Quran pada muridnya. Ia menekankan bahwa agama adalah tiang dari segala ilmu.[15]

Memang, nilai-nilai keislaman pada saat itu terkontaminasi ajaran adat istiadat Minangkabau yang

bertentangan dengan Islam. Hal ini dapat dilacak dari distorsi ajaran Islam oleh Kerajaan Pagaruyung di Batusangkar, Tanah Datar. Batusangkar merupakan asal keberadaaan nenek moyang masyarakat Minangkabau.

Setelah nilai-nilai Islam diterapkan secara baik oleh Kerajaan Pagaruyung, kerajaan tersebut diperintah oleh raja yang menafsirkan kaidah Islam seenaknya.

Sang raja tak segan-segan untuk berpoligami sebanyakbanyaknya, berjudi, sabung ayam, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.[16]

Kembali pada kisah Roehana, semangat memajukan nasib kaum perempuan pun berkobar tak hanya di kalangan perempuan saja. Pria pun turut menyatakan dukungannya kepada Roehana. Pada awalnya, penulis Soenting Melajoe adalah perempuan. Namun, pada perkembangannya laki-laki pun turut menyumbangkan tulisan untuk menyokong kemajuan perempuan.[17]

Rupanya, upaya perjuangan Roehana untuk memajukan kaum perempuan memunculkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Beberapa ketakutan karena Roehana dianggap akan menyuruh istri untuk tak patuh pada suami, tidak mau ke dapur, dan tidak memiliki anak.

Merupakan sesuatu yang tak layak jika perempuan terlibat aktif dalam pergerakan-pergerakan politik.[18]

Roehana menepis anggapan tersebut. Istri dari Abdoel Koeddoes ini dengan tegas berpendapat, berputarnya zaman tidak akan pernah mengubah perempuan untuk menyamai laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Hal yang harus berubah adalah pendidikan dan perlakuan yang layak bagi perempuan.[19] Berikut pernyataannya:

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah

perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan

harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan memiliki ilmu pengetahuan”[20]

‘Emansipasi’ yang Roehana maksudkan tidaklah menuntut persamaan hak antara kaum perempuan dengan laki-laki. Namun, ia ingin mengukuhkan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodrati. Roehana berpandangan, untuk dapat menjadi perempuan sejati tentulah membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Maka, ia pikir sangatlah diperlukan pendidikan untuk perempuan.[21]

Soenting Melajoe bahkan seringkali bersiteru dengan surat kabar perempuan lain, yaitu Soeara Perempoean (1917 – 1919). Soeara Perempoean yang berhaluan liberal, dengan tidak mengikat dirinya pada adat, menyuarakan kebebasan perempuan yang setara dengan perempuan Eropa. Salah satu polemiknya adalah memuat kritik terhadap perempuan yang kebablasan dalam kebebasan, yang dimuat dalam Soenting Melajoe (Jumat, 23 April 1920),

“Sebaliknja kalau ditilik poela kepada kemadjoean bangsakoe perempoean di Alam minangkabau ini, adoehai hantjoer loeloeh hatikoe, karena meingat kemadjoean mereka itoe tidaklah tambah mengharoemkan namanja Alam Minangkabau ini, hanjalah seolah-olah sebagai menanam ratjoen boeat menghinakan perempoean2 Melajoe di Alam Minangkabau ini di mata bangsa lain., kemadjoean mereka itoe soedahlah melebihi watasnja lagi memakaikan sebagaimana hak perempoean.” [22]

Roehana pun dikenal sebagai pribadi yang seimbang dalam menjalankan tugas-tugas dan tugas rumah, serta antara waktu bekerja dan beristirahat. Barangkali inilah yang membuat suaminya segenap hati mendukung Roehana, di samping karakter Abdul yang pada dasarnya berwawasan luas.

Semenjak Soenting Melajoe, Roehana tiada pernah berhenti berkiprah di dunia jurnalistik. Ia senantiasa berjuang melalui dunia ini. Misalnya ketika dia hijrah ke Medan, Roehana menjadi redaksi pada surat Kabar Perempuan Bergerak yang diterbitkan di Medan. Pada tahun 1924 Rohana kembali pulang ke kampung halaman. Meski demikian, eksistensinya sebagai “orang pers” mendapat sambutan yang luas. Roehana pun dibidik oleh surat kabar Radio yang diterbitkan oleh Cina Melayu Padang untuk menjadi redakturnya.

