Kiseki (I Wish)

Year: 2011

Director: Koreeda Hirokazu

Screenplay: Koreeda Hirokazu

Cinematography: Yutaka Yamazaki

Cast:  Maedi Koki, Maeda Oshiro, Odagiri Joe, Otsuka Nene, Hashizume Isao, Kiki Kirin

Runtime: 128 mins

Trailer: at nipponcinema (not subtitled)

Film’s official website: 奇跡 (in Japanese)

Seen at a screening at Vue West as part of the 2011 BFI Film Festival.

Kiseki (literally “Miracle”, but titled “I Wish” in English) is a film that belongs to the ‘slice of life’ genre. There is, however, a plot line: it revolves around two boys, Koichi and Ryu (wonderfully played by real life brothers Maeda Koki and Maeda Ohshiro), who have been living in different parts of Japan since their parents’ divorce six months prior. The older boy, Koichi, lives with his mother (Otsuka Nene) and grandparents (Hashizume Isao and Kiki Kirin) and particularly struggles to accept the separation. Ryu, meanwhile, is the eternal optimist. He is forever trying to put a positive spin on things and makes the best of the situation, something that includes parenting his indie rock-musician father (Odagiri Joe). The film, which provides only some detail on the children’s life before the divorce, hints at this being one of the reasons for the boys’ separation.

 Kiseki  (berarti ‘Keajaiban’, dalam bahasa Inggris disebut ‘I Wish’) adalah sebuah film dengan genre kisah kehidupan. Plot ceritanya berkisah tentang 2 anak alaki-laki, Koichi dan Ryu (Luar biasanya diperankan oleh 2 kakak adik sesungguhanya, Maeda Koki dan Maeda Ohshiro), yang hidup terpisah di Jepang sejak kedua orang tuanya bercerai 6 bulan yang lalu. Sang kakak, Koichi, tinggal bersama ibunya (Otsuka Nene) dan kakek-neneknya (Hashizume Isao dan Kiki Kirin) dan berusaha (sulit) untuk menerima perpisahan ini. Lain halnya dengan ryu yang optimis. Ia selalu berusaha berpikir positif terhadap semua yang terjadi dan mencari solusi yang terbaik untuk itu, seperti menjaga ayahnya yang seorang musisi rock Indie (Odagiri Joe).  Film ini, hanya mencceritakan beberapa detail tentang kehidupan anak-anak tersebut sebelum orang tuanya bercerai, petunjuk yang menyatakan kenapa anak-anak itu hidup terpisah.

 Koichi overhears that when the superfast shinkansen trains on the newly built track between Kagoshima and Fukuoka (where the boys live) pass each other for the first time, wishes will come true for anyone witnessing the event, and thus concocts a plan to meet his brother in that very spot. This is the story that drives Kiseki, yet at the heart of the film are the snippets of people’s everyday lives:  Running to school with hair still wet. Watching fava beans grow. Checking for volcanic ash in the air. Eating crumbs from the bottom of a crisp bag. Boycrushing on the kind librarian. Haggling for a discount on octopus puffs (or uttering lighthearted threats otherwise).

 Koichi mendengar bahwa saat kereta Shinkansen supercepat pada jalur yang baru dibuat antara Kagoshima dan Fukuoka (tempat tinggal mereka) bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya, permohonan yang disampaikan setiap orang akan menjadi kenyataan pada saat itu, dan kemudian ia membuat rencana untuk bertemu dengan adiknya di sebuah daerah terdekat dengan tempat pertemuan kereta itu. Ini merupakan cerita memperjuangkan mimpi, sekalipun begitu inti cerita menampakkan potongan kehidupan sehari-hari setiap orang; berlari kesekolah dengan rambut yang masih basah. Melihat Kacang fava tumbuh. Memeriksa abu vulkanik di udara. Makan remah snack yang tertinggal. Kenakalan anak-anak dengan petugas pustaka. Tawar manawar diskon untuk membeli bola-bola gurita.

