Payakumbuh City

Payakumbuh adalah sebuah kota di timur laut Bukittinggi (West Sumatra), Indonesia. Kota ini memiliki luas sekitar 80.43 km² dan populasi sebanyak 99,300 orang. Secara harfiah arti nama kota ini adalah “grassy swamp (rawa-rawa yang ditutupi rumput)”.

Payakumbuh is a city north-east of Bukittinggi (West Sumatra), Indonesia. It has an area of 80.43 km² and a population of over 99,300 people. Literally translated, the city name means “grassy swamp”.

Payakumbuh terkenal dengan pacu itik dan makanan seperti galamai, makanan ringan yang terbuat dari gula aren. Pilihan transportasi di kota ini adalah bendi, sebuah kereta kuda. Payakumbuh menghasilkan banyaj produk pertanian seperti padi, susu, ternak dan gula aren.

Payakumbuh is known for flying duck races and foods like gelamai, a sweet coconut palm sugared snack. Transport options within the city include bendi, a form of horse-cart. Payakumbuh produces a wide range of agriculture products including rice, milk, cattle and palm sugar.

http://en.wikipedia.org/wiki/Payakumbuh

Sejarah

Pemandangan jalan di Payakumbuh di akhir abad ke-19

Kota Payakumbuh terutama pusat kotanya dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang dimulai sejak keterlibatan mereka dalam perang Padri, dan kemudian kawasan ini berkembang menjadi depot atau kawasan gudang penyimpanan dari hasil tanam kopi dan terus berkembang menjadi salah satu daerah administrasi distrik pemerintahan kolonial Hindia-Belanda waktu itu.[2]

Menurut tambo setempat, dari salah satu kawasan di dalam kota ini terdapat suatu nagari tertua yaitu nagari Aie Tabik dan pada tahun 1840 Belanda membangun jembatan batu untuk menghubungkan kawasan tersebut dengan pusat kota sekarang.[3] Jembatan itu sekarang dikenal juga dengan nama Jembatan Ratapan Ibu.

Pemerintahan

Rumah assistent-resident Payakumbuh di sekitar tahun 1900

Kota Payakumbuh sebagai pemerintah daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 tanggal 19 Maret 1956, yang menetapkan kota ini sebagai kota kecil.[4] Kemudian ditindaklanjuti oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 tahun 1970 tanggal 17 Desember 1970 menetapkan kota ini menjadi daerah otonom pemerintah daerah tingkat II Kotamadya Payakumbuh. Selanjutnya wilayah administrasi pemerintahan terdiri atas 3 wilayah kecamatan dengan 73 kelurahan yang berasal dari 7 jorong yang terdapat di 7 kanagarian yang ada waktu itu, dengan pembagian kecamatan Payakumbuh Barat dengan 31 Kelurahan, kecamatan Payakumbuh Timur dengan 14 kelurahan dan kecamatan Payakumbuh Utara dengan 28 kelurahan.

Pada tahun 2008, sesuai dengan perkembangannya maka dilakukan pemekaran wilayah kecamatan, sehingga kota Payakumbuh memiliki 5 wilayah kecamatan, dengan 8 kanagarian dan 76 wilayah kelurahan.

Adapun wilayah kecamatan yang baru tersebut adalah kecamatan Lamposi Tigo Nagari, yang terdiri dari 6 kelurahan dalam kanagarian Lampasi dan Kecamatan Payakumbuh Selatan, yang terdiri dari 9 kelurahan dalam 2 kanagarian yaitu Limbukan dan Aur Kuning. Sedangkan kecamatan Payakumbuh Barat terdiri dari 22 kelurahan dalam kanagarian Koto Nan IV. Kecamatan Payakumbuh Timur terdiri dari 14 kelurahan dalam 3 kanagarian, yaitu Aie Tabik, Payobasuang dan Tiakar. Kecamatan Payakumbuh Utara terdiri dari 25 kelurahan dalam kanagarian Koto Nan Godang.[5]

Geografi

Kota Payakumbuh berada pada hamparan kaki gunung Sago, dilalui oleh 3 buah sungai yang bernama Batang Agam, Batang Lampasi dan Batang Sinama. Wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Kota ini berada dalam jarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru.