Selain itu, buah pikiran Rohana tersebar hingga lintas pulau melalui tulisan. Tidak hanya pada media massa terbitan lokal, tapi sudah merambah ke media yang terbit di pulau Jawa. Berkat dedikasinya di dunia pers, Roehana dinobatkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya. Pemerintah Sumatera Barat menobatkan Rohana sebagai wartawati pertama di Minangkabau, dengan diberikannya penghargaan kepada Roehana Koeddoes pada tanggal 17 Agustus 1974. Penghargaan ini diterima setelah dua tahun Roehana meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972.[23]

Selain itu, buah pikiran Rohana tersebar hingga lintas pulau melalui tulisan.

Tidak hanya pada media massa terbitan lokal, tapi sudah merambah ke media yang terbit di pulau Jawa. Berkat dedikasinya di dunia pers, Roehana dinobatkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya

Jurnalisme Berpihak

Sudah lebih dari setengah abad kemerdekaan Indonesia berumur. Keleluasaan perempuan dalam berkiprah telah jauh lebih baik dibandingkan dengan pada masa Uni Rohana. Secara umum tiada halangan berarti bagi perempuan untuk bekerja sebagai jurnalis.

Namun industri media yang kini cenderung berpihak ada kepentingan politik dan kapitalis membuat kiprah jurnalis—baik lelaki maupun perempuan—kian memudarkan mata hati masyarakat untuk tertuntun cahaya fitrah Islam.

Jurnalisme yang dilakoni Roehana adalah jurnalisme yang memihak. Secara teoritis, jurnalis dituntut untuk bersikap netral. Namun pada kenyataannya, media tentu memiliki kepentingan masing-masing baik secara terselubung ataupun secara jelas dinyatakan. Seperti itulah yang dijalankan oleh Rohanna Koeddoes yang memilih untuk memihak pada nasib perempuan, namun berada dalam naungan agama.

Roehana Koeddoes, di satu sisi tak pernah bercita-cita menjadi jurnalis. Tujuan utamanya semata-mata adalah sebuah jihad dalam menyampaikan ilmu yang ia miliki.

Menjadi jurnalis adalah media untuk menyampaikan ilmu. Berbeda dengan kecenderungan masyarakat sekarang yang lebih mengejar titel, tanpa menetapkan dengan pasti tujuan hidup mereka.

Roehana mengajarkan kita untuk menetapkan tujuan mulia di segala mula tindakan kita. Tak hanya itu, dara Minangkabau ini sangat percaya akan kekuatan mimpinya. Jika percaya serta konsisten dalam mewujudkan mimpi mulia kita, maka Allah akan mencarikan jalan agar kita menggapainya.

Tantangan antara zaman Roehana dan zaman kita tentu berbeda. Dulu, perempuan begitu dikekang atas nama tradisi. Roehana memperbaiki keadaan tersebut dengan kembali menegaskan posisi perempuan yang sesungguhnya dalam Islam. Kini, perempuan begitu liar tak terkendali atas nama modernitas. Menjadi sebuah tantangan bagi pejuang Islam kini, termasuk jurnalis, untuk kembali menegaskan jati diri perempuan sesuai dengan nur Islam.
Sumber:

[1] http://biography.yourdictionary.com/veronica-guerin

[2] http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1796326/Tawakkul-Karman

[3] http://dailymuslims.com/2012/04/28/hijab-is-a-symbol-of-the-highest-level-of-civilization-says-nobleprize-

winner/

[4] Fitriyanti, Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat, Yayasan Jurnal Perempuan : Jakarta, 2001,

hlm. 17-19

[5] Fitriyanti, Ibid, hlm. 11

[6] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil

Djambek. Hlm 5

[7] Fitriyanti Ibid, hlm. 57-58

[8] Sunarti, Sastri. Kelisanan dan Keberakasaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-

1940an), Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta, 2013.

[9] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan

Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil Djambek. Hlm 6-7

[10] Sunarti, Sastri.

[11] Fitriyanti, Ibid, hlm. 69-71

[12] Hanani, Silfia. 2012. “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”. Bukittinggi: STAIN Syech M. Djamil Djambek.

Hlm 9

[13] Sunarti, Sastri. Hal 184.

[14] Fitriyanti, Ibid, hlm. 24

[15] Fitriyanti, Ibid, hlm. 35

[16] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[17] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[18] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[19] Fitriyanti, Ibid, hlm. 6

[20] Sunarti, Linda. 2013. Islamic Women’s Movement in Indonesia in The Beginning of The 20th Century.

