Posted December 2003 Urang awak menjuarai peneliti muda terbaik LIPI

Re: [surau] Sang Peneliti [was: Urang awak menjuarai peneliti muda terbaik LIPI]

Alhamdulillah,

Barakallah kepada sanak Muhammad Zulfan Tajoeddin, langkanya orang
menjadi peneliti kerena memang profesi tersebut tidak komersial
disamping bahwa dana penelitan di Indonesia sangat minim.

Padahal didalam Al Quran selain penyebutan kedudukan tinggi
orang-orang yang beriman dan berilmu, juga banyak diisyaratkan untuk
memperhatikan peristiwa-peristiwa dimuka bumi ini sebagai bukti
existensi Allah dan orang-orang yang memperoleh manfaat dan petunjuk
adalah orang yang bertafakkur terhadap ayat-ayat kauniah.

Kegiatan meneliti sebetulnya juga merupakan suatu aktivitas zikr
karena mampu membuat seseorang menemukan dan mengakui kebesaran Allah.

Artikel dibawah ini walau bersifat kritik namun berfungsi sebagai
wacana untuk mendorong minat untuk terjun ke dalam dunia penelitian.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Arnoldison

——————————————————————-

Sang peneliti
Oleh Budi Rahardjo

Sebagai orang yang berkecimpung dalam pendidikan dan penelitian saya
heran mengapa di Indonesia tidak muncul peneliti-peneliti yang tangguh
yang namanya terdengar di seluruh dunia. Terkenal karena
kontribusinya, tentunya. Heran juga. Padahal katanya orang Indonesia
kalau kuliah di luar negeri banyak yang memiliki prestasi. Pengalaman
saya pun menunjukkan demikian. Ketika saya mengajar dan membimbing di
Kanada, kualitas mahasiswanya secara umum kalah dengan kualitas
mahasiswa ITB yang saya bimbing di Indonesia. Artinya bahan mentah
orang Indonesia cukup baik. Apakah kultur yang menyebabkan perbedaan?
Apakah lingkungan? Atau malah gen?

Saya coba amati beberapa hal dari peneliti luar negeri. Berikut ini
adalah cuplikan beberapa karakteristik atau sifat peneliti luar
negeri.

a.. Memiliki obsesi terhadap suatu masalah. Peneliti Barat (luar
negeri) umumnya terobsesi oleh suatu masalah, baik mulai dari kecil
ataupun mulai dari dewasa. Obsesi ini diteruskan tanpa memperdulikan
halangan-halangan dan rintangan yang ada. Hal ini juga terjadi dalam
kehidupan sehari-harinya. Ada orang yang memiliki obsesi mendaki
gunung, sehingga semua usahanya dicurahkan untuk mendaki gunung.
Ketika dia memiliki uang, maka dia akan pergi ke gunung-gunung yang
sulit didaki. Sampai ke Himalaya pun dia kejar. Obsesi ini tetap
dikejarnya meskipun dia tidak memiliki uang. Seorang yang tertarik
dengan enkripsi dan teka-teki akan ikut mencoba memecahkan rahasia
tulisan yang terdapat pada piramida Mesir. Peneliti Indonesia umumnya
tidak memiliki obsesi terhadap sebuah bidang. Mereka beralih kepada
topik-topik yang sedang ‘in’ atau yang memiliki potensi pendanaan.
Alasan demi “dapur ngebul” merupakan alasan klasik yang sering
ditemui. Akibat pindah-pindah topik ini maka tidak ditemui peneliti
yang tangguh di satu bidang.

b.. Bekerja keras. Etos kerja dari orang Barat tampaknya perlu ditiru.
Jika seorang pekerja datang terlambat, maka dia akan menambahkan waktu
kerjanya sendiri sehingga pekerjaannya dapat diselesaikan. Kalau perlu
bermalam, dia kerjakan juga. Di tempat kita, sering kita temui pekerja
yang berleha-leha, santai saja. Di kantor baca koran, kongkow-kongkow
dan rokokan saja. Kalau perlu, curi-curi waktu untuk pulang lebih
cepat. Pekerjaan ditunda-tunda.