Keadaan topografi daerah kota ini terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 meter diatas permukaan laut, dan suhu rata-rata berkisar antara 26 °C serta kelembahan udara antara 45 hingga 50 %. Curah hujan per tahun sekitar 1507 mm dengan jumlah hari hujan adalah 85 hari.

Untuk penggunaan lahan di Kota Payakumbuh, sekitar 62.1 % adalah tanah kering, dengan 47.0 % merupakan usaha pertanian, 28.0% tanah bangunan dan halaman serta sisanya berupa hutan negara, dan semak belukar. Sementara penggunaan lahan untuk persawahan adalah sebesar 37.9 %.

Kependudukan

Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Tionghoa, Jawa dan Batak, dengan jumlah angkatan kerja 50.492 orang dan sekitar 3.483 orang diantaranya merupakan pengangguran[1]. Di tahun 1943 etnis Tionghoa di kota ini pernah mencapai 2.000 jiwa dari 10.000 jiwa total populasi masa itu.[6]

[sunting] Pendidikan

Pendidikan formal SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan swasta SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta SMK negeri dan swasta Perguruan tinggi
Jumlah satuan 75 20 11 5 12 2
Data sekolah di kota Payakumbuh
Sumber:[7]

Kesehatan

Untuk meningkatkan taraf kesehatan, pemerintah kota Payakumbuh telah membangun sebuah rumah sakit yang bernama Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Adnaan WD dan juga mendirikan 6 buah puskesmas dan 23 puskesmas pembantu.[8]

Selain itu di kota ini juga terdapat sebuah rumah sakit swasta yang bernama Rumah Sakit Yarsi.

Perhubungan

Stasiun kereta api Payakumbuh di sekitar tahun 1900

Kota ini termasuk kota penghubung antara kota Padang dengan kota Pekanbaru, dari kota ini dapat juga terhubung ke jalur lintas tengah Sumatera tanpa mesti melewati kota Bukittinggi. Terminal Koto Nan Ampek merupakan terminal angkutan darat yang terdapat di kota ini.

Saat ini tengah dibangun jalan lingkar luar bagian utara (10,45 km) dan selatan (15,34 km) dikenal dengan Payakumbuh Bypass untuk memudahkan akses transportasi tanpa harus melalui pusat kota dan untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Pembangunan jalan ini berasal dari dan pinjaman pemerintah pusat kepada Bank Pembangunan Asia (ADB).[9]

Perekonomian

Kota Payakumbuh sebagai kota persinggahan, menjadikan sektor jasa dan perdagangan menjadi sektor andalan. Namun sektor lain seperti pertanian, peternakan dan perikanan masih menjanjikan bagi masyarakat kota ini[10] karena didukung oleh keadaan tanahnya juga terbilang subur.

Untuk menjadikan kota ini sebagai sentra perdagangan selain dengan meningkatkan pasar-pasar tradisional yang ada selama ini, pemerintah setempat bersama masyarakatnya mencoba membangun sistem pergudangan untuk mendukung aktivitas perdagangan yang modern. Saat ini kota Payakumbuh telah memiliki sebuah pasar modern yang terletak di jantung kotanya.

Sementara industri-industri yang ada di kota ini baru berskala kecil, namun telah mampu berproduksi untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, diantaranya sulaman bordir dan songkok/peci.[11]

Pelayanan umum

Pelayanan air minum di Kota Payakumbuh yang dilayani oleh PDAM Payakumbuh yang berasal dari 3 buah sumber air yakni Mata Air Batang Tabit berkapasitas terpasang 80 liter/detik, Mata Air Sikamuruncing 10 liter/detik dan Mata Air Sungai Dareh berkapasitas 60 liter/detik. Kota Payakumbuh mempunyai tiga buah instalasi pengolahan air bersih dengan kapasitas sumber yang diproduksi sebanyak 166,779 m³/bulan dengan kebocoran sekitar 30,60%.[12]

Sementara dalam penanganan sampah, pemerintah kota memanfaatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang berada di Kelurahan Kubu Gadang, dan timbulan sampah tersebut baru dapat dikelola sebanyak 187,7 m³/hari, sehingga banyaknya sampah yang belum terlayani adalah sekitar 389,57 m³/hari.