Universitas Indonesia. Hlm. 393-394

[21] Sunarti, Linda. 2013. Ibid, hlm 394

[22] Sunarti, Sastri.

[23] Hanani, Silfia. ibid

Advertisements

Irfan Makki n Maher Zain in ‘I Believe’

Like this….thanks to My Friend ‘Pembuat Awan’

I Believe (LYRICS)

 

When you’re searching for the light

And you see no hope in sight

Be sure and have no doubt

He’s always close to you

 

He’s the one who knows you best

He knows what’s in your heart

You’ll find your peace at last

If you just have faith in Him

 

You’re always in my heart and mind

Your name is mentioned every day

I’ll follow you no matter what

My biggest wish is to see you one day

 

Chorus:

I believe

I believe

Do you believe, oh do you believe?

 

Coz I believe

In a man who used to be

So full of love and harmony

He fought for peace and liberty

And never would he hurt anything

He was a mercy for mankind

A teacher till the end of time

No creature could be compared to him

So full of light and blessings

 

You’re always in my heart and mind

Your name is mentioned every day

I’ll follow you no matter what

If God wills we’ll meet one day

 

Chorus

 

If you lose your way

Believe in a better day

Trials will come

But surely they will fade away

If you just believe

What is plain to see

Just open your heart

And let His love flow through

 

I believe I believe, I believe I believe

And now I feel my heart is at peace

 

Chorus

 

I believe I believe, I believe I believe

 

 

Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki

Melody: Irfan Makki & Maher Zain

Arrangement: Maher Zain

Video Directed by: Lena Khan

 

Pasted from <http://www.youtube.com/watch?v=pRztmbnyV70>

 

Amira ‘The Three Cup of Tea’

The books that changed the way people think about changing the world: Peace Through Education

Three Cups of Tea #1 New York Times Bestseller
Three Cups of Tea
One Man’s Mission to Promote Peace . . . One School at a Time

By Greg Mortenson and David Oliver Relin
VIKING Hardcover 2006 ISBN 0-670-03482-7
PENGUIN Paperback 2007 ISBN 978-0-14-303825-2
TANTOR Audio 2007 ISBN 1-4001-0251-0
TANTOR MP3 Digital 2007 ISBN 1-4001-5251-8
WHEELER Large Print 2008 ISBN 978-1-59722-624-0
#1 New York Times Bestseller
Young Adult VersionThree Cups of Tea
One Man’s Journey to Change the World, One Child At A Time

By Greg Mortenson & David Oliver Relin
Adapted By Sarah Thomson and Foreward By Dr. Jane Goodall
Includes an interview with Amira Mortenson, Daughter of Greg Mortenson.
PUFFIN Hardcover 2009 ISBN 0-142-41412-3
PUFFIN Paperback 2009 ISBN 978-0-14-241412-5
PUFFIN Audio 2009 ISBN 978-0143144465
Young Adult Three Cups of Tea
Listen to the Wind #1 New York Times Bestseller
Children’s Version Listen to the Wind
The Story of Dr. Greg and Three Cups of Tea

By Greg Mortenson & Susan L. Roth
DIAL Hardcover 2009 ISBN 978-0-8037-3058-8
New York Times Bestseller
Stones into Schools
Promoting Peace Through Education in Afghanistan and Pakistan

By Greg Mortenson
VIKING Hardcover 2009 ISBN 978-0-670-02115-4
PENGUIN Paperback 2010 ISBN 978-0-14-311823-7
PENGUIN Audio 2009 ISBN 0-143-14496-0
www.stonesintoschools.com
Stones into Schools

Three Cups of Tea is one of the most remarkable adventure stories of our time. Greg Mortenson’s dangerous and difficult quest to build schools in the wildest parts of Pakistan and Afghanistan is not only a thrilling read, it’s proof that one ordinary person, with the right combination of character and determination, really can change the world.” –Tom Brokaw

Three Cups of Tea adalah salah satu cerita petualangan yang luar biasa. Kesulitan dan Bahaya  Greg Mortenson’s untuk mendirikan sekolah-sekolah di bagian liar Pakistan dan Afghanistan tidak hanya sekedar bacaan yang mendebarkan, ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pria biasa, dengan it’s proof that one ordinary person, yang berkarakter dan memiliki kebulatan tekad, benar2 dapat merubah dunia.” –Tom Brokaw

“Greg Mortenson represents the best of America. He’s my hero. And after you read Three Cups of Tea , he’ll be your hero, too.” –U.S. Representative Mary Bono (R-Calif.)