 

The film initially is a little slow, although it is difficult to pinpoint where exactly the excess lies because overall Kiseki feels just right. We learn about the various characters, each with his or her own quirks in personality and unique dreams. Other than Koichi, Ryu and immediate family members, there are also boys’  friends that join them on their journey of wishes, as well as few other, more minor characters (various teachers, grandpa’s sock-fiddling pals, an old couple that has long lost contact with their daughter) that add their bit to Kiseki.

 Film ini pada awalnya sedikit lambat, namun sulit untuk menentukan bagian terpenting film karena secara keseluruhan Kiseki berjalan apa adanya. Kita belajar tentang bermacam karakter, masing-masing dengan karakteristik kepribadian dan impiannya yang unik. Berbeda dengan Koichi, Ryu dan teman-temannya, dan juga teman-teman Koichi yang bergabung dalam perjalanan impian, mereka menikmati perjalanan tersebut, dan berbagai karakter kecil lainnya (beragam guru, teman-teman kakek koichi, pasangan kakek nenek yang telah lama kehilangan kontak dengan anak perempuannya) yang memberikan tambahan untuk Kiseki.

The film’s highlight is the trip to the shinkansen meeting point, not because it is the climax that Kiseki has been aiming for, but rather because it’s such a delight to see that group of seven children make their essentially crazy plan (it is a two-day trip, ingeniously afforded by selling action figures and scouring for dropped coins under vending machines, but with no overnight accommodation prearranged) happen. Even the few adults that discover what the children have set out to do, wisely let them be without interfering: it’s the children’s own, secret adventure, possible and promising miracles for them only because they are still – for a little while longer at least – children.

Bagian terpenting dari Film adalah perjalanan menuju titik pertemuan kereta shinkansen, bukan karena ini adalah klimaks dari Kiseki yang dituju, melainkan karena ini adalah bagian yang menyenangkan untuk melihat 7 anak membuat rencana gila yang mereka nilai penting (ini merupakan perjalanan 2 hari, dengan mahir menjual barang-barang mereka dan mengumpulkan uang dari mesin penjual otomatis untuk mengumpulkan uang perjalanan, namun tanpa merencanakan penginapan mereka pada malam hari) terlaksana. Walaupun sejumlah orang dewasa berusaha untuk membantu anak-anak tersebut dalam rencana mereka, mereka dengan bijak tetap membiarkan anak-anak tersebut melakukan rencana mereka tanpa ikut serta: karena itu adalah keinginan anak-anak tersebut, petualangan rahasia, keajaiban yang mungkin terjadi dan diharapkan oleh mereka hanya karena mereka masih anak-anak-untuk dipercayai beberapa lama.

Do miracles happen? The film doesn’t really answer this question. Some of the children’s wishes do not – cannot – come true as they themselves know, but others might very well: perhaps through the miraculous power of two shinkansen trains passing each other or by the effort individuals exert in order to make their dreams come true, or, a little bit of both.

Apakah keajaiban akan terjadi? Film ini tidak benar-benar memberi jawaban dari pertanyaan ini. Beberapa harapan anak-anak tersebut tidak dapat -tidak akan- menjadi kenyataan seperti yang mereka sendiri tau, walaupun untuk beberapa diantara mereka mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan; mungkin dengan keajaiban kekuatan dari pertemuan kereta Shinkansen atau dengan usaha mereka sendiri dalam memperjuangkan impian mereka menjadi kenyataan, atau, barangkali keduanya.

Pasted from <http://alualuna.wordpress.com/2011/10/18/kiseki/#comment-105>

Yuk…nonton film ini, karena menurut ledi ini adalah film motivasi, yang mengajarkan kita bagaimana mempercayai mimpi, memperjuangkannya dan mengukuhkannya dalam diri kita, hingga mendarah daging dalam tindakan dan pikirn kita dan sehingga setiap perjuangan bisa kita nikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s