Pariwisata

Masjid di Payakumbuh di tahun 1920-an

Salah satu sudut kota Payakumbuh

Salah satu bukit di Payakumbuh

Kota Payakumbuh dikenal memiliki makanan khas diantaranya botiah dan galamai, selain itu terdapat juga makanan khas lainnya seperti boreh rondang, kipang, rondang boluk, rondang tolua dan martabak tolua. Pada nagari Tiakar dikenal makanan khasnya bernama paniaram yaitu kue dari beras ketan di campur gula enau.

Beberapa kawasan wisata di kota ini antara lain Ngalau Indah, Ngalau Sompik, Puncak Simarajo, Panorama Ampangan dan sebagainya. Selain itu pertunjukan Pacu Itik merupakan tradisi yang setiap tahunnya diselenggarakan pada nagari-nagari yang ada dalam kota ini juga menjadi salah satu atraksi pariwisata di kota ini.

Olahraga dan Budaya

Masyarakat kota ini memiliki klub sepak bola yang dikenal dengan nama Persepak Payakumbuh yang bermarkas pada Stadion Kapten Tantawi.

Olahraga pacu kuda juga merupakan pertunjukan yang paling diminati oleh masyarakat kota ini, dan biasa setiap tahunnya diselenggarakan pada gelanggang pacuan kuda yang bernama Kubu Gadang yang sekarang menjadi bahagian dari komplek GOR M.Yamin.

Kota Payakumbuh memiliki beberapa pertunjukan tradisional, diantaranya tarian-tarian daerah yang bercampur dengan gerakan silat serta diiringi dengan nyanyian, dan biasa ditampilkan pada waktu acara adat atau pergelaran seni yang disebut dengan randai.[13] Salah satu kelompok randai yang terkenal diantaranya dari daerah Padang Alai, yang bernama Randai Cindua Mato.

Masyarakat kota Payakumbuh juga terkenal dengan alat musik jenis Talempong, yaitu sama dengan alat musik gamelan di pulau jawa, yang biasa ditampilkan dalam upacara adat, majlis perkawinan dan lain sebagainya. Selain itu alat musik lain yang masih dijumpai di kota ini adalah Saluang, yaitu sejenis alat musik tiup atau sama dengan seruling.

[sunting] Rujukan

  1. ^ a b sumbar.bps.go.id Luas Daerah dan Jumlah penduduk Kota Payakumbuh
  2. ^ Abdullah, Taufik, (2009), Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933), Equinox Publishing, ISBN 978-602-8397-50-6.
  3. ^ Reimar Schefold, P. Nas, Gaudenz Domenig, (2004), Indonesian Houses: Tradition and transformation in vernacular architecture, Vol. 1, Illustrated, ISBN 978-9971-69-292-6.
  4. ^ http://www.legalitas.org Undang-undang Nomor 8 tahun 1956 (diakses pada 27 Juni 2010)
  5. ^ http://www.payakumbuhkota.go.id Profil {diakses pada 27 Juni 2010)
  6. ^ Yoon-wah Wong, (1988), Essays on Chinese literature: a comparative approach, NUS Press, ISBN 978-9971-69-109-7.
  7. ^ nisn.jardiknas.org Rekap Data
  8. ^ http://www.depkes.go.id Profil Kesehatan Kota Payakumbuh (diakses pada 3 Juli 2010)
  9. ^ payakumbuhkota.go.id Infrastruktur
  10. ^ http://www.cps-sss.org kota Payakumbuh (diakses pada 27 Juni 2010)
  11. ^ payakumbuhkota.go.id Perdagangan (diakses pada 3 Juli 2010)
  12. ^ ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Payakumbuh (diakses pada 3 Juli 2010)
  13. ^ Phillips, Nigel, (1981), Sijobang: sung narrative poetry of West Sumatra, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-23737-6.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Payakumbuh

2 thoughts on “Payakumbuh City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s