“Greg Mortenson adalah gambaran terbaik dari Amerika. Ia adalah pahlawan saya. Dan setelah anda membaca Three Cups of Tea , ia akan menjadi pahlawan anda juga.” –U.S. Representative Mary Bono (R-Calif.)

Three Cups of Tea is beautifully written. It is also a critically important book at this time in history. The governments of Pakistan and Afghanistan are both failing their students on a massive scale. The work Mortenson is doing, providing the poorest students with a balanced education, is making them much more difficult for the extremist madrassas to recruit.” –Ahmed Rashid, best-selling author of Taliban: Militant Islam and Oil in Central Asia and Descent Into Chaos.

Three Cups of Tea adalah sebuah tulisan yang indah. ini juga merupakan buku penting yang kritis sepanjang sejarah. Pemerintah Pakistan dan Afghanistan merusak begitu banyak siswa mereka. Pekerjaan yang dilakukan Mortenson, menyediakan siswa miskin suatu pendidikan yang selayaknya, is making them much more difficult for the extremist madrassas to recruit (maap..masih perlu memahami tuk kalimat ini).” –Ahmed Rashid, best-selling author of Taliban: Militant Islam and Oil in Central Asia and Descent Into Chaos.

“A Template For Peace” –Bloomsbury Review

Greg Mortenson has provided a Three Cups of Tea Reading Guide and a Question & Answer Interview for use in book clubs, interviews, classrooms, etc.

Kisah ini berawal dari sebuah janji..

JANJI

Greg mengamati dan menyimak ketika anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Pakistan untuk mengawali hari sekolah. Dia melihat anak perempuan Twaha yang berusia delapan tahun, Jahan, berdiri tegap dibalik kerudung ketika bernyanyi. Setelah lagu berakhir, mereka duduk di tanah dan mulai menulis tabel perkalian. Beberapa anak, seperti Jahan, punya papan yang mereka tulisi dengan ranting dicelup lumpur. Yang lainya menulis di tanah dengan ranting. “Bisakah kau bayangkan anak-anak kelas empat di Amerika, sendirian, tanpa guru, duduk tenang dan mengerjakan pelajaran mereka?” tanya Greg di kemudian hari. “Hatiku seakan terkoyak … Aku tahu, aku harus berbuat sesuatu.

Tapi, apa yang bisa dilakukannya?sisa uang hampir tidak mencukupi untuk pergi dengan jip dan bus ke ibukota Pakistan, naik pesawat dan pulang. Akan tetapi, pasti dia bisa melakukan sesuatu.

berdiri di sebelah Haji Ali, memandangi pegunungan yang hendak didakinya setelah mengintari setengah belahan dunia, mendadak Greg merasa bahwa mencapai puncak K2 untuk meletakkan kalung tidaklah begitu penting. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu untuk menghormati adiknya, Christa. Dia meletakkan kedua tangan di bahu Haji Ali. “Aku akan membangun sekolah,” ujarnya. “Aku berjanji.”

 

Sebuah buku yang akhirnya menjadi salah satu pilihanku saat bazar Gramedia Maret 2011, dengan harga Rp.20.000, membuat airmata berdesakan tuk ikut membaca kisah perjalanan Greg memperjuangkan sekolah tuk anak-anak di Pakistan. Terharu, bahagia, dan ingin melakukan sesuatu seperti itu, apalagi saat ku ingat bocah-bocah luar biasa di negeriku Indonesia. Mereka juga punya hak yang sama dalam pendidikan, yang juga berada dalam kondisi yang sedikit lebih sejahtera dibanding di daerah tempat Greg mengikrar janji.

Seorang Greg, aplikasi luar biasa dari asuhan ayah bundanya, hingga membuatnya begitu memprioritaskan pentingnya kehidupan melayani dan mendidik. Demprey, ayahnya Greg yang suka berpergian suatu hari berkata pada istrinya yang sedang mengandung Greg, ‘Mereka perlu guru di Tanganyika, Ayo pergi ke Afrika’. Dan mereka begitu saja pergi ke Afrika. Demprey bekerja keras membangun rumah sakit pendidikan pertama di Tanzania dan Jerene, istrinya gigih memulai Sekolah Internasional Moshi. Yang disebut Greg sebagai PPB kecil, ‘Ada dua puluh delapan kebangsaan yang berbeda, dan kami merayakan semua hari libur; Hanukkah, Natal, Diwali, Idul Fitri.’ Setelah rumah sakit dan sekolah beres, keluarga Mortenson kembali ke Amerika.