c.. Pantang menyerah. Menghadapi tantangan, peneliti luar negeri
pantang menyerah. Dalam mencoba sesuatu ribuan percobaan dilakukan.
Edison menemukan lampu setelah ribuan kali mencoba. Banyangkan jika
dia menyerah setelah gagal pada percobaan kesepuluh. Mungkin kita
tidak punya lampu. Kegagalan di luar negeri bukan berarti aib. Ini
merupakan bagian dari penelitian. Sementara di Indonesia kegagalan
merupakan aib yang ditutup-tutupi.

d.. Mendokumentasikan kegiatan dengan baik. Peneliti luar negeri
selalu menggunakan logbook, work notes, dan catatan-catatan lainnya.
Dengan demikian penerus penelitian tidak harus mulai dari awal lagi.
Bahkan logbook sering diajukan sebagai sumber informasi ketika
mendaftarkan paten. Sementara peneliti di Indonesia sering hanya
mengingat-ingat tanpa menuliskan temuannya (baik yang berhasil maupun
yang gagal). Pendokumentasian ini sangat baik sehingga kita masih bisa
membaca tulisan-tulisan atau karya ilmiah zaman dahulu.
Pendokumentasian era juga hubungannya dengan perpustakaan. Kalau kita
bandingkan di Indonesia dan di luar negeri, perpustakaan di Indonesia
sangat menyedihkan dan tidak dianggap sama sekali.

e.. Melanjutkan pekerjaan pendahulu. Peneliti Indonesia seringkali
memulai penelitian dari awal tanpa mau melanjutkan penelitian dahulu.
Seolah-olah orisinalitas merupakan hal yang paling penting. Kalau
dilihat, peneliti asing sering melanjutkan penelitian terdahulu.
Peneliti terdahulu yang dilanjutkan pekerjaannya bisa letaknya
berjauhan, berbeda negara, dan kultur. Yang penting bagi mereka adalah
memberikan kontribusi. Seringkali setelah bertahun-tahun penelitian
terhenti karena sang peneliti meninggal. Penelitian kemudian
dilanjutkan oleh peneliti berikutnya. Meninggal lagi, dan dilanjutkan
lagi. Hasil penelitian bisa mencapai tahunan. Akan tetapi perlahan dan
pasti ada kemajuan (progress).

f.. Jujur terhadap ilmu pengetahuan. Seorang peneliti yang baik akan
mendokumentasikan temuannya, baik yang berhasil dan yang tidak
berhasil. Alur penelitian yang tidak berhasil harus didokumentasikan
untuk menghindari terjerumusnya peneliti berikut ke dalam lubang
kesalahan yang sama. Peneliti yang tidak baik sering mencoba
menutup-nutupi kegagalan dengan mendokumentasikan hal-hal yang baik
saja dan melupakan kegagalan.

g.. Rajin membaca. Orang Indonesia lebih menyukai hal yang verbal.
Jika kita lihat orang asing di kendaraan umum (pesawat, kereta api)
maka mereka membawa buku dan membaca. Sementara orang Indonesia
biasanya kalau tidak tidur, ya ngobrol. Itulah sebabnya aplikasi
internet yang paling digemari di Indonesia adalah chatting (IRC, ICQ,
dan sejenisnya). Jarang melihat orang Indonesia yang senang membaca
science fiction.

h.. Tidak membutuhkan gelar. Kultur bangsa Indonesia (dan mungkin
orang Asia pada umumnya) adalah berorientasi kepada gelar formal.
Gelar sarjana lebih didambakan daripada keahlian (skill). Akibatnya
orang berburu gelar dan membeli gelar meskipun kemampuannya sangat
memalukan. Peneliti-peneliti asing tidak terlalu memperdulikan gelar.
Yang penting adalah kemampuan untuk memberikan kontribusi.

Uraian di atas tentunya pandangan subyektif dari penulis. Jika anda
memiliki pandangan lain, silahkan kirim komentar anda kepada saya. ***

Budi Rahardjo adalah doktor lulusan Universitas Manitoba, Kanada, yang
kini bekerja sebagai dosen Jurusan Teknik Elektro ITB, wakil kepala
Pusat Penelitian Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika ITB, kepala
IDNIC (Indonesia Network Information Center) untuk pendaftaran domain
name dengan akhiran .id (dot id). Tanggapan untuk tulisan-tulisannya
bisa dikirimkan ke rahard@….

Monday, December 22, 2003, 2:23:36 PM, you wrote:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s