Visi tersebut dibawa Greg dalam hidup. Itu ia buktikan setelah ia tersesat dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia. Sesat yang membawa ia untuk akhirnya melakukan sesuatu hal yang menurut sederhana namun begitu luar biasa. Ia tersesat ke salah satu desa di lereng pegunungan K2, desa Korphe. Ia pria asing pertama yang tersesat, kumal dan sangat letih kemudian dirawat dengan jamuan terbaik di desa miskin oleh kepala desa. Kemudian mengetahui tidak adanya sekolah disana. Maka dimulailah perjuangan tuk membangun sekolah disana. Ia kembali ke Amerika, bekerja dan mengumpulkan uang, bahkan ia menjual apartemen, menyimpan barang di gudang sewaan, dan tidur dalam kantung tidur dalam mobilnya yang akhirnya ia jual untuk biaya keberangkatannya kembali ke Pakistan. Hingga sampai di Pakistan, usulan masih harus tertunda dan memutuskan kembali ke Amerika tuk mengumpulkan uang lagi demi terbangun sebuah sekolah di desa Korphe.

Walaupun mengalami penculikan dan mendapat kecurigaan dari warga setempat, Greg tetap kukuh dengan janjinya, hingga kini ia telah berhasil mendirikan sekolah hingga perbatasan Afghanistan. Sungguh kisah luar biasa…

Sungguh harga luar biasa dari sebuah pengasuhan. Betapa orang tua menjadi sosok terbaik dalam perjalanan kehidupan anaknya. Pengasuhan ini juga yang dibawa Greg dalam keluarganya, hingga anaknya, Amira, mendukung usaha ayah dalam melayani dan mendidik, salah satu melalui program Pennies for Peace dengan mengumpulkan uang receh dari sekolah ke sekolah untuk disumbangkan pada teman-teman seusia agar memperoleh kesempatan belajar sepertinya. Wow…luar biasa ^o^

Mari kita pun memulai….

Seven Pound

Seven PoundDirected by Gabriele Muccino
Produced by Todd Black, Jason Blumenthal, James Lassiter, Will Smith, Steve Tisch
Written by Grant Nieporte
Starring Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Michael Ealy, Barry Pepper
Music by Angelo Milli
Cinematography Philippe Le Sourd
Editing by Hughes Winborne
Studio Relativity Media Overbrook Entertainment Escape Artists
Distributed by Columbia Pictures
Release date(s) United States: December 19, 2008
United Kingdom:January 16, 2009
Running time 123 minutes
Country United States
Language English
Budget $55,000,000
Gross revenue $168,167,691

Seven Pounds is a 2008 film, directed by Gabriele Muccino. Will Smith stars as a man who sets out to change the lives of seven people. Rosario Dawson, Woody Harrelson, and Barry Pepper star. The film was released in theaters in the United States and Canada on December 19, 2008, by Columbia Pictures. Despite generally negative reviews from critics it was a box office success, grossing $168,167,691 worldwide, three times its $55 million dollar production budget.

‘Seven Pound adalah film keluaran 2008, arahan Gabriele Muccino. Will Smith sebagai seorang laki-laki yang berusaha merubah kehidupan tujuh orang. Aktor Rosario Dawson, Woody Harrelson, dan Barry Pepper. Film ini ditampilkan di teater USA dan Kanada pada 19 Desember 2008 oleh Columbia Pictures. Meskipun ditempa sejumlah kritik negatif, film ini merupakan salah satu Box Offices yang sukses, memperoleh $168.167.691 di seluruh dunia, tiga kali dari biaya produksi yang sebesar $ 55 juta dollar.”


Plot
Tim Thomas (Will Smith), reading a text message while driving, causes a car crash in which seven people died: six strangers and his fiancee, Sarah Jenson (Robinne Lee).

Alur’
Tim Thomas (Will Smith), membaca SMS sambil menyetir, menyebabkan kecelakaan mobil yang dibawanya yang menewaskan tujuh orang, salah satunya istrinya, Sarah Jenson (Robinne Lee).’

In a bid for redemption, Tim sets out to save the lives of seven good people. A year after the crash, having quit his job as an aeronautical engineer, Tim donates a lung lobe to his brother, Ben (Michael Ealy), an IRS employee. Six months later he donates part of his liver to a child services worker named Holly (Judyann Elder). After that, he begins searching for more candidates to receive donations. He finds George (Bill Smitrovich), a junior hockey coach, and donates a kidney to him, and donates bone marrow to a young boy named Nicholas (Quintin Kelley).

‘Dalam usaha menebus rasa bersalahnya, Tim berusaha untuk menyelamatkan hidup tujuh orang lain. Setahun setelah kecelakaan, Tim berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang insinyur penerbangan, Tim menyumbangkan salah satu paru-parunya kepada adiknya sendiri, Ben (Michael Ealy), seorang pegawai IRS. Enam bulan kemudian ia menyumbangkan sebagian hatinya kepada seorang gadis pekerja sosial bernama Holly (Judyann Elder). Setelah itu, ia mulai mencari calon kandidat lain yang akan menerima organ tubuhnya. Ia menemukan George (Bill Smitrovich), seorang pelatih hockey muda, dan menyumbangkan sebuah ginjal kepada George, dan menyumbangkan sumsum tulang kepada seorang bocah bernama Nicholas (Quintin Kelley).’

Two weeks before he dies, he contacts Holly and asks if she knows anyone who deserves help. She suggests Connie Tepos (Elpidia Carrillo), who lives with an abusive boyfriend. Tim moves out of his house and into a local motel, taking with him his pet box jellyfish. One night, after being beaten, Connie contacts Tim and he gives her the keys to his house and decides she is worthy.

‘Dua minggu sebelum ia mati, ia menghubungi Holly dan menanyakan jika ada orang lain yang membutuhkan bantuan. Holly menyarankan Connie Tepos (Elpidia Carrillo), seorang wanita yang hidup dengan pacarnya yang kejam. Tim pindah dari rumahnya dan tinggal di sebuah motel lokal dengan membawa peliharaannya sekotak ubur-ubur. Suatu malam, setelah mengalami pemukulan, Connie menghubungi Tim dan Tim memberikan Coonie kunci rumahnya dan memberikanya untuk wanita itu.’

He then contacts Emily Posa (Rosario Dawson), a self-employed greeting card printer who has a heart condition and a rare blood type. He spends time with her, weeding her garden and fixing her rare Heidelberg Windmill press. He begins to fall in love with her and decides that as her condition has worsened he needs to make his donation.

”Tim kemudian menghubungi Emily Posa (Rosario Dawson), seorang wirausahawan kartu ucapan yang memiliki jantung dan tipe darah yang langka. Tim menghabiskan waktu bersama dengan wanita ini, merawat kebunnya dan memperbaiki mesin pressnya ‘Heidelberg Windmill’ . Tim mulai jatuh hati pada wanita ini dan memutuskan untuk menjadikanya penerima donor organnya karena kondisi wanita semakin memburuk.’

Tim’s brother Ben tracks him down at Emily’s house, demanding that Tim return Ben’s IRS credentials. After an interlude with Emily, Tim leaves her sleeping and returns to the motel. He fills the bathtub with ice water to preserve his vital organs, climbs in, and commits suicide by pulling his box jellyfish into the water with him. His friend Dan (Barry Pepper) acts as executor to ensure that his organs are donated to Emily and Ezra. Ezra Turner receives his corneas and Emily receives his heart. Afterward, Emily meets Ezra at his concert at a park, and she feels reunited with Tim as she looks into his eyes.

‘Adik Tim, Ben mencarinya ke rumah Emily, meminta Tim untuk mengembalikan tanda pengenal IRS milik Ben. Setelah beberapa lama bersama Emily, Tim meninggalkannya saat tidur dan kembali ke motelnya. Tim mengisi bak mandi dengan air es untuk menjaga kondisi organ tubuhnya, ia kemudian masuk ke dalam bak, dan memutuskan untuk bunuh diri memasukkan ubur-ubur peliharaanya ke dalam bak mandi. TemannyaDan (Barry Pepper) bertindak sebagai orang yang bertanggung jawab memberikan organnya kepada Emily dan Ezra. Ezra Turner menerima kornea Tim dan Emily menerima jantungnya. Setelah itu, Emily bertemu Ezra di konsernya di sebuah taman, and Emily merasa terhubung dengan Tim saat ia melihat matanya.’

Production

Seven Pounds is based on a script written by Grant Nieporte under Columbia Pictures. In June 2006, Will Smith joined the studio to star in the planned film and to serve as one of its producers. In September 2007, director Gabriele Muccino, who worked with Smith on The Pursuit of Happyness (2006), was attached to direct Seven Pounds, bringing along his creative team from the 2006 film. Smith was joined by Rosario Dawson and Woody Harrelson the following December to star in Seven Pounds. Filming began in February 2008.

‘Seven Pounds difilmkan berdasarkan naskah Grant Nieporte dibawah Columbia Pictures. Pada Juni 2006, Will Smith bergabung dengan studio joined the studio untuk membintangi sebuah film dan menjadi produser dari film tersebut. Pada September 2007, sutradara Gabriele Muccino, yang bekerja sama Smith dalam The Pursuit of Happyness (2006), juga diminta untuk mengarahkan Seven Pounds, membawa tim kreatif dari film 2006. Smith bekerja sama dengan Rosario Dawson dan Woody Harrelson pada December untuk membintangu Seven Pounds. Film dimulai pada Februari 2008.

Most of the film was shot in various locations around Los Angeles, Pasadena, California and Malibu, California. Points of interest used in the film include the Travel Inn in Tujunga, California, the Colorado Bar, The Huntington Library, The Sheraton and The Pasadena Ice Skating Rink all in Pasadena, as well as Malibu Beach in Malibu.

‘Sejumlah besar lokasi film diambil di berbagai tempat di sekitar Los Angeles, Pasadena, California dan Malibu, California. Titik menarik yang digunakan dalam film ini meliputi Travel Inn in Tujunga, California, bar Colorado, Perpustakaan Huntington, Sheraton dan Pasadena Ice Skating Rink di Pasadena, serta Pantai Malibu di Malibu.’

Cast/Pemain
• Will Smith sebagai Tim Thomas, dengan identitas Ben Thomas.
• Michael Ealy sebagai Ben Thomas, adik Tim dan agen IRS.
• Barry Pepper sebagai Dan Morris, Teman Tim dan pelaksana wasiatnya.
• Rosario Dawson sebagai Emily Posa, seorang wirausaha percetakan kart ucapan dan wanita yang disukai Tim.
• Woody Harrelson sebagai Ezra Turner, seorang sales buta yang bisa bermain piano.
• Elpidia Carrillo sebagai Connie Tepos, seorang wanita yang mengalami masalah dalam hubungan dengan pacarnya.
• Judyann Elder sebagai Holly, seorang gadis petugas kebersihan.
• Bill Smitrovich sebagai George, seorang pelatih hockey muda.
• Quintin Kelly sebagai Nicholas, seorang bocah.
• Robinne Lee as Sarah Jenson, Tim’s fiancee

Dinding-Dinding Kaca

Ringkasan Buku Dinding-Dinding Kaca : Memahami Orang-Orang Autistik

Kuayun-ayunkan badan ketika dia mengayun-ayunkan badan, kukepak-kepakkan tangan ketika dia mengepak-ngepak, berteriak dan bersenandung. Kami menjulingkan mata kami pada saat yang sama, menabrakkan tubuh kami ke dinding bersama, menggigit tangan sendiri bersama-sama, membenturkan kepala kami secara serempak. Aku menjadi cerminnya.

Tak ada yang mengira, Howard Buten sang artis pantomim, penulis sejumlah novel, yang juga psikolog ini, berhasil seperti apa menjadi autistik. Dalam perjalanan panjangnya, Buten menemukan bahwa dengan meniru semirip mungkin semua gerak tubuh pasien autistik, dia bisa menarik perhatian mereka dan –yang lebih penting–mampu berempati kepada mereka. Rasa memahami ini juga menjadi jalan untuk menembus ”dinding kaca” yang mengisolasi para penyandang autisme.

Dinding-dinding Kaca adalah curahan hati Buten yang selama tiga dasawarsa bekerja dengan anak-anak autistik. Selama itu, Buten merasakan bahwa definisi dan deskripsi mengenai autisme — seperti apa dan dari mana asalnya—hanya membuat frustrasi. buten pun berusaha menemukan caranya sendiri– membuat para penyandang autisme itu menjadi hidup; membuat mereka lebih memesona dan lebih mempesona dan lebih baik.